Jan 10, 2021 15:37 Asia/Jakarta
  • Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei.
    Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei.

Tanggal 19 Dey 1356 Hijriyah Syamsiah (9 Januari 1978), warga kota Qom, Iran menggelar demonstrasi besar-besaran untuk melawan kediktatoran rezim Shah Pahlevi.

Kebangkitan ini dipicu oleh penerbitan sebuah artikel dengan judul "Iran dan Kolonisasi Merah dan Hitam" di surat kabar Ettelaat pada 7 Januari 1978 atas perintah dinas rahasia rezim Shah (SAVAK). Artikel ini menghina kepribadian Imam Khomeini sebagai ulama dan politisi, yang melakukan kegiatan anti-rezim di tempat pengasingannya di kota Najaf, Irak.

Untuk memperingati kebangkitan rakyat Qom pada 19 Dey, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei menyampaikan pidato melalui televisi pada hari Jumat, 8 Januari 2021.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei.

Ayatullah Khamenei pertama-tama berterimakasih kepada rakyat Iran yang telah memeriahkan haul setahun gugurnya Jenderal Syahid Qasem Soleimani. Ia mengatakan, tidak ada satupun surat perintah atau edaran yang bisa menciptakan gerakan semacam ini, karena ia lahir dari kesadaran, kepedulian, dan niat yang benar.

Rahbar juga menyampaikan salamnya kepada rekan-rekan terkasih yang berpartisipasi di Iran dan di Irak, terutama di Baghdad dan beberapa kota Irak lainnya untuk mengenang gugurnya Syahid Soleimani dan Syahid Abu Mahdi al-Muhandis.

Ayatullah Khamenei juga mengenang orang-orang yang gugur di acara pemakaman Syahid Soleimani di kota Kerman, korban jatuhnya pesawat Ukraina di Tehran, kepergian ilmuwan Iran Syahid Mohsen Fakhrizadeh, dan wafatnya Ayatullah Misbah Yazdi.

“Setiap bangsa memiliki pasang surut. Titik pasang sebuah bangsa harus selalu dipertahankan. Titik pasang adalah orang-orang yang hidup dan berjuang, dan dengan niat dan tekad menunjukkan kearifan sebuah bangsa di masa-masa gentig ini; sebagaimana terjadi pada 19 Dey,” kata Rahbar.

Menurutnya, kebangkitan rakyat Qom pada 19 Dey tidak hanya disebabkan oleh kehadiran Presiden Amerika Serikat, ini merupakan puncak kemarahan rakyat karena selama 25 tahun AS memberikan berbagai tekanan terhadap mereka. AS menjadikan Iran sebagai pangkalan utamanya lewat tangan rezim tirani dan korup Pahlevi. Akibatnya tidak ada kemajuan bagi rakyat, sebaliknya kemiskinan ekonomi, ilmu pengetahuan, korupsi dan kerusakan budaya merajalela.

 

“19 Dey dapat dianggap sebagai pukulan pertama seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim as pada tubuh berhala besar. Itu adalah pukulan pertama yang dikirimkan kepada Amerika oleh orang-orang Qum dan ini terus berlanjut,” ujarnya.

“Kebangkitan 19 Dey melawan rezim Shah merupakan sebuah revolusi yang diilhami oleh doktrin agama, bukan oleh emosi. Kebangkitan ini memainkan peran penting dalam kemenangan akhir Revolusi Islam dan itulah mengapa ia juga disebut sebagai percikan pertama untuk membangunkan bangsa,” jelas Rahbar.

Ayatullah Khamenei lebih lanjut menuturkan bahwa saat ini sejumlah orang mengira jika kita berdamai dengan AS dan berteman dengannya, Iran akan menjadi surga. Tidak, lihatlah negara-negara yang menjadi korban keserakahan AS, bagaimana nasib mereka.

Soal kekacauan yang terjadi di AS saat ini, Rahbar menandaskan, “Lihat saja situasi saat ini di AS. Begitulah keadaan demokrasi mereka! Begitulah kegagalan pemilihan mereka! Ini adalah hak asasi mereka! Sesuai dengan hak asasi manusia Amerika. Setiap beberapa jam atau setiap beberapa hari, seorang warga kulit hitam Amerika dibunuh di jalanan tanpa alasan yang jelas dan tidak terlibat kejahatan apapun, dan tidak ada proses hukum terhadap pembunuhnya.”

