Feb 20, 2020 17:13 Asia/Jakarta
  • The Tomb of Hafez.
    The Tomb of Hafez.

Status ibu kota buku ditetapkan sejak 2001 dan diberikan setiap tahun kepada kota yang dinobatkan oleh UNESCO dalam upaya meningkatkan posisi buku dan minat membaca. Tujuan UNESCO adalah menerapkan program budaya yang terkait dengan buku dan memperkuat minat membaca dan belajar di tengah masyarakat.

Setiap tahun, UNESCO dengan bantuan tiga lembaga internasional yang bergerak di sektor industri perbukuan, memilih satu kota sebagai ibu kota buku dunia. Ketiga lembaga internasional itu bergerak di bidang penerbitan, penjualan, dan perpustakaan. Kota yang terpilih akan menyandang predikat Ibu Kota Buku Dunia mulai tanggal 23 April (Hari Buku Sedunia) hingga 22 April tahun berikutnya.

Program Ibu Kota Buku Dunia telah dilaksanakan sejak 2001 dan sudah ada 19 kota yang terpilih selama periode itu. Predikat ibu kota buku bagi sebuah kota merupakan sebuah tanggung jawab yang dipikul untuk mempromosikan budaya membaca, dan kota yang terpilih memiliki waktu satu tahun untuk melaksanakan tanggung jawabnya itu.

Republik Islam Iran sendiri juga memiliki program pemilihan ibu kota buku, yang dilaksanakan setiap tahun di luar program UNESCO. Sebagian dari ide ini terinspirasi dari proyek Ibu Kota Buku Dunia, namun dalam pelaksanaannya lebih menyesuaikan dengan kondisi aktivitas budaya di Iran.

Kementerian Budaya dan Bimbingan Islam Iran meluncurkan program Ibu Kota Buku Iran pada November 2014 atau Aban 1393 Hijriah Syamsiah. Tujuannya untuk meningkatkan budaya nasional, menggairahkan minat baca, dan menampung ide-ide inovatif.

Tahun pertama penyelenggaraan program ini, kota Ahvaz dinobatkan sebagai Ibu Kota Buku Iran 2015. Salah satu alasannya adalah peran penting Provinsi Khozestan dalam penyebaran ilmu pengetahuan dan budaya Iran. Selain itu, prakarsa yang disampaikan pihak Ahvaz mengenai program Ibu Kota Buku Iran dinilai paling baik oleh panitia.

Tahun berikutnya, Neishabur terpilih sebagai Ibu Kota Buku Iran. Neishabur terpilih dinilai dari aspek program inovatifnya, tingkat partisipasi masyarakat, program yang terorganisir dan sistematis, perhatian terhadap latar budaya masa lalu, dan penggunaan potensi sektor swasta, NGO, industri serta pusat olahraga dan budaya.

Predikat Ibu Kota Buku Iran tahun berikutnya dipegang oleh kota Bushehr dan kemudian kota Kashan dan Yadz. Baru-baru ini diumumkan bahwa untuk tahun 1399 HS (2020), kota Shiraz menjadi Ibu Kota Buku Iran serta pusat untuk mempromosikan kegiatan budaya dan buku di Republik Islam.

Shiraz terpilih sebagai Ibu Kota Buku Iran 2020 di antara lebih dari 30 nominasi, termasuk Urmia, Tabriz, Hamedan, Sabzevar, Bushehr, Babol, Bandar Abbas, dan Bojnurd. Selain itu, sepuluh desa di seluruh Iran dinobatkan sebagai Desa Mencintai Buku Tahun 2020. Desa-desa itu adalah Zavarom di Provinsi Khorasan Utara, Vadeqan di Provinsi Isfahan, Seyyedabad di Azarbaijan Barat, Bonegaz di Provinsi Bushehr, dan Alavieh di Provinsi Fars.

Juga termasuk desa Kheirabad di Provinsi Kohkiluyeh dan Boyer-Ahmad, Khorshid di Provinsi Mazandaran, Isin di Provinsi Hormozgan, Seyyedshahab di Provinsi Hamedan, dan Gerdkuh di Provinsi Yazd.

Program pemilihan ibu kota buku memiliki dampak positif untuk mendorong partisipasi lembaga-lembaga pemerintah/swasta dan masyarakat. Selama enam tahun lalu, tujuh ribu kota dan desa bersaing dalam program ini dan ada 20 ribu ide yang muncul dari para peserta, dan banyak dari ide-ide ini telah diaktualisasikan.

Para pejabat budaya di Shiraz mengumumkan bahwa 10 jaringan pecinta buku telah dibentuk di kota antara lain, kafe buku, restoran, dan taman buku. Jaringan ini telah melakukan aktivitas besar-besaran sejak tahun 1398 HS.

Shiraz memiliki 20 lembaga resmi sastra di mana beberapa di antaranya berusia 60 tahun. Kota ini juga memiliki puluhan lembaga sastra yang fokus pada buku. Di banyak bagian kota Shiraz, ada banyak perpustakaan dan lembaga budaya di masjid-masjid yang aktif melakukan kegiatannya. Para remaja dan pemuda serta berbagai elemen masyarakat memanfaatkan kapasitas masjid sebagai tempat untuk kegiatan belajar.

Dewan Kota Shiraz telah menyetujui pembangunan Taman Buku sebagai salah satu program penting kota ini untuk tahun 2020. Di antara inisiatif kota Shiraz untuk meningkatkan minat baca publik adalah mendirikan perpustakaan anak-anak di sekolah, membagikan puluhan juta rial kupon pembelian buku kepada anak-anak, membangun tempat-tempat pemimjaman buku di terminal bus dalam kota, dan mendirikan empat lembaga untuk mengumpulan dan mendistribusikan buku.

