Okt 05, 2022 15:40 Asia/Jakarta
  • Lintasan Sejarah 5 Oktober 2022

Hari ini Rabu, 5 Oktober 2022 bertepatan dengan 8 Rabiul Awal 1444 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran tanggal 13 Mehr 1401 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi hari ini.

Imam Hasan Askari as Gugur Syahid

1184 tahun yang lalu, tanggal 8 Rabiul Awal 260 HQ,  Imam Hasan Askari as, cucu Raulullah Saw generasi ke-9, gugur syahid di kota Samara, Irak.

Imam Hasan Askari lahir di Madinah pada tahun 232 Hijriah. Ayah beliau adalah Imam Hadi, imam ke-9 kaum muslimin. Setelah Imam Hadi gugur syahid, Hasan Askari as mengemban tugas untuk melanjutkan tampuk keimamahan kaum muslimin.

Periode kepemimpinan Imam Askari merupakan periode yang sangat berat karena kelahiran putra beliau, Imam Mahdi as. Saat itu, kekhalifahan Islam berada di tangan Dinasti Abbasiah yang menunggu dan mengawasi lahirnya calon imam ke-12 kaum muslimin ini untuk dibunuh. Berkat perlindungan Allah Swt, imam terakhir itu hingga kini tetap hidup dan selamat. Namun, Imam Hasan Askari sendiri akhirnya dibunuh dengan menggunakan racun oleh pemerintahan Abbasiah. Imam Hasan Askari dikenal berilmu tinggi dan banyak melakukan langkah berpengaruh dalam pengembangan keilmuan Islam.

Di antara hadis beliau berbunyi, "Ada dua fitrah manusia yang terbaik , yaitu iman kepada Tuhan dan berbuat kebaikan kepada saudara. Aku mewasiatkan kepada kalian agar kalian bertakwa dalam beragama, jujur dalam berbicara, dan menunaikan amanah."

 

Imam Khomeini Dipindahkan dari Turki ke Irak

57 tahun yang lalu, tanggal 13 Mehr 1344 HS, Imam Khomeini ra dipindahkan dari Turki ke Irak.

Kondisi krisis yang dialami Iran akibat berlanjutnya pengasingan Imam Khomeini dari satu sisi dan pemerintah Turki yang tidak ingin Imam dipenjara lebih lama di negaranya memaksa rezim Pahlevi untuk mengubah tempat pengasingannya. Oleh karenanya, dalam sebuah perundingan rahasia dengan pemerintah Irak disepakati pemindahan Imam ke Irak. Dalam perundingan itu Iran juga menyepakati tidak mencampuri nasib, pembebasan dan berapa lama tinggalnya Imam di Irak.

Imam Khomeini tiba di Irak pada 13 Mehr 1344 HS setelah tinggal selama 11 bulan di Turki. Sekalipun pada awalnya tidak ada yang mengetahui kedatangan Imam, tapi pada akhirnya beliau disambut hangat oleh ulama dan masyarakat Irak. Setelah beristirahat sebentar di Kazhemain, Imam Khomeini menuju Samarra untuk menziarahi makam suci Imam Hadi dan Askari as. Selama di sana, beliau mendapat sambutan hangat warga dan Hauzah Ilmiah.

Keesokan harinya, kota Karbala yang tahu akan dilewati Imam Khomeini telah terlebih dahulu menyiapkan diri untuk menyambut beliau. Imam tinggal di kota ini selama sepekan. Setelah itu Imam menuju kota Najaf dan di kota ini beliau juga mendapat sambutan luar biasa dari warga dan Hauzah Ilmiah.

Tujuan penting rezim Shah dari pemilihan Irak sebagai tempat pengasingan Imam, agar beliau tidak tidak mendapat perhatian lebih dikarenakan banyaknya ulama besar di sana. Dengan demikian, suara Imam Khomeini dapat ditekan, bahkan hilang selama di sana. Tapi Imam lebih memilih untuk melanjutkan perjuangannya dan mengelola revolusi dari Irak dengan cara yang lain, sehingga rezim Baath, Irak berusaha menekan beliau dan membatasi pergerakannya. Perlahan-lahan, sarana bagi keluarnya Imam dari negara ini semakin terpenuhi.

 

Slobodon Milosevic Dipecat

22 tahun yang lalu, tanggal 5 Oktober 2000, Slobodan Milosevic, diktator Yugoslavia, pelaku utama perang berdarah di Balkan, dipecat dari kekuasaannya.

Sebelumnya, selama berbulan-bulan, Milosevic mendapatkan protes dan penentangan dari dalam negeri dan dunia internasional. Pada masa perang Bosnia, Milosevic melindungi orang-orang Serbia di negara ini dan berperan utama dalam pembasmian etsnis Muslim Bosnia.

Setelah perang Kosovo, Milosevic dengan menggunakan berbagai cara, berusaha menggagalkan usaha-usaha untuk menumbangkan rezimnya. Usaha terakhirnya adalah mengubah undang-undang dasar negara dan mengadakan pemilihan presiden. Namun, dalam pemilu itu, Milosevic gagal terpilih kembali dan rakyat Serbia yang mendapat dukungan dari luar negeri, bangkit menentang Milosevic dan memaksanya untuk turun dari kursi kepresidenan. Pengganti Milosevic kemudian menyerahkannya ke pengadilan penjahat perang internasional di Belanda.