Feb 24, 2021 14:57 Asia/Jakarta
  • Milad Agung Sang Putra Ka'bah

Tanggal 13 Rajab adalah hari kelahiran Imam Ali bin Abi Thalib as. Ia dilahirkan pada 13 Rajab, Aamul Fiil ke-30. Prosesi kelahiran Ali penuh keajaiban dan tidak pernah terjadi sepanjang sejarah umat manusia. Ia dilahirkan di dalam Ka'bah, Rumah Tuhan.

Imam Ali as adalah putra Abu Thalib, paman Nabi dan cucu Abdul Muthalib, putra Hasyim. Ibunda beliau bernama Fatimah, putri Assad bin Abdu Manaf.

Muhammad al-Maliki mengatakan, "Ali dilahirkan di dalam Ka'bah di Mekah pada hari ketiga belas bulan Tuhan, Rajab tahun ke-30 Tahun Gajah ... Sebelum dia, tidak ada yang lahir di dalam Ka'bah dan kelahiran ini merupakan keutamaan yang diberikan Allah Swt kepada Ali as, demi menghormatinya dan meningkatkan derajatnya serta mengungkapkan martabat dan kebesaran hatinya."

Hakim Neishaburi juga mengatakan, "Kabar kelahiran Ali as di dalam Ka'bah telah sampai dalam bentuk mutawatir. Sejauh ini belum ada yang mencapai keutamaan ini."

Ali as di kemudian hari dengan perilakunya membuktikan posisinya. Dia dianggap sebagai buah sukses dari pendidikan Nabi Muhammad Saw. Karena dia adalah nafas dan jiwa Nabi Saw, saudara laki-laki dan penggantinya. Rasulullah mengenalkannya sebagai pintu ilmu dan kebijakan dan berkata, "Saya adalah kota ilmu dan Ali sebagai pintu gerbangnya. Barang siapa yang menginginkan ilmu harus memasukinya lewat pintu ini."

Faktanya, kepribadian Ali as adalah kombinasi elemen yang masing-masing mampu mengantarkan manusia ke puncak kesempurnaan.

Masa kanak-kanak Imam Ali dihabiskan di bawah asuhan dan pendidikan Rasulullah Saw. Semakin tinggi ilmu yang didapat, Rasulullah semakin memperhatikan dan mendidik Ali. Sehubungan dengan hal ini, Imam Ali berkata, 'Aku mengikutinya seperti seekor anak unta mengikuti induknya."

Setiap hari beliau menunjukkan tanda akhlaknya kepadaku dan selalu mengajakku untuk mengikutinya. Saat kanak-kanak, ia selalu mendekapku di dadanya dan menidurkanku di tempat tidurnya, ia mendekatkan tubuh sucinya ke tubuhku sehingga aku mencium wangi tubuh beliau.

Ali yang menjadi saksi khalwat Rasul bersama Tuhan, adalah tokoh Islam yang utama, ia adalah sahabat Nabi pertama. Imam Ali berkata, Rasulullah setiap tahun berkhalwat di Gua Hira. Saya selalu melihatnya dan tidak ada seorang pun selain saya yang melihatnya. Kecuali di rumah Rasul dan Khadijah, tidak ada satu orang pun yang memeluk Islam dan saya adalah orang yang ketiga. Aku menyaksikan cahaya wahyu dan kenabian, dan menghirup wangi kenabian.

Dalam kesabaran dan memberi maaf, Ali mengalahkan semua orang. Tingkat kesabaran yang paling tinggi dapat dilihat dalam Perang Jamal dan dalam memperlakukan musuh, terutama Marwan bin Hakam dan Abdullah bin Zubair. Imam, sekalipun menguasai mereka, tapi memaafkan mereka. Ali as tidak mengutuk dan menghukum siapa pun dari mereka yang terlibat dalam Perang Jamal.

Di Perang Khandaq, Imam Ali berhadap-hadapan dengan Amr ibn Abd Al Wud, jawara Quraisy terkemuka. Imam Ali berhasil menjatuhkannya ke tanah, tapi tidak membunuhnya. Lalu kembali bertarung dan mengalahkannya namun tidak membunuhnya, dan mendekati Rasulullah.

Rasulullah Saw bertanya, "Mengapa setiap kali engkau bertarung dengannya, engkau tidak membunuhnya?" Ali menjawab, ia menghina ibuku dan meludahi mukaku. Aku takut membunuhnya karena kemarahan, aku biarkan dia sampai kemarahanku reda, setelah itu kubunuh.

