Okt 19, 2021 11:36 Asia/Jakarta
  • Lintasan Sejarah 18 Oktober 2021
    Lintasan Sejarah 18 Oktober 2021

Qasimul Anwar Lahir

608 tahun yang lalu, tanggal 12 Rabiul Tsani 835 HQ, Sayid Qasimul Anwar, seorang penyair terkenal Iran zaman Timurian, meninggal dunia.
 
Sayid Qasimul Anwar dilahirkan di kota Tabriz, barat laut Iran. Awalnya, Sayid Qasim menetap di Herat, Afghanistan. Di kawasan itu, Sayid Qasim mengajar sastra Persia dengan jumlah murid yang sangat banyak. Akan tetapi, Pangeran Shahrukh dari Dinasti Timurian memiliki kecurigaan terhadap aktivitas Sayid Qasim.
 
Akhirnya, Sayid Qasim terpaksa meninggalkan Herat menuju Samarqand, Uzbekistan. Sejumlah karya tulis Sayid Qasimul Anwar yang berupa tulisan tangan hingga kini masih tersimpan rapi di sejumlah museum. Di antara karyanya adalah buku-buku berjudul "Anisul Arifin" dan Anisul ‘Asyiqin".
 
Kolonel Abdul Salam Arif Berkuasa di Irak
 
58 tahun yang lalu, tanggal 18 November 1963, Kolonel Abdul Salam Arif, meraih kekuasaannya di Irak melalui sebuah kudeta berdarah.
 
Dia mengebom gedung Kementrian Pertahanan Irak dan membunuh presiden Irak saat itu, Abdul Karim Qasim. Sebelumnya, Abdul Karim Qasim berhasil menjadi presiden juga setelah melakukan kudeta berdarah yang mengakhiri sistem monarkhi di Irak. Setelah Abdul Karim Qasim meraih kekuasaan, ia menyingkirkan anggota-anggota Partai Ba'ats yang sejak bulan Februari tahun itu, menduduki pos-pos sensitif di pemerintahan.
 
Namun, tiga tahun kemudian, Abdul Karim Qasim tewas dalam sebuah kecelakaan udara dan posisinya digantikan oleh saudaranya, Abdur-rahman Arif.
 
Kedubes AS di Iran tahun 1979 diduduki mahasiswa

 

 
Imam Khomeini Bebaskan Perempuan dan Kulit Hitam AS
 
42 tahun yang lalu, tanggal 27 Aban 1358 HS, Imam Khomeini ra memerintahkan pembebasan perempuan dan warga kulit hitam Amerika.
 
Dua pekan pasca pendudukan "sarang spionase" Amerika di Tehran oleh para mahasiswa pengikut garis Imam, Imam Khomeini ra mengeluarkan perintah pembebasan tawanan perempuan dan kulit hitam Amerika.
 
Imam Khomeini ra berkeyakinan bahwa perempuan dan orang-orang kulit hitam Amerika pada intinya termasuk golongan mustadh'afin di tengah masyarakat Amerika dan terpaksa harus menerima tugas yang seperti ini. Oleh karenanya, mereka harus dibebaskan.
 
Imam dalam pesannya tertanggal 26 Aban 1358 meminta kepada para mahasiswa agar mereka yang belum terbukti melakukan aksi spionase diserahkan kepada Kementerian Luar Negeri Iran dan dikeluarkan secepatnya dari Iran.
 
Menyusul perintah Imam Khomeini ra, para mahasiswa kemudian membebaskan para tawanan perempuan dan kulit hitam Amerika keesokan harinya 27 Aban 1358 HS.[]

Tags