Mar 28, 2020 23:56 Asia/Jakarta
  • Komando Medis Angkatan Darat AS, Fort Detrick di Maryland.
    Komando Medis Angkatan Darat AS, Fort Detrick di Maryland.

Amerika Serikat memiliki anggaran militer dan angkatan bersenjata terbesar di dunia. AS selalu mengembangkan kemampuan militernya di dua bidang yang berbeda.

Militer AS seperti pasukan negara lain, mengembangkan senjata-senjata konvensional yang mencakup artileri, tank, kendaraan lapis baja, pesawat tempur, semua jenis kapal perang, kapal selam, dan sejenisnya. Persenjataan lain yang dikembangkan militer AS adalah senjata non-konvensional yaitu senjata nuklir, kimia, dan biologi.

Selama Perang Dingin dan bahkan setelahnya, AS melakukan banyak investasi untuk pengembangan senjata non-konvensional serta memiliki arsenal senjata nuklir dan kimia yang besar. Program militer AS yang paling tidak manusiawi adalah pengembangan senjata biologis. Senjata non-konvensional ini dikategorikan anti-kemanusiaan dan dipakai untuk pemusnahan massal.

Senjata biologis termasuk semua jenis mikroorganisme (bakteri, virus, dan jamur) atau racun (senyawa toksik yang dihasilkan oleh mikroorganisme), yang dapat digunakan untuk membunuh atau melumpuhkan orang. Agen biologi ini dapat dipakai untuk membunuh satu individu atau memusnahkan ribuan orang.

Jika lingkungan telah terkontaminasi dengan agen biologi, ia dapat menimbulkan ancaman jangka panjang dan sangat luas terhadap populasi manusia. Saat ini, contoh nyata dan belum pernah terjadi sebelumnya selama beberapa dekade terakhir adalah penyebaran global virus Corona (COVID-19) dalam beberapa bulan ini.

Serangan senjata biologis ini dapat berupa penyebaran bakteri baru yang mematikan di tengah masyarakat, penyebaran virus dengan penularan yang sangat cepat, dan pencemaran sumber daya air suatu negara dengan puluhan kilo organisme mikroba.

Mantan Menteri Pertahanan AS, William Cohen menyatakan bahwa sebuah serangan bioterorisme dengan 100 kilogram bubuk anthrax akan berakibat dua sampai enam kali lipat lebih fatal dari satu bom nuklir tunggal dengan kekuatan satu megaton.

Konvensi Jenewa 1925 dan Konvensi Senjata Biologis 1975 melarang produksi dan pengembangan senjata biologis atau mikroba.

Militer AS memulai penelitian dan pengembangan senjata biologis sebelum pecahnya Perang Dunia II. Pada tahun 1943, Komando Medis Angkatan Darat AS membuka laboratorium senjata biologis dengan anggaran lebih dari 1 juta dolar di pangkalan militer Fort Detrick di Maryland.

Misi dari program ini adalah mengembangkan mekanisme pertahanan terhadap serangan biologis dan mempersiapkan serangan balasan dari jenis yang sama. Setelah berakhirnya Perang Dunia II pada 1945, laboratorium-laboratorium di pangkalan Fort Detrick mulai meneliti banyak patogen (bahan yang menimbulkan penyakit).

Pasca Perang Dunia II, penelitian ini semakin diperluas setelah memperoleh suntikan dana besar dari pemerintah AS. Militer AS juga mulai melakukan percobaan pada manusia. Berbagai jenis virus dan bakteri di pusat laboratorium militer ini diuji pada manusia, yang kadang-kadang mereka bahkan tidak tahu apa yang sedang diujikan.

Selain menerapkan hasil penelitiannya di berbagai wilayah dunia, termasuk Afrika, Vietnam, Kuba, Korea Utara, dan Eropa, ribuan personel militer AS dan warga sipil juga menjadi sasaran percobaan senjata biologis negaranya.

