Apr 29, 2020 08:55 Asia/Jakarta
  • Ilustrasi petugas laboratorium senjata biologi.
    Ilustrasi petugas laboratorium senjata biologi.

Senjata biologis mencakup semua jenis mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur, atau racun dan senyawa beracun yang berasal dari mikroorganisme, yang dapat digunakan untuk membunuh atau melukai manusia.

Agen biologi ini dapat dipakai untuk membunuh satu individu atau memusnahkan ribuan orang. Sejak awal kemunculannya, misi utama penggunaan senjata biologis adalah untuk membunuh pasukan musuh dan ini merupakan model pertama pelibatan senjata jenis ini.

Pada Perang Dunia I dan II, tujuan serangan atau tindakan biologis adalah untuk membunuh musuh, tetapi sekarang muncul model baru penggunaan senjata ini yang dikenal sebagai bioterorisme.

Bioterorisme adalah penggunaan bakteri, virus, dan jamur serta racun secara sengaja untuk meneror individu, orang penting, petinggi militer, dan bahkan seorang presiden, atau untuk mengintimidasi dan meminta uang tebusan dari sebuah pemerintah.

Model lain perang biologis adalah penggunaan senjata biologis untuk menargetkan negara-negara dengan instrumen biologis di bidang pangan, peternakan, dan serangan virus, seperti yang berkembang dalam beberapa dekade terakhir.

Model perang ini bertujuan untuk memberikan pukulan besar bagi perekonomian negara-negara. Beberapa ahli strategi dan pakar biologi percaya bahwa penyebaran virus SARS di Cina pada tahun 2002 dan 2003 adalah serangan biologis yang menargetkan perekonomian Cina.

Senjata biologis memiliki ciri khusus seperti, tingkat kematian yang rendah, epidemi tinggi, tidak terdeteksi, penularan penyakit antara manusia dan hewan, tidak adanya obat dan vaksin, tidak tersedianya peralatan diagnostik, dan minimnya informasi sehingga membuat negara lain lalai dalam menghadapi model penyakit ini. Mereka biasanya memiliki angka korban yang sangat rendah dan tingkat penyebaran yang sangat tinggi.

Jika lingkungan telah terkontaminasi dengan agen biologi, ia dapat menimbulkan ancaman jangka panjang dan sangat luas terhadap populasi manusia. Saat ini, contoh nyata dan belum pernah terjadi sebelumnya selama beberapa dekade terakhir adalah penyebaran global virus Corona (COVID-19) dalam beberapa bulan ini.

Jadi, agen biologi dapat memiliki konsekuensi destruktif yang bahkan lebih tinggi dari senjata konvensional lainnya. Mantan Menteri Pertahanan AS, William Cohen mengatakan bahwa sebuah serangan bioterorisme dengan 100 kilogram bubuk anthrax akan berakibat dua sampai enam kali lipat lebih fatal dari satu bom nuklir tunggal dengan kekuatan satu megaton.

Konvensi Jenewa 1925 dan Konvensi Senjata Biologis 1975 melarang produksi dan pengembangan senjata biologis atau mikroba.

Militer AS memulai penelitian dan pengembangan senjata biologis sebelum pecahnya Perang Dunia II. Pada tahun 1943, Komando Medis Angkatan Darat AS membuka laboratorium senjata biologis dengan anggaran lebih dari 1 juta dolar di pangkalan militer Fort Detrick di Maryland.

Ilustrasi petugas laboratorium senjata biologi.

Misi dari program ini adalah mengembangkan mekanisme pertahanan terhadap serangan biologis dan mempersiapkan serangan balasan dari jenis yang sama. Setelah berakhirnya Perang Dunia II pada 1945, laboratorium-laboratorium di pangkalan Fort Detrick mulai meneliti banyak patogen (bahan yang menimbulkan penyakit).

Setelah peristiwa 11 September, pemerintahan neokonservatif George W. Bush secara tak terduga mengalokasikan dana 43 miliar dolar untuk kegiatan riset senjata biologis baru. Sebagian besar dana itu digunakan untuk laboratorium di pangkalan Fort Detrick.