Pemanfaatan kapasitas buku dan literatur dalam pengembangan sektor pariwisata telah menjadi salah satu strategi utama kota Shiraz. Kota ini telah melaksanakan banyak event internasional untuk mengumpulkan poin dalam pemilihan Ibu Kota Buku Dunia. Event ini antara lain menggelar Pekan Budaya Jerman di Shiraz, Seminar Internasional Hari Peringatan Hafez dan Saadi, Festival Film dan Sastra Internasional pertama, dan festival cerita dan malam puisi dua tahunan.

Lalu di mana Shiraz dan apa keistimewaannya? Shiraz adalah sebuah kota yang indah dan bersejarah dan bahkan legendaris di Iran. Ia merupakan salah satu daerah paling terkenal di Iran yang telah lama menjadi tempat lahirnya budaya dan seni.

Shiraz adalah ibu kota Provinsi Fars. Luas wilayahnya sekitar 178 kilometer persegi dengan populasi hampir 2 juta jiwa dan dianggap sebagai kota terpadat keenam di Iran setelah Tehran, Mashhad, Isfahan, Tabriz, dan Karaj.

Menurut legenda, Shiraz didirikan oleh putra Tahmores dari Dinasti Pishdadian yang berkuasa di wilayah itu. Di sisi lain, berdasarkan literatur sejarah, kota ini didirikan pada abad ke-6 Hijriyah.

Kota ini tidak selalu menjadi pusat Provinsi Fars sepanjang sejarahnya. "Ada sebuah prasasti Elamite di Persepolis yang berisi nama sebuah puri bernama Tirazis atau Shirazis," kata John Limbert, seorang pakar Iran dan mantan dosen di Universitas Shiraz. Menurut temuannya serta catatan dari sumber-sumber sejarah dan bukti arkeologis lainnya, nama Shiraz ditemukan di stempel yang dipakai pada periode akhir Sasanian dan awal era Islam.

Dokumen sejarah pasca Islam mencatat bahwa kota ini adalah lingkaran yang tidak teratur pada zaman kuno, di mana terdapat berbagai pagar dan menara dan interiornya dibagi menjadi 11 bagian. Selama invasi Mongol ke Iran, kota Shiraz terselamatkan dari penghancuran dan pembantaian massal, karena para penguasa lokal bersedia memberikan upeti kepada Dinasti Mongol.

Pada abad ke-13 Masehi, kota Shiraz menjadi terkenal karena kehebatannya dalam sains, budaya, dan seni. Para penyair, sufi, dan filosof terkenal Iran dilahirkan di Shiraz dan mereka berhasil mempopulerkan nama kota tersebut.

Pada abad ke-4 dan 5 Hijriyah, Dinasti Buyid di Fars memilih Shiraz sebagai ibukotanya dan membangun masjid, istana, perpustakaan, dan benteng yang kokoh di sana.

Shiraz adalah kota Iran pertama yang mengoperasikan bus dalam kota. Shiraz, setelah Tehran, merupakan kota kedua di Iran yang memiliki bandara internasional.

Shiraz merupakan pintu gerbang ke Persepolis, yang runtuh pada abad ke-6 SM. Banyak sekali tempat wisata bersejarah di kota ini seperti Persepolis atau ibukota Kekaisaran Achaemenid di Shiraz. Tempat ini terletak di 60 km timur laut kota Shiraz di Provinsi Fars.

The Tomb of Hafez (Aramgah-e Hafiz/Makam Hafez) dan aula peringatannya (Hafezieh) adalah dua bangunan yang didirikan di tepi utara kota Shiraz, untuk mengenang penyair terkenal Persia, Hafez Shirazi.

Taman Eram Shiraz.

Di sebelah timur kota Shiraz, ada The Mausoleum Saadi atau The Tomb of Saadi yang juga dikenal sebagai makam Saadi atau Sadiyeh. Ini adalah salah satu tempat wisata utama di Shiraz. Wisatawan dalam dan luar negeri berkunjung ke tempat pemakaman ini untuk menunjukkan rasa hormat mereka kepada Saadi.

Taman Eram atau Bagh-e Eram adalah taman bersejarah di kota Shiraz, yang terdiri dari beberapa bangunan bersejarah dan kebun raya. Bukti sejarah menunjukkan bahwa taman ini dibangun atas perintah Atabak Garracheh, penguasa Dinasti Seljuk di Fars. Dari masa Dinasti Safavi dan seterusnya, Bahg-e Eram digambarkan oleh para wisatawan dalam tulisan mereka sebagai taman yang indah dan megah.

Bagh-e Eram dan bangunannya saat ini berada di dalam Shiraz Botanical Garden yang didirikan tahun 1983 HS oleh Universitas Shiraz. Taman ini terbuka untuk umum sebagai taman lanskap bersejarah. Taman Eram Shiraz adalah Situs Warisan Dunia dan dilindungi oleh Organisasi Warisan Budaya Iran.

Masjid Nasir al-Mulk yang dikenal dengan juga dikenal sebagai Masjid Pink (Merah Muda) adalah masjid tradisional di Shiraz, Republik Islam Iran. Masjid ini terletak di kawasan Gawd-i Araban, dekat Masjid Shah Cheragh dan dibangun pada masa pemerintahan Dinasti Qajar Iran.

Pembangunan dimulai pada 1876 atau 1294 H atas perintah Mirza Hasan Ali (Nasir-ol Molk), seorang penguasa Qajar dan selesai pada tahun 1888 atau 1305 H. Masjid Nasir al-Mulk tercatat sebagai salah satu monumen nasional Iran pada tanggal 30 Khordad 1358 HS dengan nomor registrasi 396. (RM)

 

Tags