“Nilai-nilai Amerika diejek di seluruh dunia, bahkan oleh sekutunya. Dan begitulah keadaan ekonomi mereka yang lumpuh. Ekonomi AS lumpuh dalam arti yang sebenarnya. Ada puluhan juta pengangguran yang menderita kelaparan dan tunawisma. Begitulah situasi saat ini di AS,” ungkapnya.

Di bagian lain pidatonya, Ayatullah Khamenei menyoroti konspirasi AS di kawasan dengan mengatakan, AS percaya bahwa kepentingannya terletak pada menciptakan ketidakstabilan di kawasan. Mereka menyatakan ini secara terbuka.

“Salah seorang pakar Amerika yang sangat terkenal, terang-terangan mengatakan bahwa AS tidak menginginkan stabilitas di Iran, Irak, Suriah dan Lebanon. Kami tidak ingin negara-negara ini stabil. Pada tahun 2009, AS ingin menciptakan kekacauan di Iran, dan tahun ini telah menimpa mereka sendiri,” ucapnya.

“Kehadiran kami di kawasan mengarah pada stabilitas. Kehadiran Republik Islam di kawasan terbukti telah membantu menghancurkan pemicu ketidakstabilan, seperti masalah Daesh di Irak, berbagai masalah di Suriah, dan sejenisnya. Mereka yang terlibat dalam masalah ini sangat menyadari hal tersebut. Oleh karena itu, kehadiran kami di kawasan ini adalah hal yang pasti dan akan terus berlanjut,” tegasnya.

Ayatullah Khamenei menilai keputusan parlemen dan tindakan pemerintah Iran untuk mengurangi bagian lain dari kewajiban negara ini di JCPOA, sepenuhnya benar serta rasional. Dia mengatakan, tanpa pencabutan sanksi, kembalinya Amerika Serikat ke JCPOA bisa merugikan Iran.

“Republik Islam tidak akan tergesa-gesa mengembalikan AS ke JCPOA, sebab pemulihan hak bangsa yang dirampas dan pencabutan sanksi adalah kewajiban AS dan Eropa. Jika sanksi dicabut, itu berarti AS akan kembali ke JCPOA. Tentu saja, masalah ganti rugi, yang merupakan salah satu tuntutan kami, juga akan diupayakan dalam langkah-langkah selanjutnya. Tetapi tanpa mencabut sanksi, maka kembalinya AS ke JCPOA akan merugikan negara ini,” tegasnya.

Menurut Ayatullah Khamenei, negara-negara Barat dan musuh kita berkewajiban untuk menghentikan tindakan jahat ini segera - penerapan sanksi - terhadap bangsa Iran. Ini tugas mereka. Ini adalah permusuhan yang serius dan tidak masuk akal bagi bangsa Iran. Mereka memperlihatkan permusuhan terhadap bangsa Iran, tidak hanya terhadap sistem Republik Islam dan pemerintahannya. Itu adalah tugas mereka untuk segera mengakhiri gerakan ini.

“Negara-negara Barat harus segera mencabut sanksi terhadap bangsa Iran. Ketika pihak lain gagal untuk menghormati semua komitmennya, tidak ada alasan bagi Iran untuk menghormati semua komitmennya sendirian,” pungkasnya.

Di bagian lain pidatonya, Ayatullah Khamenei mengatakan isu lain terkait dengan vaksin Corona. Pertama, vaksin yang sudah siap untuk virus Corona, telah menjadi kebanggaan, jangan diingkari. Ini adalah sumber martabat dan kebanggaan bagi bangsa Iran.

 

“Sekarang vaksin Corona Iran sudah memasuki fase uji klinis pada manusia, dan Insya Allah akan lebih disempurnakan, dan sampai sekarang dinilai berhasil, setelah ini juga akan berhasil Insya Allah. Saya berterimakasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pembuatan vaksin ini," paparnya.

Ayatullah Khamenei menegaskan, “Mengimpor vaksin Amerika atau Inggris ke negara ini dilarang. Saya telah menyampaikan ini kepada para pejabat, dan sekarang saya mengumumkannya secara terbuka. Jika Amerika mampu menghasilkan vaksin, bencana Corona ini tidak akan terjadi di negara mereka sendiri.”

“Beberapa hari yang lalu, ada 4.000 kematian di negara mereka dalam satu hari. Jika mereka tahu cara membuat vaksin dan jika perusahaan Pfizer mereka tahu cara memproduksinya, mereka dapat menggunakannya sendiri sehingga tidak akan banyak kematian di sana. Hal yang sama berlaku untuk Inggris. Mereka tidak dapat dipercaya atau diandalkan,” imbuhnya. (RM)

Tags