Jan 13, 2021 15:37 Asia/Jakarta
  • Ilustrasi praktik bioterorisme.
    Ilustrasi praktik bioterorisme.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam pidatonya pada 8 Januari 2021, memuji perjuangan para ilmuwan Iran dalam mengembangkan vaksin virus Corona, dan menyebut vaksin produksi dalam negeri sebagai kebanggaan dan kemuliaan bagi Iran.

Ayatullah Khamenei juga menegaskan, “Mengimpor vaksin Amerika atau Inggris ke negara ini dilarang. Jika Amerika mampu memproduksi vaksin, bencana Corona ini tidak akan terjadi di negara mereka sendiri. Beberapa hari yang lalu, ada 4.000 kematian di AS dalam satu hari. Di samping itu, mereka benar-benar tidak dapat dipercaya dan terkadang vaksin ini untuk percobaan terhadap bangsa-bangsa.”

“Aturan yang sama berlaku untuk Inggris. Mereka tidak dapat dipercaya atau diandalkan. Tentu saja, saya juga tidak yakin dengan Prancis setelah adanya kasus darah yang terkontaminasi, namun tidak ada larangan membeli vaksin dari negara lain,” ujarnya.

Sejak pembuatan dan pengujian vaksin Corona dimulai di seluruh dunia, banyak keraguan muncul tentang ketidakefektifan yang pasti dari vaksin-vaksin yang diproduksi ini. Pasca diluncurkan program vaksinasi massal di beberapa negara, muncul masalah bagi para penerima vaksin Covid-19, dan banyak dari ambiguitas dan efek samping vaksinasi belum terjawab dengan pasti.

Ayatullah Sayid Ali Khamenei.

Salah satu vaksin yang diproduksi di dunia dan memperoleh izin penggunaan darurat di beberapa negara adalah vaksin Pfizer Biontech. Vaksin ini dikembangkan oleh perusahaan farmasi Amerika, Pfizer bekerja sama dengan perusahaan farmasi Jerman, Biontech. Vaksin ini sekarang sedang disuntikkan di Amerika dan belahan dunia lainnya.

Meskipun kampanye dilakukan setelah vaksin Pfizer Biontech diperkenalkan kepada dunia, namun sejak awal sudah muncul kekhawatiran dan masalah bagi para penerima vaksin ini. Setelah uji klinis singat di Amerika, para pejabat perusahaan Pfizer dan Biontech mengklaim bahwa efektivitas vaksin mereka lebih dari 90 persen. Padahal belum ada kepastian tentang hal ini dan diperlukan uji coba yang lebih ekstensif.

Selain persoalan tersebut, banyak pakar medis memperingatkan bahwa vaksin Pfizer Biontech belum mengantongi izin dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan efektivitasnya belum terbukti. Juga ada keraguan tentang keefektifan vaksin ini yang disebabkan oleh efek samping pada beberapa penerima vaksin. Jadi, sampai sekarang belum ada pendapat mayoritas tentang keefektifan vaksin tersebut, dan beberapa penerima juga mengalami masalah setelah divaksin.

Menurut data sementara dan keterangan pejabat perusahan Pfizer, efek samping vaksin Covid-19 sangat mirip dengan efek samping vaksin influenza, tapi tingkatnya lebih parah. Efek samping vaksin ini berupa nyeri otot, demam tinggi, dan reaksi alergi.

Pada fase ketiga uji klinis di Amerika, empat relawan mengalami kelumpuhan wajah, yang sejak awal dikritik oleh Badan Pengawas Makanan dan Obat (FDA) AS. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS mengumumkan pada 20 Desember 2020 bahwa 6 dari 270.000 penerima vaksin Pfizer Biontech mengalami alergi yang parah dan kehidupan normal mereka terganggu.

