Jan 19, 2021 15:45 Asia/Jakarta
  • Mengenang Perjuangan Rakyat Palestina

Tanggal 19 Januari dalam kalender perjuangan rakyat Palestina melawan rezim Zionis ditetapkan sebagai Hari Gaza. Hari Gaza, sama seperti Hari Quds Sedunia, merupakan sebuah momentum untuk menyuarakan ketertindasan dan tuntutan sah rakyat Palestina kepada dunia.

Ada banyak peristiwa pahit dan pilu dalam sejarah bumi Palestina dari masa penjajahan hingga pembentukan rezim Zionis Israel. Tidak ada bentuk kejahatan yang belum dilakukan oleh Zionis terhadap rakyat Palestina selama pendudukan tanah ini. Rezim Zionis mengusir orang-orang Palestina dari kota dan desa mereka melalui pembantaian sistematis, melakukan kejahatan yang paling paling sadis untuk mengintimidasi warga Palestina, dan memaksa mereka meninggalkan tanah airnya.

Pembantaian mengerikan di Deir Yassin pada 9 April 1948, hanyalah salah satu dari rangkaian pembunuhan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Zionis terhadap rakyat Palestina. Pembantaian Deir Yassin bukanlah satu-satunya kejahatan atau pembantaian terbesar yang tercatat dalam sejarah kejahatan rezim Zionis di Palestina.

Pembantaian al-Duwaimah di kota al-Khalil dan pembantaian al-Lud merupakan bagian dari kasus kejahatan besar Israel terhadap rakyat tertindas Palestina. Dalam pembantaian tersebut, ribuan orang Palestina yang tidak bersalah – kebanyakan dari mereka wanita, anak-anak, dan orang tua – dibantai, dan orang-orang Palestina dipaksa memilih tiga opsi pahit; kematian, melarikan diri, atau meminta suaka.

Kejahatan itu membuat ratusan ribu orang Palestina terusir dari tanah airnya dan menetap di negara-negara lain. Jadi, segala bentuk terorisme mulai dari pembantaian massal, operasi militer, perang psikologis dengan berbagai cara, hingga pemindahan dan pemaksaan ratusan ribu warga Palestina untuk meninggalkan rumah mereka, tercatat dalam sejarah rezim Zionis.

Ilustrasi serangan Israel ke Jalur Gaza.

Namun, fakta yang lebih pahit dari kejahatan rezim Zionis adalah bahwa sebagian besar negara Arab menjauhkan diri dari perjuangan pembebasan al-Quds dan memilih bungkam dalam menyikapi kejahatan Israel. Pengkhianatan terbaru rezim Arab kepada rakyat Palestina adalah keputusan Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, dan Maroko, mengakui rezim penjajah al-Quds dan menormalisasi hubungan mereka dengan Israel.

Kemenangan Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) pada pemilu 2006 di Jalur Gaza merupakan titik balik dalam sejarah Palestina pasca pendudukan tanah ini. Berbeda dengan Otoritas Palestina di Ramallah, Hamas menganggap perundingan kompromi dengan Israel selama tiga dekade terakhir, tidak berguna dan memandang satu-satunya opsi untuk memerdekakan Palestina dari penjajahan Zionis adalah perlawanan.

Berkuasanya Hamas di Jalur Gaza merupakan sebuah bahaya besar bagi penjajah Zionis. Oleh karena itu, Israel pertama-tama mencoba menghancurkan Hamas dengan meneror para pemimpin dan komandan gerakan ini serta memblokade Gaza dengan bantuan dan dukungan pemerintah Mesir.

Namun, teror ini membuat Hamas dan warga Palestina yang tinggal di Gaza bertekad untuk bangkit dan melawan kejahatan Israel. Akhirnya, rezim Zionis melancarkan serangan besar-besaran di Gaza setelah gagal dalam mematahkan tekad warga Palestina melalui pembunuhan para petinggi Hamas dan blokade penuh Jalur Gaza.

Setelah kalah dari Hizbullah Lebanon pada 2006 dan runtuhnya hegemoni Israel, rezim ini membutuhkan sebuah kemenangan untuk menutupi kekalahan melawan Hizbullah dan menyemangati warga Zionis yang tinggal di tanah pendudukan. Mereka memandang agresi ke Gaza dan penghancuran Hamas sebagai peluang untuk menebus kekalahan ini.

Pejuang Hamas.

Pada 27 Desember 2008, rezim Zionis menyerang Jalur Gaza dengan operasi yang disebut Cast Lead. Mereka mengira dalam tempo 7-10 hari operasi dapat menghancurkan kubu perlawanan di Gaza. Tapi setelah 22 hari, Israel terpaksa menarik diri dari Gaza pada 17 Januari 2009 dan menderita kekalahan besar lainnya dari kubu perlawanan, dua tahun setelah Perang 33 Hari di Lebanon.