Keadilan adalah salah satu bagian yang paling indah dari karakter Imam Ali as. Jika Ali as tidak ingin menghormati keadilan dan lebih memilih jabatannya daripada kepentingan dunia Muslim, ia akan menjadi khalifah yang paling sukses dan paling kuat. Tetapi, ia begitu tegar di jalan kebenaran sehingga ketika saudara laki-lakinya Aqil meminta sesuatu dari Baitul Mal, ia meletakkan api di tangannya dan mengingatkannya akan azab akhirat.

Keadilan Imam Ali as adalah simbol keadilan Islam. Dalam ajaran Imam Ali as dikatakan, "Allah menjadikan keadilan sebagai penunjang manusia. Keadilan adalah cahaya Islam. Islam tanpa keadilan adalah cahaya yang tidak bercahaya."

Makam Imam Ali di kota Najaf, Irak.

Hari kelahiran Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib as diperingati di Republik Islam Iran sebagai Hari Ayah. Pada hari itu, setiap anak akan mengucapkan selamat kepada ayahnya dan memberikan hadiah kepadanya.

Hari Ayah di Iran merupakan hari libur nasional. Mereka yang memiliki kesempatan untuk menemui ayahnya, akan datang, mengucapkan selamat dan membawa hadiah buat orang yang membesarkan mereka itu. Selain itu, para istri juga biasa membelikan bunga atau bingkisan atau membuat makanan khusus untuk suaminya pada Hari Ayah.

Di akhir tahun ke-2 Hijriyah, Imam Ali as menikah dengan Putri Rasulullah Saw, Sayidah Fatimah az-Zahra as. Ia selalu mendampingi Rasulullah dalam suka dan duka demi menyebarkan Islam dan ikut dalam semua peperangan yang dihadiri Rasululllah Saw, kecuali dalam Perang Tabuk.

Imam Ali as selain dikenal karena keberaniannya, juga amat terkenal kedermawanan dan kelembutan hatinya. Ia selalu membantu dan melindungi fakir miskin, kaum tertindas, dan anak yatim.

Ketika menjadi khalifah kaum Muslim, Imam Ali as menjalankan pemerintahan dengan sangat adil. Dalam beribadah kepada Allah, ia dikenal sangat tekun dan khusyu', sampai-sampai ia tidak merasakan ada anak panah menancap di tubuhnya pada saat sedang shalat.

Salah satu hadis dari Imam Ali as adalah "Berperilakulah dengan baik kepada masyarakat, sehingga ketika engkau mati, mereka akan menangisimu dan ketika engkau hidup mereka akan baik kepadamu."

Dia adalah satu-satunya orang yang disinggung Rasulullah Saw dengan mengatakan, “Hak Ali atas umat, sama seperti hak seorang  ayah kepada putranya.” Ali adalah satu-satunya orang yang berkorban pada Lailatul Mabit, malam ketika Rasulullah Saw berhijrah dari Mekkah menuju Madinah, dan tidur menggantikan Nabi Muhammad Saw.

Dalam sebuah perjalanan, Imam Ali as melintasi rumah seorang perempuan miskin yang anak-anaknya menangis karena lapar. Sang ibu menyibukkan mereka dengan berbagai hal, kemudian memenuhi panci dengan air dan menyalakan api, sehingga itu dijadikan alasan agar anak-anaknya tertidur. Menyaksikan peristiwa itu, Imam Ali as bersama Qanbar segera pulang ke rumah dan mengambil kurma, serta memikul sekantung gandum, beras dan minyak, kemudian bergegas menuju rumah perempuan itu.

Setibanya di rumah perempuan itu, Imam Ali as meminta ijin masuk kemudian memasukkan beras dan sedikit minyak ke dalam panci untuk menyiapkan makanan. Kemudian beliau membangunan anak-anak perempuan itu serta menyuap mereka sampai kenyang. Kemudian untuk menghibur anak-anak perempuan itu beliau merangkak dan menaikkan mereka di atas punggungnya. Mereka tertawa riang. Setelah bermain, Imam Ali as menidurkan mereka dan meninggalkan rumah itu.

Qanbar bertanya, “Wahai junjunganku! Hari ini aku melihat dua hal darimu yang aku mengerti sebab dari salah satunya namun aku tidak mengerti sebab yang kedua. Pertama, kau sendiri yang membawa makanan itu di pundakmu dan tidak mengijinkanku membawanya, pasti karena besarnya pahala, akan tetapi aku tidak memahami kau merangkak dan menaikkan mereka (anak-anak itu) ke atas punggungmu.”

Imam Ali as menjawab, “Ketika aku melihat anak-anak itu, aku menyadari mereka sedang menangis karena lapar, dan debu-debu keyatiman menyelimuti mereka, aku ingin ketika aku keluar mereka kenyang dan juga debu-debu keyatiman dan ketiadaan ayah telah terhapus dari wajah-wajah mereka.”

Tags