Beberapa lembaga terpercaya di Eropa telah menerbitkan hasil survei, yang menunjukkan ketidakpercayaan warga Eropa dan bahkan staf medis terhadap vaksin yang diproduksi bersama oleh Amerika dan Jerman. Surat kabar Times Austria mencatat bahwa separuh dari perawat dan seperempat dari dokter Jerman, tidak percaya pada vaksin Pfizer Biontech dan tidak ingin disuntik vaksin itu.

Peristiwa lain yang menimbulkan kekhawatiran luas adalah kematian tiga orang di Swiss setelah disuntik vaksin Pfizer Biontech. Seorang tenaga medis di Portugal mendadak meninggal dunia sekitar 48 jam setelah menerima vaksin Pfizer Biontech. Dua orang warga panti jompo di Norwegia juga meninggal dunia setelah disuntik vaksin tersebut.

Surat kabar The Guardian melaporkan bahwa Kepala Staf Gedung Putih, Mark Meadows pada 11 Desember 2020 mendesak Kepala FDA, Stephen Hahn untuk menyetujui vaksin Covid-19 Pfizer. Meadows mengancam kepala FDA harus bersiap dipecat jika tak memberi otorisasi pada vaksin Pfizer.

Menurut The Washington Post, ancaman Meadows membuat Badan Pengawas Makanan dan Obat (FDA) mengeluarkan izin penggunaan vaksin lebih cepat dari yang seharusnya.

Dalam beberapa dekade terakhir, kita menyaksikan pengujian berbagai jenis vaksin dan obat-obatan yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan farmasi Barat di Afrika atau di tempat lain.

Hal yang mengkhawatirkan adalah sebagian besar uji coba ini dilakukan secara ilegal dengan kedok pengobatan. Orang-orang yang dites tidak menyadari efek samping vaksin dan obat tersebut pada tubuh mereka serta potensi risikonya.

Pada 22 Maret 2014, Institut Pasteur Prancis mengkonfirmasikan keberadaan virus Ebola di Guinea dan pada 23 Maret 2014, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi mengumumkan penyebaran virus Ebola di situsnya. Namun, sebagian pakar berdasarkan bukti-bukti dan dokumen menegaskan bahwa virus Ebola tersebar di Afrika karena rekayasa genetik yang dilakukan AS. Negara ini mengejar berbagai tujuan di balik penyebaran virus Ebola.

Laboratorium Pfizer.

Surat kabar The Daily Observer, koran terbesar Liberia di Afrika Barat, menerbitkan sebuah artikel ilmiah pada 2014 yang menunjukkan bahwa AS adalah pencipta dan penyebar virus Ebola. AS melalui serangkaian operasi rahasianya di Afrika dan dengan sandi, “Nota Kesepahaman 200” telah menciptakan dan menyebarkan virus Ebola.

Profesor Cyril Broderick, pakar penyakit menular dan mikroba di Liberia dalam artikelnya di The Daily Observer, mengungkapkan bahwa virus mematikan Ebola adalah salah satu dari organisme genetik yang sudah dimodifikasi (GMO), yang dibuat oleh sebuah perusahaan industri-militer di AS.

“Produsen eksklusif senjata-senjata biologi di Amerika secara spesifik bertugas mengontrol serta menguji coba virus-virus dan vaksin terkait di benua Afrika. Mereka telah membangun banyak pusat riset di Afrika khususnya di Afrika Barat sehingga terlihat sedang memberantas penyakit baru termasuk Ebola dan pembuatan vaksin atau memberikan pengobatan. Semua kegiatan ini dilakukan di bawah pengawasan pemerintah AS dan lembaga-lembaga yang berafiliasi dengan mereka” jelasnya.

Profesor Broderick menekankan bahwa seluruh uji coba rahasia yang terjadi di negara-negara Afrika dilakukan oleh perusahaan industri-militer AS. Dia mengatakan Ebola adalah organisme yang dimodifikasi secara genetik dan diuji oleh Amerika di Afrika dengan kedok distribusi vaksin.

Didirikan pada tahun 1849, perusahaan farmasi Amerika, Pfizer adalah perusahaan farmasi terbesar di dunia dan merupakan salah satu penggagas uji coba terselubung obat-obatan di Afrika.