Warga Palestina yang tinggal di Jalur Gaza meraih kemenangan besar melawan rezim Zionis. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Palestina sejak era pendudukan dan tanpa dukungan negara Arab manapun, mereka berhasil melawan mesin-mesin perang Israel dan memukul mundur tentara Zionis. Beberapa pemerintah Arab bahkan berpihak kepada Israel dalam perang ini.

Kemenangan itu diraih ketika tentara Zionis membunuh ratusan warga Palestina selama pemboman besar-besaran dan penembakan di Gaza serta menghancurkan banyak infrastruktur perkotaan Gaza. Dalam Perang 22 Hari ini, 1.455 orang gugur syahid, di mana 404 orang adalah anak-anak dan 115 perempuan. Jumlah korban luka diperkirakan mencapai 5.303 orang, di mana 1.815 di antaranya anak-anak.

Menurut laporan organisasi-organisasi Palestina, 40 rumah sakit dan pusat kesehatan menjadi sasaran langsung dan target pemboman selama Perang 22 Hari. Kerugian yang diderita oleh rumah sakit dan puskesmas milik Kementerian Kesehatan Palestina mencapai 10 juta dolar. Sebanyak 15 mobil ambulans juga menjadi sasaran langsung tentara Israel.

Untuk mengetahui puncak ketidakberdayaan tentara Israel dalam melawan warga Palestina di Gaza, kita cukup melihat kembali luas Jalur Gaza yang kecil dan terkepung. Jalur Gaza terletak di bagian barat daya wilayah pendudukan Palestina, dengan luas lebih dari 360 kilometer persegi dan jumlah populasi mencapai 1,8 juta jiwa. Wilayah ini memiliki populasi terpadat di dunia.

Kejahatan brutal rezim Zionis pada 2008 terhadap warga Gaza, terjadi ketika media-media Barat dan sebagian besar media Arab menyensor kejahatan besar-besaran dan pembantaian brutal yang dilakukan Israel. Mereka menyalahkan Gerakan Hamas atas serangan ini dan memberikan informasi yang keliru kepada warganya tentang realitas perang brutal ini.

Untuk melawan propaganda ini, Republik Islam Iran – yang selalu mendukung poros perlawanan dan rakyat tertindas Palestina – menetapkan tanggal 19 Januari sebagai “Hari Nasional Gaza” pada peringatan tahun pertama Perang 22 Hari. Langkah ini bertujuan untuk mengenang kembali ketertindasan rakyat Palestina dan menyuarakan penindasan ini kepada dunia. Inisiatif ini juga untuk menghormati perlawanan 22 hari para mujahidin Gaza dalam melawan kebiadaban Israel dan mengenang perlawanan heroik ini untuk selamanya.

Perang 22 Hari di Gaza telah membawa kubu perlawanan di Gaza ke dalam perimbangan di tanah Palestina dan kawasan. Mereka berada di hadapan kubu yang memperjuangkan kompromi.

Rahbar dalam pertemuan dengan Ismail Haniyeh di Tehran. (dok)

Pasca kemenangan kubu perlawanan di Gaza, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei mengirim sebuah pesan kepada Ketua Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh.

Teks pesan Rahbar sebagai berikut, “Bismillahirrahmanir rahim. Saudara pejuang Tuan Ismail Haniyeh, Salamun 'alaikum Bima Shabartum. Kesabaran 20 hari Anda dan para mujahidin yang berani serta pengorbanan warga Gaza dalam menghadapi salah satu kejahatan perang yang paling keji di dunia dan dalam sejarah, telah mengangkat panji kemuliaan atas kepala umat Islam. Anda telah membuktikan bahwa kalbu yang penuh dengan iman kepada Tuhan dan hari kiamat serta jiwa mulia orang Muslim yang menolak kehinaan dan ketundukan pada penindasan, telah menciptakan kekuatan yang sedemikian rupa sehingga pemerintahan arogan dan tiran serta tentara yang bersenjata canggih, dibuat tidak berdaya dan terhina.”

Pemerintah Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat, memilih bungkam terhadap kejahatan rezim Zionis yang membunuh anak-anak. Pemerintah AS mencegah kecaman Dewan Keamanan dan Dewan Hak Asasi Manusia PBB terhadap Israel. Terlepas dari semua dukungan ini, rezim Zionis putus asa dan tidak berdaya dalam mengalahkan kubu perlawanan. Pembunuhan wanita dan anak-anak Palestina juga disebabkan oleh keputusasaan ini.

Hamas – sebagai pelopor gerakan perlawanan di Gaza – menguji kembali teori “rumah laba-laba” dan menyimpulkan bahwa perlawanan dan spiritualitas, di samping tindakan nyata di lapangan, dapat menghancurkan Mitos Israel Tak Terkalahkan, seperti yang dilakukan oleh Hizbullah Lebanon pada tahun 2000 dan 2006.

Perang Gaza – sama seperti Perang 33 Hari – kembali mempermalukan para aktivis pembela hak asasi manusia, termasuk komunitas internasional dan kekuatan-kekuatan besar, dan membuktikan bahwa dunia yang beradab ini masih jauh dari prinsip-prinsip HAM dan keadilan. (RM)

Tags