Apr 05, 2020 18:16 Asia/Jakarta
  • Wajah Dunia Setelah Pandemi Corona (2-Habis)

Umat manusia sedang menghadapi sebuah krisis besar setelah wabah virus Corona (COVID-19) menyebar secara cepat di dunia. Wabah ini bisa disebut sebagai sebuah tragedi global.

Mayoritas warga dunia percaya atau beranggapan bahwa virus Corona akan bertahan untuk waktu yang lama dan ini menjadi sebuah mimpi buruk bagi masyarakat dunia.

Di setiap krisis dan konflik bersenjata di dunia, sebagian dari masyarakat dunia terpukul secara ekonomi, tapi belum pernah merasakan dampak seperti yang diciptakan oleh wabah Corona, setidaknya dalam tujuh dekade terakhir (setelah Perang Dunia II).

Dalam satu bulan terakhir dan setelah jutaan orang berada dalam karantina, ekonomi global secara perlahan bergerak menuju resesi. Meskipun negara-negara mengambil langkah antisipasi, namun para pakar ekonomi memperkirakan resesi ekonomi terburuk akan terjadi dalam sejarah modern dan bahkan lebih buruk dari era resesi besar 2009.

Di samping dampak politik dan sosial akibat pandemi Corona, hal yang tak kalah penting adalah prospek ekonomi global setelah berakhirnya wabah ini. Banyak pakar dan analis percaya bahwa dengan melihat dampak buruk Corona terhadap ekonomi dunia terutama kelompok G20 – bahkan setelah berakhirnya wabah ini – maka ekonomi negara-negara serta sistem perekonomian dan perdagangan internasional akan mengalami perubahan fundamental, dan hal ini mulai terlihat dari sekarang.

Pandemi global COVID-19 diperkirakan berdampak jauh lebih buruk bagi investasi langsung di seluruh dunia daripada yang dikhawatirkan selama ini. PBB memperingatkan bahwa penyebaran cepat virus Corona akan memicu penurunan dramatis dalam investasi langsung secara global.

Konferensi PBB tentang Perdagangan, Investasi, dan Pembangunan (UNCTAD) dalam laporannya menyatakan investasi langsung global diperkirakan 40 persen lebih rendah dari proyeksi pada Januari 2020, di mana sebelumnya diharapkan tumbuh hingga lima persen tahun ini.

"Sekarang terbukti bahwa upaya mitigasi pandemi dan lockdown di seluruh dunia berdampak buruk pada semua sektor ekonomi, terlepas dari hubungan mereka dengan jaringan pasokan global. Konsensus mengatakan bahwa kebanyakan – jika tidak kita katakan semua – ekonomi utama akan mengalami resesi yang parah," kata laporan UNCTAD.

Penyebaran cepat virus Corona di Eropa dan Amerika Serikat, menunjukkan bahwa proses ini akan memberikan pukulan yang sangat besar terhadap struktur politik, sosial, ekonomi, industri, dan perdagangan Barat.

Ilustrasi pasar saham.

AS – sebagai pemimpin Barat – akan menderita lebih parah dari yang lain, terlebih penyebaran COVID-19 di negara itu, telah menyingkap kelemahan kinerja pemerintahan Trump dalam mengelola krisis, kerentanan ekonomi AS, dan ketidakefektivan sistem kesehatan mereka.

Ekonomi AS akan menghadapi tekanan jangka panjang di tengah pandemi Corona dan mendorong lonjakan angka pengangguran hingga 20 persen. Negara-negara Barat – meskipun menguasai banyak kekayaan serta menikmati kemajuan ilmiah dan keamanan – sepertinya akan takluk di hadapan sebuah musuh yang tak pernah terbayangkan yaitu virus Corona.

Pandemi ini mendorong negara-negara bahkan Uni Eropa – sebagai salah satu pelopor perbatasan terbuka antar-anggota – untuk menutup perbatasannya. Namun, sebagian pakar percaya penutupan perbatasan tidak boleh berlangsung lama.

Jika negara-negara berhasil mengontrol virus Corona di dalam wilayahnya dan kemudian menerapkan protokol baru untuk mencegah masuknya kembali Corona, maka langkah ini secara praktis akan menciptakan banyak hambatan bagi perdagangan bebas.

Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menyatakan bahwa dunia akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih dari pandemi virus Corona, dan banyak ekonomi besar dunia akan jatuh ke dalam resesi selama beberapa bulan mendatang.

Sekretaris Jenderal OECD, Angel Gurria mengatakan, "Goncangan ekonomi yang diciptakan oleh wabah Corona tercatat lebih besar daripada krisis keuangan 2008. Bahkan jika kita tidak menyaksikan resesi di seluruh dunia, kita akan melihat tidak adanya pertumbuhan atau pertumbuhan negatif di banyak negara, termasuk beberapa ekonomi besar. Jadi, tahun ini kita tidak hanya mencatat pertumbuhan yang rendah, tetapi juga membutuhkan waktu lebih lama untuk memulihkan pertumbuhan ekonomi di masa depan."