Kantor pusat Pfizer terletak di kota New York yaitu pusat penyebaran virus Corona di Amerika! Pada dekade 1990, Pfizer mulai menguji obat Trovan yang diproduksinya atau obat anti-meningitis, pada anak-anak Nigeria. Uji coba ini dilakukan di kota Kano. Orang tua dari anak-anak Nigeria ini tidak mengetahui jenis tes tersebut dan mengapa tes ini dilakukan pada anak-anak mereka.

Akibat uji coba ini, 11 anak Nigeria kehilangan nyawa mereka. 5 anak harus segera diberikan obat dan 6 anak diberi antibiotik untuk melawan efek yang ditimbilkan oleh Trovan. Ceritanya tidak berakhir sampai di sini! Banyak anak mengalami kebutaan, tuli, dan kerusakan otak yang parah akibat menerima obat tersebut.

Pfizer dituduh melakukan uji coba ilegal di Nigeria. Pemerintah Nigeria mengatakan bahwa pihaknya tidak diberitahu tentang uji coba ini. Selama bertahun-tahun, Pfizer menolak membayar kompensasi kepada keluarga anak-anak korban, meskipun mengaku bertanggung jawab atas pelaksanaan uji coba ilegal dan melanggar hak asasi manusia di Nigeria.

The New York Times dalam sebuah artikel berjudul “Why Africa Fears Western Medicine” pada 31 Juli 2007 menulis, “Insiden yang terjadi selama uji coba obat-obatan (oleh perusahaan Barat) di Afrika selama seabad terakhir telah menimbulkan ketakutan. Penduduk Afrika mulai takut menerima obat-obatan dan vaksin kami.”

Chad, Nigeria, dan Burkina Faso adalah negara yang menderita polio, tetapi banyak dari warganya menolak vaksin polio. Mereka yakin vaksin tersebut mungkin mengandung virus AIDS atau agen sterilisasi.

Sekarang di tengah pandemi Corona, perusahaan-perusahaan farmasi Barat – yang memiliki hubungan langsung dengan pemerintah Amerika Serikat dan Eropa – kembali melirik negara-negara Afrika. AS dan Eropa tampaknya menunggu puncak wabah Corona di Benua Afrika untuk mendirikan laboratorium kematian di benua itu.

Pada April 2020, dua dokter terkemuka Prancis menyarankan vaksin untuk virus Corona diuji coba di Afrika. Pernyataan rasis para dokter ini memicu kemarahan, dan mereka dituduh memperlakukan orang Afrika seperti kelinci percobaan. Jean-Paul Mira dan Profesor Camille Locht, menilai Benua Afrika sebagai lokasi strategis untuk melakukan pengujian vaksin Corona.

Pada dekade 1980, Pusat Nasional Transfusi Darah Prancis mengekspor produk darah yang terkontaminasi dengan virus AIDS sehingga menyebabkan kematian ratusan warga Iran.Kasus infeksi HIV pertama terlihat di Iran karena transfer darah Prancis yang terkontaminasi. Skandal Prancis atas darah yang terkontaminasi dimulai pada tahun 1991 setelah publikasi artikel oleh Dr. Anne-Marie Casteret di majalah Prancis, L’Événement du jeudi.

Dalam artikel ini, Dr. Casteret mengungkapkan penjualan dan ekspor produk darah yang terinfeksi AIDS kepada pasien hemofilia, dan kemudian menerbitkan buku skandal darah (L’affaire du sang) pada tahun 1992, yang membongkar dimensi skandal ini.

Tidak ada pembayaran untuk donor darah di Prancis, tetapi ternyata beberapa pecandu narkoba di Paris menyumbangkan darahnya untuk mendapatkan sandwich dan kopi gratis. Pada 1993, setidaknya 1.800 orang Iran diketahui tertular hepatitis dan AIDS dari darah Prancis. (RM)

Tags