Okt 26, 2021 12:07 Asia/Jakarta
  • Lintasan Sejarah 26 Oktober 2021

Hari ini Selasa, 26 Oktober 2021 bertepatan dengan 19 Rabiul Awal 1443 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran tanggal 4 Aban 1400 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi hari ini.

Hasan bin Buyeh Dailami Meninggal Dunia

 

1077 tahun yang lalu, tanggal 19 Rabiul Awal 366 HQ, Hasan bin Buyeh yang dipanggil dengan sebutan Rukn ad-Daulah Dailami meninggal dunia.

Hasan bin Buyeh termasuk penguasa dinasti Alu Buyeh.

Dinasti Alu Buyeh merupakan keluarga muslim Iran yang paling terkenal. Dinasti ini menguasai bagian Iran dan Irak hingga perbatasan utara Syam sejak tahun 320 HQ.

Sebagian dari penguasa Alu Buyeh berjasa dalam mengembangkan ilmu dan budaya Islam. Mereka begitu menghormati ahli sastra dan ulama di zamannya bahkan memilih para menteri dari kalangan ilmuwan. Rumah sakit Adhudi Bagdad dan puluhan rumah sakit dan sekolah termasuk peninggalan dinasti Alu Buyeh.

 

Pidato Historis Imam Khomeini ra Mengungkap UU Kapitulasi

58 tahun yang lalu, tanggal 4 Aban 1342 HS, Imam Khomeini ra menyampaikan pidato historisnya mengungkap undang-undang Kapitulasi.

Setelah pemerintah dan parlemen Iran meratifikasi undang-undang Kapitulasi pada bulan Mehr 1342, ternyata undang-undang ini tidak dipublikasikan lewat media-media. Namun beberapa waktu setelah itu, koran internal parlemen yang berisikan teks lengkap pidato, dialog para anggota parlemen dan kepala negara sampai ke tangan Imam Khomeini ra. Imam memutuskan untuk menyampaikan hakikat yang ada ini kepada masyarakat agar mereka mengetahui tragedi besar yang telah terjadi.

Imam Khomeini ra baru beberapa bulan dibebaskan dari penjara rezim Shah Pahlevi. Namun hal itu tidak menyurutkan niat beliau mengungkapkan apa yang terjadi. Imam menyampaikan pidato historisnya dengan memrotes keras ratifikasi undang-undang Kapitulasi atau pemberian kekebalan hukum kepada warga Amerika yang tinggal di Iran.

Pernyataan penting Imam dalam pidatonya pada 4 Aban 1342 HS di depan para rohaniwan dan rakyat Qom pada hakikatnya merupakan pengadilan terhadap pemerintah Amerika atas campur tangan mereka dalam urusan dalam negeri Iran, sekaligus mengungkap kejahatan Shah Pahlevi terhadap Islam dan bangsa Iran. Imam Khomeini juga mengutuk rezim Zionis Israel dan dukungan Amerika terhadapnya.

Imam Khomeini ra dalam pengumuman yang disebarkan ke seluruh penjuru Iran menyatakan ratifikasi Kapitulasi bertentangan dengan Islam dan al-Quran dan sikap ini sama dengan mengakui Iran dijajah Amerika.

Pidato Imam Khomeini dan pernyataan kerasnya diliput luas media, sehingga rezim Shah Pahlevi kembali diprotes rakyat Iran. Rezim Shah tidak menyangka bakal mendapat protes sehebat ini. Karena gerakan protes ini berubah menjadi protes umum yang terjadi di seluruh negeri. Melihat kenyataan ini, rezim Shah Pahlevi mulai menerapkan aturan baru yang membatasi gerak-gerik Imam Khomeini ra. Beberapa hari setelah itu, tepatnya tanggal 13 Aban 1342 (4 November 1963) beliau ditahan dan diasingkan ke Turki.

Periode ini sangat penting dalam sejarah kebangkitan Islam di Iran. Karena perlawanan terhadap rezim despotik Shah Pahlevi berubah menjadi revolusi melawan arogansi internasional.

 

Fathi Syaqaqi Gugur Syahid

26 tahun yang lalu, tanggal 26 Oktober 1995, Dokter Fathi Syaqaqi, Sekjen kelompok Jihad Islam Palestina, dan seorang pejuang yang gigih dalam melawan Zionis, gugur syahid di Malta. Beliau menjadi korban teror dari agen rahasia Israel, Mossad.

Dokter Fathi Syaqaqi terlahir ke dunia pada tahun 1951 di kamp pengungsi Palestina di kota Gaza. Awalnya, ia bekerja sebagai guru. Kemudian, ia masuk universitas dan belajar kedokteran. Setelah lulus, ia menjadi dokter di rumah sakit Baitul Maqdis.

Sejak masa mudanya, dokter Fathi telah aktif dalam kegiatan politik melawan Zionis dan pada tahun 1968, ia bergabung dengan kelompok Jihad Islam. Pada tahun 1979, karena menulis buku mengenai Imam Khomeini, dokter Fathi dipenjarakan di Mesir. Setelah bertahun-tahun berjuang bersama kelompok Jihad Islam, akhirnya dia dipilih menjadi sekjen kelompok ini.

Pejuang Palestina ini pernah berkata, "Intifada lahir akibat pendudukan Israel, sehingga, selama Israel masih bercokol di bumi Palestina, maka intifada akan terus ada."

Ketika Imam Khomeini menetapkan Hari Quds Sedunia sebagai hari solidaritas terhadap bangsa Palestina, dokter Fathi mengomentarinya dengan menyatakan bahwa hari Quds itu merupakan hari hidupnya kembali Islam dan jihad melawan Zionis di Palestina.