Nov 06, 2018 14:19 Asia/Jakarta
  • Assalamu\'alaika Ya Rasulullah.
    Assalamu\'alaika Ya Rasulullah.

Masjid – sebagai pusat utama budaya yang lahir dari pemikiran agama – menyimpan kapasitas besar untuk berkiprah dalam kehidupan individu dan sosial masyarakat Muslim. Dalam budaya Islam, masjid adalah rumah ibadah, basis pergerakan, madrasah pendidikan, dan tempat untuk kegiatan politik.

Masjid sudah menjadi basis untuk kegiatan politik sejak awal permulaan Islam. Rasulullah Saw menunjukkan kapasitas besar masjid kepada masyarakat dengan memusatkan seluruh kegiatannya di tempat itu, dan secara praktis menegaskan Islam bukan agama satu dimensi. Dengan demikian, kaum Muslim selalu berkumpul di masjid untuk kegiatan apapun.

Hubungan antara masjid dan politik tidak hanya terjadi di masa Rasulullah Saw, tetapi hubungan ini justru lebih dominan pada periode setelahnya. Sejarawan Mu'tazilah, Ibnu Abi al-Hadid mengatakan, "Setelah pembunuhan khalifah ketiga, masyarakat datang untuk berbaiat kepada Imam Ali as, tetapi beliau menolaknya. Masyarakat terus mendesak sehingga beliau tidak punya jalan lain.

Imam Ali berkata, "Jika kalian mendesakku agar menerima baiat, lakukanlah di masjid, karena baiat denganku tidak boleh sembunyi-sembunyi, tetapi harus atas permintaan kaum Muslim dan di muka umum." Imam Ali kemudian bergerak ke masjid yang diikuti oleh masyarakat dan mereka kemudian berbaiat dengan beliau di masjid."

Mengenai peran utama masjid dalam budaya, ekonomi, politik, dan persatuan di antara umat Islam, Marcel Boisard dalam bukunya "l 'humaisme de l' Islam" menulis, "Masjid merupakan faktor penting dalam menjaga persatuan dan solidaritas di tengah umat Islam dunia, terutama di era kontemporer di mana umat Islam menunjukkan antusiasme yang sama dan kuat seperti tahun-tahun awal Islam, dan masjid telah berubah menjadi pusat-pusat untuk mendidik para ulama dan basis gerakan dan kebangkitan kaum Muslim terhadap penindas."

"Secara perlahan, masjid menemukan kembali posisinya seperti di tahun-tahun awal Islam. Pembangunan perpustakaan dan aula di dalam masjid telah mengungkap sebuah fakta bahwa dalam Islam, masjid bukan hanya untuk shalat – seperti dugaan sebagian orang – dan ia benar-benar salah satu dari basis politik dan penting umat Islam," ujarnya.

Dewasa ini, berbagai organisasi dan kelompok menjadikan masjid sebagai basis untuk kegiatan sosial dan politik mereka. Dengan cara ini, mereka bisa melakukan kegiatan dakwah, merekrut anggota, membuka kelas pelatihan, dan mengerahkan kekuatan spiritual masyarakat untuk melawan kezaliman dan penindasan.

Imam Khomeini ra, pemimpin Revolusi Islam Iran dan sosok yang menghidupkan kembali hubungan agama dan politik di Dunia Islam mengatakan, "Mihrab adalah tempat untuk perang, perang dengan syaitan maupun perang dengan tiran. Dari mihrab-mihrab ini harus muncul perang seperti sebelumnya. Wahai masyarakat, jagalah masjid kalian sehingga kebangkitan ini membuahkan hasil."

Tentu saja, krisis politik dan sosial dalam beberapa dekade terakhir ikut membantu menghidupkan dimensi politik masjid. Para imam dan khatib menyampaikan khutbah yang terkait dengan masalah politik dan isu-isu internasional untuk memberikan wawasan kepada kaum Muslim.

Masjid Seyyed Isfahan.

