Jan 28, 2022 10:57 Asia/Jakarta
  • Lintasan Sejarah 28 Januari 2022

Thahir bin Husein Wafat

1236 tahun yang lalu, tanggal 25 Jumadil Tsani 207 HQ, Thahir bin Husein, komandan pasukan Harun al-Rasyid dan anaknya Makmun meninggal dunia.

 

Thahir bin Husein merupakan salah satu komandan pasukan Harun al-Rasyid dan anaknya Makmun. Ia memimpin pasukan Bani Abbasiah dalam banyak perang dan sering memenangkannya.

 

Dalam konflik yang terjadi antara dua anak Harun al-Rasyid; Makmun dan Amin, Thahir bin Husein berpihak kepada Makmun dan membantunya. Keberpihakannya membuat Makmun mengangkatnya sebagai panglima perangnya. Dengan jumlah pasukan yang tak terbilang banyaknya, Thahir bin Husein bergerak dari Khorasan menuju Irak.

 

Thahir bin Husein setelah berperang cukup lama akhirnya berhasil mengalahkan pasukan Amin dan menguasai kota Baghdad dan kota-kota yang berada di sekitarnya. Namun tidak berapa lama, Makmun mengeluarkan perintah memberhentikannya dari posisinya dan panglima perang Irak diserahkan kepada Hasan bin Sahl. (Tarikh Thabari, jilid 7, hal 117)

 

Komandan Bani Abbasiah ini akhirnya meninggal dunia pada 25 Jumadil Tsani 207 Hq di masa kekhalifahan Makmun. Hakim kota Baghdad waktu itu, Yahya bin Aktsam diutus mewakili Khalifah Makmun menyampaikan ucapan belasungkawa kepada Abdullah bin Thahir, anak Thahir bin Husein yang diangkat Khalifah Makmun menjadi wali kota Riqqah. (al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir, jilid 10, hal 266)

 

Ulama Iran Protes Aksi Pemerintah Cegah Kedatangan Imam Khomeini
 

43 tahun yang lalu, tanggal 8 Bahman 1357 HS, ulama Iran protes aksi pemberintah cegah kedatangan Imam Khomeini ra.


Menyusul aksi protes atas aksi pemerintah Bakhtiar mencegah kedatangan Imam Khomeini ra ke Iran, pada 8 Bahman 1357 HS, sekitar 40 ulama pejuang melakukan aksi mogok di masjid Universitas Tehran. Mereka hanya bersedia mengakhiri aksi mogoknya bila Imam Khomeini ra diperbolehkan kembali ke Iran.

Ayatullah Sayid Mohammd Hossein Beheshti, Morteza Motahhari, Ataollah Ashrafi Esfahani, Sayid Mahmoud Taleghani, Mohammad Javad Bahonar, Sayid Ali Khamenei, Akbar Hashemi Rafsanjani, Mohammad Emami Kashanai, Mohammad Yazdi, Ali Mishkini, Mohammad Sadouqi dan lain-lainnya termasuk dari mereka yang melakukan aksi mogok.

Aksi mogok itu mendapat sambutan luar biasa rakyat dan para marja taklid. Akhirnya, setelah melihat kondisi yang muncul, pemerintah Bakhtiari terpaksa mengakhiri usahanya menutup bandara.

 

Pembunuh Stephen Biko Mengaku

25 tahun yang lalu, tanggal 28 januari 1997, empat polisi rasialis Afrika Selatan akhirnya mengakui pembunuhan yang mereka lakukan terhadap Stephen Biko dua puluh tahun sebelumnya.

 

Stephen Biko adalah pemimpin Gerakan Kesadaran Kulit Hitam Afrika Selatan. Pada tahun 1969, Biko yang saat itu merupakan mahasiswa kedokteran, mendirikan organisasi pelajar kulit hitam Afrika Selatan untuk menentang kebijakan rasisme pemerintah Afsel. Pada tahun  1972, dia mengorganisasi Konvensi Kaum Kulit Hitam, namun setahun kemudian gerakan ini dibredel oleh pemerintah.

Empat tahun kemudian, pada bulan September 1977, dia ditahan atas tuduhan subversif. Selama ditahan di penjara polisi Port Elizabeth, Biko dipukuli secara brutal dan pada tanggal 12 September 1977, Biko ditemukan tewas di rumah sakit polisi. Pembunuhan Stephen Biko menimbulkan protes internasional dan embargo dari PBB.

Perjuangan bangsa kulit hitam Afrika yang memakan banyak korban, di antaranya Stephen Biko itu, akhirnya mencapai hasilnya setelah diadakan pemilu bebas pada tahun 1994 yang dimenangkan oleh African National Congress dan diangkatnya pejuang kulit hitam, Nelson Mandela, sebagai presiden.

Tags