Lewat keputusan pemerintahan Bush, Angkatan Darat AS mengganti Institut Militer untuk Penyakit Menular di Fort Detrick, dengan laboratorium baru yang akan menjadi komponen kampus biodefense yang dioperasikan oleh beberapa lembaga. Militer mengklaim bahwa laboratorium itu untuk melanjutkan riset yang hanya dimaksudkan untuk pertahanan dari ancaman biologis.

Militer AS mengklaim bahwa laboratorium di Fort Detrick berfungsi untuk membuat vaksin dan program pertahanan untuk menangkal serangan biologis.

Tetapi, profesor hukum internasional di University of Illinois, Francis Boyle menuduh kegiatan di Fort Detrick mencakup memperoleh, menumbuhkan, memodifikasi, menyimpan, mengemas dan menyebarkan patogen klasik dan hasil kayasa secara genetika. Menurutnya, kegiatan-kegiatan itu serta studi terencana tentang sifat-sifat patogen ketika dipersenjatai, adalah salah satu ciri khas program senjata ofensif.

Mengenai kegiatan yang dilakukan di Fort Detrick, Mark Wheelis, dosen senior di Divisi Mikrobiologi Universitas California, mengatakan bahwa ini tidak perlu ditanyakan dan jelas mereka sedang mengembangkan kemampuan senjata biologis ofensif.

Dokter Hanley Watson, seorang mantan ilmuwan militer AS dalam sepucuk surat kepada situs Voltnet, mengungkapkan bahwa militer AS melakukan banyak percobaan terhadap manusia dari 1950 hingga setidaknya pertengahan tahun 1976 serta mensimulasikan serangan mikroba dan biologis di 12 wilayah AS.

Pada 1987, Departemen Pertahanan AS mengakui bahwa meskipun Washington telah menandatangani Biological Weapons Convention (BWC), tetapi riset senjata biologis telah dilakukan di 127 pusat dan universitas.

Meski menandatangani BWC, AS secara praktis menjadi negara pelopor dalam pengembangan berbagai jenis senjata tidak manusiawi ini. Keprihatinan pemerintah AS atas penyebaran senjata biologis hanya untuk mengalihkan opini publik dan menutupi kegiatannya.

Selain memiliki puluhan laboratorium di Amerika untuk pengembangan senjata biologis, pemerintah Washington juga menaruh perhatian khusus untuk pengembangan laboratorium senjata biologis di negara lain.

Beberapa prediksi menyebutkan bahwa jumlah laboratorium itu mencapai lebih dari 200 unit di seluruh dunia. Washington memilih memindahkan laboratorium ini keluar dari Amerika untuk mencegah bencana biologis di wilayahnya.

Laboratorium biologis militer utama AS yang mampu memproduksi virus adalah laboratorium level 4 dengan tingkat keamanan maksimum. Menurut Dirjen Dewan Keamanan Nasional Rusia, Nikolai Patrushev, Pentagon sedang membangun laboratorium biologi di seluruh dunia. Laboratorium-laboratorium ini didirikan untuk membuat senjata biologis, dan ini sangat mengkhawatirkan.

Pusat Penelitian Kesehatan Masyarakat Richard Lugar di Georgia.

Di era pasca-Uni Soviet, AS mendirikan laboratorium di Ukraina, Georgia, Uzbekistan, Republik Azerbaijan, dan Kazakhstan.

Kepala Organisasi Pertahanan Sipil Iran, Gholamreza Jalali pada Maret 2020 mengatakan, “Di sekitar wilayah Iran, Rusia, dan Cina, ada sekitar 25 laboratorium level 4 milik AS dalam bentuk program kerja sama biologi, yang melakukan kegiatan rahasia di luar mekanisme pengawasan internasional. Laboratorium-laboratorium ini mampu merekayasa virus dan mengubahnya menjadi senjata biologis.”