Program ini dikembangkan di di pangkalan Fort Detrick sampai tahun 1969. Setelah periode itu, AS terlihat telah meninggalkan senjata biologis dan kegiatan riset di bidang ini. Laboratorium di Fort Detrick secara lahiriyah diubah fungsinya menjadi pusat produksi vaksin dan pencegahan penyakit menular serta pusat riset untuk berbagai penyakit.

Namun, itu hanya sebuah kamuflase dan pemerintah AS tetap mengembangkan senjata biologis secara diam-diam. Setelah peristiwa 11 September, pemerintahan neokonservatif George W. Bush secara tak terduga mengalokasikan dana 43 miliar dolar untuk kegiatan riset senjata biologis baru. Sebagian besar dana itu digunakan untuk laboratorium di pangkalan Fort Detrick.

Para pejabat AS mengangkat isu pengiriman surat yang berisi bubuk anthrax untuk meyakinkan rakyat dan Kongres sehingga memperoleh kucuran dana untuk pengembangan senjata biologis. Pemerintah mengklaim musuh telah menggunakan senjata biologis untuk menyerang AS.

Lewat keputusan pemerintahan Bush, Angkatan Darat AS mengganti Institut Militer untuk Penyakit Menular di Fort Detrick, dengan laboratorium baru yang akan menjadi komponen kampus biodefense yang dioperasikan oleh beberapa lembaga. Militer mengklaim bahwa laboratorium itu untuk melanjutkan riset yang hanya dimaksudkan untuk pertahanan dari ancaman biologis.

Sekitar 1.800 pakar dan ilmuwan bekerja untuk mengembangkan agen biologi seperti bakteri dan virus di Fort Detrick. Namun, militer AS mengaku bahwa laboratorium di Fort Detrick berfungsi untuk membuat vaksin dan program pertahanan untuk menangkal serangan biologis.

Tetapi, profesor hukum internasional di University of Illinois, Francis Boyle menuduh kegiatan di Fort Detrick mencakup memperoleh, menumbuhkan, memodifikasi, menyimpan, mengemas dan menyebarkan patogen klasik dan hasil kayasa secara genetika.

Menurutnya, kegiatan-kegiatan itu serta studi terencana tentang sifat-sifat patogen ketika dipersenjatai, adalah salah satu ciri khas program senjata ofensif."

Mengenai kegiatan yang dilakukan di Fort Detrick, Mark Wheelis, dosen senior di Divisi Mikrobiologi Universitas California, mengatakan bahwa ini tidak perlu ditanyakan dan jelas bahwa mereka sedang mengembangkan kemampuan senjata biologis ofensif.

"Kami sedang mengembangkan patogen baru untuk berbagai tujuan. Kami akan mengembangkan cara baru untuk mengemasnya dan cara baru menyebarkannya. Kami akan mengeraskan mereka pada degradasi lingkungan. Kami akan siap melakukan serangan ofensif jika kami menginginkannya," ujarnya.

Sebagai langkah pertama, pemerintah AS menguji coba agen biologis ini terhadap warganya sendiri terutama kelompok minoritas dan tahanan. Pada 1932, Badan Pelayanan Kesehatan Publik AS menguji coba tahap final dari bakteri sifilis terhadap 300 warga kulit hitam di Alabama. Mereka sama sekali tidak diberitahu tentang itu dan mengira pemerintah sedang memberikan pelayanan medis kepadanya. Orang-orang tersebut terjangkit sifilis dan meninggal dunia dengan tragis.

Pada 1940, 400 tahanan di penjara Chicago terjangkit penyakit malaria dengan tujuan menganalisa reaksi obat baru untuk penyakit tersebut. Pada 1951, Kementerian Pertahanan AS (Pentagon) memulai uji coba virus dan bakteri pembawa penyakit di luar laboratorium dan kegiatan ini berlangsung sampai tahun 1969.