Pada dasarnya, kekhawatiran terbesar masyarakat dunia adalah efek jangka panjang dari pandemi Corona. Sebagian besar analis ekonomi memperkirakan bahwa upaya pengendalian wabah Corona termasuk social distancing akan mengurangi banyak kegiatan ekonomi.

Jadi, ekonomi dunia pasti akan mengalami resesi yang belum pernah terjadi sebelumnya, tentu saja sekarang sedang menimpa Amerika. Situasi yang lebih buruk akan terjadi di negara-negara berkembang.

Laporan internasional menunjukkan bahwa pasar negara-negara berkembang membutuhkan sekitar 2,5 triliun dolar. Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), sejauh ini 80 negara telah mengajukan permintaan pinjaman darurat dari lembaga ini.

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri AS dan dosen Universitas Harvard, Nicholas Burns menuturkan, "Pandemi COVID-19 merupakan krisis global terbesar abad ini. Tingkat keparahan dan skala krisis ini sangat luas. Krisis finansial dan ekonomi saat ini bisa melampaui resesi besar 2008-2009. Setiap krisis dapat menciptakan goncangan yang secara permanen mengubah sistem internasional dan perimbangan kekuasaan."

Sebagian analis dan pakar ekonomi dunia berspekulasi tentang kondisi ekonomi global dan ekonomi negara-negara pada periode setelah berakhirnya wabah Corona, yang mencakup berbagai masalah.

Dunia akan menyaksikan terbentuknya beberapa aliansi dan organisasi perdagangan dan ekonomi baru. Di sisi lain, dunia juga menyaksikan bubarnya beberapa organisasi perdagangan yang ada saat ini.

Peran ekonomi pemerintah diprediksi akan meningkat dengan alasan memanajemen dan mengontrol dampak buruk dari pandemi Corona di dunia. Negara-negara dunia akan lebih fokus untuk menata ekonomi di dalam negeri dan mengembangkan ekonomi nasional.

Evakuasi pasien Corona di Amerika.

Berbagai sektor ekonomi di tingkat nasional dan dunia diperkirakan akan sangat terpukul, termasuk industri transportasi, industri pariwisata, dan industri konsumen, di mana akan menghadapi tantangan serius untuk mempertahankan bisnisnya.

Resesi ekonomi yang dialami dunia akan memukul sektor energi termasuk minyak, gas, dan industri terkait dalam waktu dekat. Saat ini harga minyak mencatat penurunan tajam yang dipicu oleh lesunya permintaan di pasar dunia, karena pandemi Corona dan lumpuhnya kegiatan ekonomi di berbagai belahan dunia, terutama Cina, Eropa, dan Amerika.

Tentu saja, penurunan tajam harga juga dipicu oleh perseteruan antara negara produsen besar minyak yaitu Arab Saudi dan Rusia. Prospek permintaan minyak telah anjlok di banyak negara karena merebaknya virus Corona dan kebijakan lockdown. Beberapa pihak memperkirakan bahwa permintaan minyak akan turun antara 10 hingga 20 juta barel per hari.

Seiring mewabahnya Corona, sebagian industri besar mengalami penurunan produksi atau berhenti total, sementara industri kecil akan memiliki lebih banyak peluang untuk tumbuh. Meski demikian, para pekerja paruh waktu dan buruh telah kehilangan pekerjaan mereka untuk sementara waktu, dan ini akan meningkatkan tekanan pada pemerintah untuk memenuhi setidaknya sebagian dari kebutuhan mereka.

Kebijakan lockdown dan pembatasan pergerakan telah mendorong pertumbuhan bisnis online dan kegiatan ini pada akhirnya akan menjadi sebuah budaya bisnis. Pembatasan lalu lintas dan himbauan untuk tetap di rumah, secara drastis telah meningkatkan pemakaian internet di dunia dan ini akan berubah menjadi sebuah perilaku permanen bagi banyak orang.

Mengingat pandemi Corona masih berlanjut dan dengan tujuan memangkas biaya ekonomi, politik dan sosial, pemerintah perlu memperkuat infrastruktur komunikasi untuk kegiatan ekonomi, perkantoran, pendidikan, jasa, keuangan, perbankan, dan asuransi.

Pemerintah harus berusaha mengubah ancaman virus Corona menjadi peluang untuk meningkatkan produktivitas, melakukan desentralisasi dari kota-kota padat, mendesentralisasi industri, merampingkan birokrasi, dan memperkuat e-government. (RM)

Tags

Komentar