Menurut berbagai laporan, ada 25 laboratorium biologi AS di sekitar perbatasan Cina, Kazakhstan, Kirgistan, Laos, Vietnam, Taiwan, Korea Selatan, Filipina, Thailand, dan Malaysia, dan bahkan Afghanistan dan Pakistan.

Penelitian tentang fasilitas ini menunjukkan bahwa kegiatan mereka telah keluar dari keperluan medis sejak lama dan sepenuhnya bersifat militer. Pembangunan laboratorium biologi di luar wilayah Amerika memiliki beberapa keuntungan:

Pertama, AS memiliki kesempatan untuk melakukan penelitian biologisnya tanpa membahayakan warganya. Kedua, dengan melakukan itu, AS telah melanggar perjanjian internasional dan tidak mementingkan Konvensi 1972 tentang Pelarangan Produksi dan Penggunaan Senjata Biologis.

AS secara konsisten mengabaikan mekanisme yang dipertimbangkan Rusia mengenai larangan produksi senjata biologis dan menolak untuk menandatanganinya. Sebuah konvensi telah disusun di Moskow pada 2001 dan melarang kegiatan senjata biologis di negara lain.

Ketiga, di wilayah mana pun berdirinya laboratorium semacam itu, maka mikroorganisme dan bakteri yang bermanfaat bagi lingkungan kemungkinan besar akan hancur. Kerusakan yang tidak dapat dipulihkan juga akan menimpa satwa liar dan ekologi di daerah tersebut.

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa setelah menganalisis kegiatan sebuah tim khusus yang bekerja pada senjata biologis, terungkap bahwa AS sedang mengembangkan berbagai agen biologis untuk membunuh manusia dan menyebarkan penyakit. Laboratorium untuk memproduksi senjata biologis telah beroperasi di Georgia.

Kemenhan Rusia juga menyatakan bahwa AS telah mengambil beberapa sampel dari warga Rusia yang akan digunakan untuk membuat senjata biologis di dekat perbatasan Rusia.

Igor Nikolin, mantan anggota Komisi PBB untuk Urusan Senjata Biologis dan Kimia Republik Soviet, percaya bahwa negara-negara persemakmuran harus melawan ancaman biologis Amerika.

Selain menciptakan generasi baru senjata biologis dan membuat vaksinnya, AS juga ingin mempertahankan ketergantungan negara-negara dunia pada Barat dan perusahaan farmasi mereka.

Maria Zakharova.

Kemenlu Rusia menaruh perhatian atas perluasan laboratorium biologi AS di luar negeri, khususnya di bekas negara-negara Soviet. Moskow memandang pembangunan laboratorium senjata biologis AS di Georgia sebagai pelanggaran terhadap semua konvensi internasional serta ancaman terhadap Rusia dan Cina.

Juru bicara Kemenlu Rusia, Maria Zakharova mengatakan kehadiran laboratorium yang dibiayai Pentagon di perbatasan Rusia, menyebabkan keprihatinan khusus bagi kita. Menurutnya, laboratorium biologi AS di luar negeri dapat terlibat dalam pengembangan patogen penyakit berbahaya.

“Pusat Riset Kesehatan Masyarakat Richard Lugar milik AS beroperasi di dekat kota Tbilisi, Georgia. Kompleks laboratorium ini secara resmi merupakan bagian dari sistem kendali global militer AS atas penyebaran penyakit menular yang setara dengan fasilitas serupa di sejumlah negara. Selain itu, menurut informasi yang tersedia, pejabat tinggi Pentagon mengunjunginya baru-baru ini dan menyarankan agar pihak berwenang Georgia memperluas jangkauan eksperimen di sana,” ungkap Zakharova.

“Tidak dapat disangkal bahwa Amerika menggunakan laboratorium rujukan seperti itu di negara ketiga untuk membuat dan memodifikasi berbagai patogen berbahaya, termasuk untuk keperluan militer,” tegasnya.

Dia menambahkan bahwa kita tidak dapat mengabaikan fakta bahwa infrastruktur semacam itu dengan potensi biologis yang berbahaya dibangun oleh Amerika di dekat perbatasan Rusia. (RM)

Tags