Feb 09, 2020 18:27 Asia/Jakarta
  • John Bolton
    John Bolton

Orang terdekat Trump satu-persatu meninggalkannya, bahkan mengambil jalan berseberangan dengan Presiden AS itu. Salah satunya John Bolton, yang pernah menjabat sebagai penasehat keamanan nasional Trump antara Oktober 2018 hingga September 2019.

Bolton dikabarkan sedang menerbitkan buku mengenai Trump. Buku Bolton ini penting, karena mengungkapkan sejumlah isu sensitif setelah pemakzulan Trump yang membentur dinding, di antaranya tentang skandal Ukraina.

Buku ini muncul dua tahun setelah Michael Wolff meluncurkan karyanya berjudul "Fire and Fury: Inside the Trump White House" yang terbit awal tahun 2018. Menurut Wolff, bukunya merinci perilaku Presiden AS Donald Trump dan staf kampanye presiden 2016 serta pejabat Gedung Putih. Buku ini menyoroti deskripsi perilaku Trump, interaksi kacau di antara staf senior Gedung Putih, dan komentar tendensius tentang keluarga Trump oleh mantan Kepala Strategi Gedung Putih Steve Bannon. Trump digambarkan kurang dihargai oleh para stafnya di Gedung Putih, Wolff menyatakan bahwa "100% orang di sekitarnya" percaya Trump tidak layak untuk menjabat sebagai presiden AS. Karya dengan nafas yang hampir sama, tampaknya ditulis Bolton dengan buku barunya mengenai sepak terjang Trump.

 

Bolton dan Trump

 

Sejumlah media AS yang menjelaskan buku ini menceritakan tentang langkah Kongres AS yang menyetujui ratusan juta dolar dari pendanaan anggaran federal untuk meningkatkan kekuatan militer Ukraina. Pemerintahan Donald Trump telah dua kali mengatakan kepada Kongres AS tentang bantuan yang diberikan kepada Kiev, sekali di bulan Februari dan sekali di bulan Mei.

Tetapi tidak ada satupun pihak di Gedung Putih yang menjelaskan mengapa bantuan tersebut dihentikan. Alasannya terbongkar ketika John Bolton keluar dari lingkaran pejabat Washington. Ia menulis, "Pada Agustus 2019, Donald Trump memberi tahu penasihatnya di Gedung Putih bahwa ia berencana untuk terus memblokir bantuan militer Ukraina kepada para pemimpinnya supaya mereka membantu menyelidiki kemungkinan korupsi putra Joe Biden di Ukraina,". Mantan Wakil Presiden AS Joe Biden adalah salah satu pesaing utama Donald Trump dalam pemilu presiden.

Menyusul pengungkapan Bolton, Trump menanggapinya dalam salah satu tweetnya yang terkenal, "Seseorang yang selama bertahun-tahun tidak mendapat mosi percaya untuk jabatan duta besar tetap PBB (di bawah George W. Bush). Seseorang yang gagal untuk meraih suaranya meminta saya memberikan posisi yang tidak membutuhkan mosi kepercayaan di Senat. Saya melakukannya, tetapi sekarang dia dipecat karena banyak melakukan kesalahan. Kini dia mengungkapkan semua informasi rahasia tentang keamanan nasional dalam bukunya,". Trump dalam cuitannya mengklaim bahwa Bolton mengumbar informasi rahasia demikian demi mendongkrak penjualan bukunya.

Pernyataan Trump datang ketika memori publik dunia masih mengingat pujiannya terhadap Bolton beberapa kali sebelumnya. Analis Washington Post Philip Bump mencatat fakta ini dalam sebuah kolom dengan menulis, "Tuan Trump dalam tweet yang diterbitkan 22 Maret 2018 menulis, 'Saya senang mengumumkan bahwa John Bolton telah ditunjuk sebagai penasihat keamanan nasional baru sejak awal musim semi 2019". Selain itu, ia juga menulis, "Kinerja John Bolton sangat baik,".

