Jul 26, 2020 14:58 Asia/Jakarta
  • PM Irak Mustafa al-Kadhimi melakukan kunjungan luar negeri pertamanya ke Iran pada 21 Juli 2020.
    PM Irak Mustafa al-Kadhimi melakukan kunjungan luar negeri pertamanya ke Iran pada 21 Juli 2020.

Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi melakukan kunjungan luar negeri pertamanya ke Iran pada 21 Juli 2020 dan bertemu dengan para pejabat tinggi Republik Islam, termasuk Pemimpin Besar Revolusi Islam atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei.

Artikel ini akan menyelisik berbagai aspek penting kunjungan tersebut. Mustafa al-Kadhimi – seperti para PM Irak sebelumnya – bertemu dengan Ayatullah Khamenei selama kunjungannya ke Tehran. Pertemuan al-Kadhimi dengan Rahbar sangat penting karena di satu sisi, kebijakan makro Republik Islam meyangkut Irak langsung dijelaskan oleh pejabat tertinggi di Iran, dan di sisi lain ini mengirimkan pesan yang tegas kepada Amerika Serikat.

Kebijakan Makro Iran Mengenai Irak

Salah satu strategi Republik Islam Iran terkait Irak adalah mendukung stabilitas, keamanan, independensi, dan pembentukan pemerintahan yang kuat di Baghdad. Rahbar dalam hal ini mengatakan, “Iran menginginkan Irak yang bermartabat dan independen dengan menjaga integritas teritorialnya.”

Republik Islam Iran membuktikan strategi ini dengan aksi nyata. Iran terjun langsung membantu Irak dalam perang melawan terorisme Daesh dan kontribusi ini tidak dilupakan oleh pemerintah Baghdad.

“Iran adalah negara pertama yang mendukung Irak dalam perang melawan Daesh, dan Irak tidak akan pernah melupakan itu," kata al-Kadhimi dalam pertemuan dengan Presiden Iran Hassan Rouhani.

Iran memiliki perbatasan geografis dengan Irak sekitar 1.500 kilometer persegi dan memandang kehadiran pemerintah yang kuat dan independen di Baghdad sejalan dengan kepentingannya. Tidak seperti beberapa negara Arab dan Barat, Iran tidak menghendaki Irak yang lemah dan terlibat dalam pertikaian politik dan keamanan.

Strategi lain Republik Islam Iran mengenai Irak adalah menentang intervensi asing dalam urusan internal negara itu. Hal ini juga secara eksplisit disampaikan oleh Ayatullah Khamenei dalam pertemuannya dengan al-Kadhimi di Tehran.

Dalam hal ini, Rahbar menyampaikan beberapa masalah penting dan strategis dan mengatakan, “Iran tidak mencampuri hubungan Irak dengan Amerika Serika.” Menurutnya, para pejabat Washington ingin membangun sebuah pemerintahan di Baghdad seperti pemerintah Paul Bremer, penguasa AS di Irak pada masa-masa awal kejatuhan Saddam.

Pertemuan Ayatullah Sayid Ali Khamenei dan Mustafa al-Kadhimi di Tehran.

Irak dilanda aksi protes dalam beberapa tahun terakhir dan secara khusus sejak Oktober 2019. Sekarang setelah pemerintahan al-Kadhimi berkuasa, pihak-pihak yang menentang penguatan hubungan Baghdad-Tehran, menuding Iran melakukan intervensi dalam urusan internal Irak. Ayatullah Khamenei membantah klaim-klaim terarah ini dan menekankan bahwa Amerika-lah yang menginginkan pemerintahan yang lemah di Baghdad dan berusaha menempatkan seorang penguasa non-Irak di negara itu.

Iran mendukung peran konstruktif yang dimainkan oleh otoritas keagamaan (marja’iyah) dan pasukan relawan rakyat Hashd al-Shaabi Irak. Otoritas keagamaan memainkan peran besar dalam menjaga stabilitas dan independensi Irak, sementara Hashd al-Shaabi juga memiliki kontribusi besar dalam menjaga keamanan dan integritas teritorial Irak.

Hashd al-Shaabi lahir dari fatwa otoritas keagamaan setelah sebagian besar wilayah Irak diduduki oleh teroris Daesh. Hari ini kelompok Hashd al-Shaabi menjadi sasaran serangan pihak-pihak yang menentang independensi Irak. Oleh karena itu, Ayatullah Khamenei dalam pertemuan dengan al-Kadhimi, secara tegas menyatakan, “Hashd al-Shaabi merupakan sebuah nikmat besar lainnya di Irak yang harus dipertahankan.”