Sejarah Masjid Seyyed Isfahan (Seyyed Mosque Isfahan)

Masjid Seyyed Isfahan adalah masjid terbesar dan paling terkenal yang merupakan peninggalan era Qajar. Nama masjid ini diambil dari nama pendirinya yaitu Sayid Muhammad Bagher Shafti, salah satu ulama besar di Isfahan pada pertengahan abad ke-19. Bangunan ini adalah hasil dari perkawinan arsitektur Islam dan Iran yang indah dan tempat terbaik untuk mempelajari seni ubin era Qajar.

Masjid Seyyed Isfahan dikenal sebagai salah satu mahakarya arsitektur era Qajar, karena dekorasi ubin yang menakjubkan dengan pola bunga dan kaligrafi yang indah. Setiap sudutnya memperlihatkan arsitektur dan seni dekorasi yang indah. Masjid ini sangat besar dan tidak selesai dikerjakan pada masa Sayid Bagher Shafti. Setelah kematiannya, putra dan cucunya melanjutkan pekerjaan dan merampungkan pembangunan. Makam sang pendiri dan keluarganya terletak di belakang serambi kecil di sisi timur iwan utara masjid.

Pada tahun 1245 Hijriyah (1829 M), Sayid Bagher Shafti meletakkan batu pertama pembangunan masjid di area seluas 8.000 meter persegi. Sultan Qajar waktu itu, Fath-Ali Shah Qajar menganggap Sayid tidak akan mampu membangun masjid sebesar itu. Dia kemudian menawarkan kemitraan, tetapi Sayid menolaknya dan berkata, "Aku akan menjulurkan tanganku kepada Allah Swt." Dengan demikian, Sultan Qajar tidak terlibat dalam pembangunan itu.

Halaman Masjid Seyyed Isfahan.

Masjid Seyyed memiliki total luas 8.075 meter persegi. Bagian penting masjid ini mencakup dua aula besar, dua kubah besar dan kecil, sebuah mihrab, tiga gerbang masuk, sebuah menara jam besar, sebuah madrasah dengan 45 kamar tidur siswa di lantai atas masjid, dan sebuah kolam di tengah-tengah halaman masjid.

Iwan utama masjid berada di sisi selatan halaman dan menempel dengan ruangan berkubah dan aula besar yang ditopang oleh tiang-tiang batu. Di atas iwan ini dibangun sebuah menara jam yang seluruhnya dipercantik dengan ubin tujuh warna.

Halaman masjid ini selama bertahun-tahun hanya beralaskan tanah dan kemudian dipasangi tegel. Lantai halaman di bagian kiri dan kanan masjid dibuat agak lebih tinggi, sementara sisanya dibangun datar. Masjid Seyyed mengalami kerusakan di beberapa sudut selama perang Iran-Irak dan kemudian diperbaiki kembali.

Mihrab Masjid Seyyed sangat indah dan seluruh bagiannya dilapisi dengan ubin tujuh warna bermotif bunga, kecuali dinding bawah mihrab (dengan ketinggian sekitar 60 cm) dipasangi tegel marmer dengan ukuran besar. Kaligrafi diukir di sepanjang gerbang mihrab, sementara langit-langitnya menggunakan dekorasi muqarnas. Warna kuning keemasan mendominasi warna ubin dinding mihrab dan memancarkan kilauan. Kusen mihrab dibuat dari batu marmer yang dipahat dengan bagian atas melengkung.  

Uniknya, masjid dengan arsitektur yang indah dan megah ini dibangun oleh seorang ulama. Mirza Hussein Khan Ansari dalam buku Tarikh Esfahan menulis, "Masjid-masjid besar biasanya dibangun oleh para raja, tapi Masjid Seyyed didirikan oleh seorang ulama yaitu Sayid Bagher Shafti."

Masjid Seyyed menjadi pusat perhatian karena dipoles dengan ubin warna-warni cerah yang khas, pola-pola bunga, dan kaligrafi dengan berbagai jenis khat. Masjid ini banyak dikunjungi wisatawan yang ingin mengenal gaya artistik dan arsitektur yang indah dari era Qajar. Masjid ini terletak di seyyed mosque street, Isfahan, Iran. (RM)

Tags

Komentar