Penghargaan itu tidak bertahan lama, dan hanya beberapa bulan kemudian Bolton bernasib seperti para pembantu Trump lainnya yang dipecat, termasuk mantan Penasihat Keamanan Nasional Steve Bannon yang merupakan arsitek utama kampanye Trump, mantan menlu AS, Rex Tillerson, mantan menteri pertahanan AS, James Mattis.

Meskipun Trump menyangkal masalah Ukraina ini, tapi John Kelly, mantan kepala kantor presiden AS, menanggapi pernyataan John Bolton dalam buku barunya, "Jika Bolton membuat pernyataan itu, saya akan mempercayainya. Dia adalah orang yang blak-blakan. Ketika saya berada di Gedung Putih dan setiap kali bersamanya dan presiden di ruangan itu, Bolton mengekspresikan pendapatnya tanpa tedeng aling-aling kepada presiden. "

Namun, terlepas dari klaim Trump, kubu Demokrat berhasil mendorong kasus pemakzulan Donald Trump di DPR, meskipun akhirnya Trump tetap lolos dari isu pemakzulan tersebut.

Sementara itu, Adam Schiff, seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat AS yang memimpin tim penuntut sidang Donald Trump menyerukan supaya kasusnya ditinjau ulang, dan mengatakan ia diancam oleh presiden AS.

 

Adam Schiff

 

Meskipun isu pemakzulan Trump tidak menyebabkan pengusirannya dari Gedung Putih, tapi bagaimanapun klaim Bolton dalam buku barunya sekarang telah menciptakan status khusus untuk Trump.

Senator Demokrat, Chuck Schumer percaya bahwa Senat AS seharusnya menyadari kasus Ukraina dengan mengutip bukti atau mendengarkan pernyataan John Bolton maupun mantan pejabat Trump lainnya. Itu sebabnya Demokrat ingin Bolton dipanggil untuk menyampaikan bukti dalam sidang pemakzulan Trump. Bahkan 70 persen orang Amerika percaya bahwa saksi seperti John Bolton harus dipanggil ke sidang pemakzulan Trump.

Surat Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih kepada pengacara Bolton, Charles Cooper, yang dipublikasikan Reuters memiliki beberapa konten yang dianggap "sangat rahasia" dan dapat diperkirakan memiliki "tingkat kerusakan yang sangat serius."

Kelanjutan surat ini menjelaskan, "Di bawah undang-undang federal dan perjanjian non-pengungkapan bahwa klien Anda (Bolton) sebagai orang yang telah menandatangani salah satu syarat akses ke informasi rahasia tidak dapat menerbitkan atau mempublikasikan naskah iinformasi rahasia ini,".  Jelas hal ini adalah peringatan yang diungkapkan kepada publik ketika pemakzulan Trump di Senat telah memasuki fase kritis. Pengacara Bolton, Cooper, pada gilirannya, membantah tuduhan Gedung Putih, dengan mengatakan, "Kami percaya tidak ada informasi yang dapat dikategorikan rahasia."

Meskipun Senat AS dari Partai Republik mencegah Bolton bersaksi untuk Trump, tapi pengungkapannya dalam  buku tersebut menyebabkan Senator Republik Mitt Romney menuduh presiden AS menyalahgunakan kekuasaan.  Ia menulis, "Trump bersalah atas penyalahgunaan kepercayaan publik,".

Tampaknya, tersebarnya isi buku Bolton yang kontroversial di New York Times menunjukkan bahwa politisi garis keras AS yang disebut "neocons" semacam John Bolton berada di garis depan melawan Trump. Meskipun para senator Republik memberikan suara menentang pemakzulan Trump, tetapi buku John Bolton setidaknya menunjukkan guncangan besar terhadap posisi Trump di AS, minimal untuk pemilu presiden mendatang.(PH)

 

 

Tags

Komentar