Pada 1977, Divisi Riset Ilmiah dan Kesehatan Senat mengkonfirmasi bahwa 239 wilayah pemukiman di AS terkontaminasi oleh agen biologis yang berbahaya dari tahun 1949 hingga 1969.

Dokter Hanley Watson, seorang mantan ilmuwan militer AS dalam sepucuk surat kepada situs Voltnet, mengungkapkan bahwa militer AS melakukan banyak percobaan terhadap manusia dari 1950 hingga setidaknya pertengahan tahun 1976 serta mensimulasikan serangan mikroba dan biologis di 12 wilayah AS.

Pada 1969, Kongres AS menyetujui anggaran 10 juta dolar untuk Pentagon guna memproduksi patogen yang mampu melumpuhkan sistem daya tahan tubuh manusia. Beberapa tahun kemudian yaitu sejak awal 1980-an, penyakit AIDS menyebar luas dengan karakteristik yang sama seperti pesanan Kongres AS.

Pada 1970-an, AS meningkatkan pengembangan dan produksi senjata biologis khusus untuk ras tertentu. Senjata biologis ini dimodifikasi untuk bekerja pada ras tertentu dan dirancang untuk tujuan menghapus kelompok ras tertentu.

Surat kabar The Independent dalam sebuah laporannya pada Oktober 2019 menulis, "Sekelompok ilmuwan dan pengacara memperingatkan bahwa program militer AS untuk menyebarkan virus melalui serangga, dapat mengarah pada pengembangan jenis senjata biologis baru."

AS berulang kali menggunakan agen biologis untuk melawan musuh-musuhnya. Militer AS memiliki sejarah menggunakan serangga yang terkontaminasi sebagai senjata biologisnya. Mereka AS menguji coba senjata biologis ini pada 1954. Beberapa tahun setelah uji coba ini, Uni Soviet menuduh AS menggunakan senjata biologis tersebut dalam serangannya ke Cina dan Korea Utara.

Pada 1981, pemerintah Kuba mengumumkan bahwa serangan biologis militer AS telah menginfeksi 300 ribu orang dengan penyakit demam berdarah dengue (DBD), virus yang menyebabkan kematian akibat pendarahan parah.

Meskipun menjadi anggota Biological Weapons Convention (BWC), AS secara praktis telah menjadi pelopor dalam pengembangan berbagai jenis senjata yang tidak manusiawi ini. Anehnya AS justru berlagak sebagai negara pembela konvensi tersebut.

Pada 5 Desember 2011, Menteri Luar Negeri AS waktu itu, Hillary Clinton dalam pidatonya pada konferensi tentang revisi Konvensi Senjata Biologis di Swiss mengatakan, AS berharap adanya perhatian yang lebih besar terhadap upaya internasional untuk mengendalikan senjata biologis.

Presiden AS Barack Obama dalam pidatonya di Majelis Umum PBB pada 22 September 2011, menekankan bahwa bahaya senjata biologis menuntut perhatian internasional. "Kita harus bekerja sama untuk mengidentifikasi, mencegah, dan memerangi segala jenis bahaya biologis," katanya.

Meski demikian, pemerintah AS berulang kali telah menguji senjata biologis terhadap rakyatnya sendiri dan melakukan aksi serupa di negara lain. AS sama sekali tidak layak untuk berbicara tentang konvensi larangan senjata biologis.

Keprihatinan yang disuarakan Washington tentang pengendalian senjata biologis bertujuan untuk mengalihkan opini publik dan menutupi kegiatannya dalam mengembangkan senjata pemusnah massal ini.

Tragisnya lagi, konvensi-konvensi internasional ini tidak memiliki mekanisme penegakan dan pengawasan yang ketat. AS akan mematuhi konvensi dan perjanjian internasional selama itu menguntungkan dirinya. Mereka memiliki sejarah panjang dalam melanggar hukum internasional serta menggunakan senjata konvensional dan non-konvensional dalam perang dan dalam serangannya ke negara lain. (RM)

Tags