Pesan Tegas Iran untuk Amerika

Pertemuan Rahbar dengan al-Kadhimi juga memiliki pesan yang tegas kepada Amerika Serikat. Pesan penting Iran adalah pembalasan Iran terhadap AS atas kasus pembunuhan Letnan Jenderal Qasem Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis akan berlanjut. Serangan rudal terhadap pangkalan Ain al-Asad hanyalah sebuah tamparan kecil. Ini berarti pasukan AS tidak akan menikmati keamanan dan ketenangan di Irak.

Iran dan Irak Ingin Memperkuat Hubungan Bisnis

Mustafa al-Kadhimi membawa beberapa agenda dalam kunjungannya ke Tehran, termasuk masalah mediasi antara Iran dan Arab Saudi dan bahkan mediasi antara Iran dan AS. Namun, agenda utamanya adalah masalah pengembangan dan penguatan hubungan dengan Republik Islam Iran.

Hubungan antara Irak dan Iran selalu mencatat penguatan sejak jatuhnya rezim Baath, di mana transaksi perdagangan antara kedua negara mencapai 12 miliar dolar.

Akan tetapi, kedekatan ini dimusuhi oleh para penentang utama yang tergabung dalam poros Arab dan Barat. Setelah al-Kadhimi menjabat sebagai PM Irak, media-media yang berafiliasi dengan negara-negara reaksioner Arab di kawasan dan secara khusus media Arab Saudi, memulai upaya tanpa henti untuk mengusik kedekatan antara Tehran dan Baghdad.

Sebagai contoh, sejumlah media Arab mengklaim bahwa tim penasihat PM Irak sedang meninjau ulang sejumlah perjanjian bilateral dengan Tehran. Namun, pemilihan Iran sebagai destinasi pertama kunjungan luar negeri al-Kadhimi dengan sendirinya telah membantah klaim-klaim tersebut, sekaligus bukti atas tekad Baghdad dan Tehran untuk memperkuat hubungan bilateral.

Setelah tiba di Tehran, PM Irak bertemu dengan Presiden Hassan Rouhani. Dalam pertemuan itu dia mengatakan, “Saya ingin memperkuat hubungan bilateral dengan Iran di semua bidang, terlebih saat ini kita sedang menghadapi tantangan seperti pandemi virus Corona dan anjloknya harga minyak.”

Al-Kadhimi datang ke Tehran bersama sebuah delegasi tingkat tinggi yang terdiri dari pejabat Kementerian Ekonomi Irak. Ia juga didampingi oleh menteri perminyakan dan energi Irak. Ini menunjukkan bahwa Baghdad di era kepemimpinan al-Kadhimi, berusaha mempertahankan kerja samanya dengan Iran di sektor minyak, gas, dan listrik meskipun ada tekanan dari AS.

Pemerintah Irak dan Iran telah menyodorkan program untuk meningkatkan transaksi perdagangan sebesar 20 miliar dolar. Kedua pihak sepakat untuk mengimplementasikan kesepakatan-kesepakatan ekonomi yang sudah ditandatangani hampir dua tahun lalu.

PM Mustafa al-Kadhimi (kiri) dan Presiden Hassan Rouhani.

Selain sektor ekonomi, Tehran dan Baghdad juga berusaha memperkuat hubungan bilateral di bidang militer dan keamanan. Oleh sebab itu, Menteri Pertahanan Irak Juma Anad Saadoun datang ke Tehran bersama al-Kadhimi untuk menunjukkan bahwa pemerintah Irak mengejar pengembangan hubungan militer dan keamanan dengan Iran di samping kerja sama ekonomi dan perdagangan.

Seorang analis politik dari Iran, Pir Mohammad Molazehi menuturkan, “PM Irak selama kunjungannya ke Tehran, berusaha mengembangkan hubungan ekonomi dan politik dengan Iran sebagai prioritas bagi pemerintah Baghdad."

Dampak Penting dari Kunjungan al-Kadhimi

Kunjungan PM Irak ke Republik Islam Iran membawa hasil-hasil penting, salah satu hasil penting ini adalah kekalahan "kerajaan media" negara-negara Barat dan Arab. Sejak al-Kadhimi berkuasa, media-media Barat-Arab berusaha menggambarkannya sebagai sosok anti-Iran dan pro-Barat.

“Baghdad tidak akan pernah melupakan dukungan Tehran dalam perang melawan teroris Takfiri. Ini adalah fakta bahwa darah orang Iran dan Irak bercampur dalam perang menumpas Daesh, Hubungan Iran-Irak adalah sebuah hubungan historis, budaya, dan agama yang dalam dan panjang dengan berpijak pada kecintaan kepada Ahlul Bait Nabi as,” tegas Mustafa al-Kadhimi.

Sikap tegas ini menunjukkan bahwa al-Kadhimi memahami bobot dan posisi regional Republik Islam Iran serta menganggap pelemahan hubungan Baghdad-Tehran tidak menguntungkan pemerintahannya. (RM)

Tags