Aug 13, 2019 10:32 Asia/Jakarta
  • Seorang demonstran mengangkat poster yang mengatakan \
    Seorang demonstran mengangkat poster yang mengatakan \"Islamophobia bukanlah jawaban\" pada kampanye Donald Trump di kota Oklahoma, 2016.

Sentimen anti-Muslim meningkat di Amerika Serikat sejak Donald Trump berkuasa di negara itu.

Southern Poverty Law Center (SPLC) – organisasi advokasi hukum AS yang fokus pada hak-hak sipil dan kepentingan publik – dalam sebuah laporan menyatakan pada 2017 atau bertepatan dengan tahun pertama kepemimpinan Trump, jumlah kelompok anti-Islam di AS bertambah dari 101 menjadi 114 kelompok.

Menurut SPLC, jumlah kelompok penyebar kebencian di Amerika naik 20 persen dalam tiga tahun terakhir. Sebanyak 954 grup penyebar kebencian melakukan aktivitas di negara itu sampai 2017 dan pertumbuhan mereka mencapai empat persen dibanding tahun sebelumnya.

Tidak satupun dari presiden AS yang secara terbuka menunjukkan sikap anti-Islamnya seperti Trump. Sejak awal berkuasa, Trump memperlihatkan sikap anti-Islam dengan melarang warga dari tujuh negara Muslim memasuki wilayah Amerika.

Dia menganggap Muslim sebagai teroris kecuali terbukti sebaliknya. Dalam beberapa insiden serangan teror di AS selama satu tahun terakhir, Trump selalu berusaha untuk memperkenalkan Muslim sebagai pelakunya.

Trump tidak hanya seorang anti-Muslim, tetapi juga rasis dan penyebar kebencian. Sebagian besar suara yang dikantonginya dalam pilpres 2016 berasal dari para pendukung supremasi kulit putih. Masyarakat Amerika juga mengakui fakta ini.

Dalam sebuah survei, setengah dari warga Amerika menyebut Trump sebagai seorang rasis. Berdasarkan survei pusat riset urusan publik, 57 persen orang dewasa yang mencakup setiap delapan dari 10 warga kulit hitam, tiga perempat Hispanik, dan hampir setengah dari warga kulit putih juga menganggap Trump sebagai seorang rasis.

57 persen warga Amerika percaya bahwa kebijakan Trump untuk komunitas Muslim tidak tepat. 56 persen juga memandang kebijakan dia berdampak buruk bagi warga Hispanik. 57 persen yang mencakup tiga perempat warga kulit hitam percaya bahwa kebijakan tersebut sangat buruk bagi mereka.

Emily Swanson dan Russell Contreras dalam sebuah laporan di The Associated Press menulis, “Hasil survei menunjukkan bahwa masyarakat AS terpecah mengenai isu etnis pasca kemenangan Trump dalam pemilu presiden. Konflik etnis dan agama di tengah masyaraat AS semakin mendalam terutama setelah aksi pawai pendukung supremasi kulit putih, penggunaan kalimat ‘lubang toilet’ oleh Trump dalam menyebut negara-negara Afrika, dan permintaannya untuk membangun tembok pembatas di perbatasan dengan Meksiko.”

Sentimen anti-Islam dan rasisme tidak hanya tumbuh di Amerika saja selama tahun 2017. Di benua Eropa, sentimen anti-Islam serta serangan terhadap warga Muslim dan pusat-pusat kegiatan Islam meningkat setelah kemenangan partai-partai ekstrem kanan.

2017 adalah tahun kemenangan besar bagi partai-partai ekstrem kanan. Di Jerman, Partai Alternatif untuk Jerman (AfD) memperoleh hampir 13 persen suara dan menguasai 96 kursi di Bundestag. Ini adalah pertama kalinya sejak Perang Dunia II, di mana sebuah partai dengan semangat anti-imigran, rasis, dan anti-Islam berhasil masuk ke parlemen Jerman.

Seiring masuknya kubu ekstrem kanan di kancah politik Jerman, serangan terhadap Muslim dan tindakan rasis juga meningkat di negara Eropa itu. Menurut data Kementerian Dalam Negeri Jerman pada 2017, 950 serangan anti-Islam tercatat di Jerman. Sebanyak 33 orang terluka dalam serangan anti-Islam di Jerman pada 2017.

Lembaga-lembaga pemerintah Jerman dalam sebuah laporan mencatat bahwa lebih dari 60 serangan berat terjadi terhadap masjid dan pusat kegiatan Islam lainnya, di mana kelompok ekstrem kanan Jerman terlibat di hampir semua insiden tersebut.

Kejahatan anti-Islam yang tercatat kebanyakan berhubungan dengan kasus-kasus seperti propaganda luas terhadap Muslim di dunia maya, surat-surat bernada ancaman, serangan terhadap wanita Muslimah, serangan terhadap orang Muslim, perusakan masjid, dan penulisan grafiti-grafiti oleh kelompok Neo-Nazi.

Ketua Dewan Pusat Islam Jerman, Aiman Mazyek mengatakan data tersebut tidak mencatat semua kasus kriminal anti-Islam dan angka yang sesungguhnya lebih besar dari angka-angka resmi pemerintah.

Menurut keterangan Aiman Mazyek, polisi dan jaksa Jerman tidak menunjukkan sikap sensitif dalam banyak kasus dan oleh karena itu, banyak kasus tidak tercatat dalam statistik.

Kelompok-kelompok ekstrem kanan di Jerman menganggap kedatangan Muslim di negara itu sebagai bahaya bagi budaya Jerman dan budaya Eropa.

Ulla Jelpke, seorang pakar urusan dalam negeri Jerman dari partai sayap kiri, percaya bahwa Islamophobia di Jerman berhubungan dengan kemunculan partai baru sayap kanan, Partai Alternatif untuk Jerman (AfD). Partai ini dalam AD/ART-nya menyatakan Islam bukan bagian dari Jerman.

“Partai AfD memperkuat sentimen anti-Islam. Orang-orang anti-Islam telah membuka jalannya ke parlemen dan mereka akan menggunakan podium parlemen untuk memprovokasi masyarakat melawan warga Muslim Jerman,” tambahnya.

Partai Alternatif untuk Jerman (AfD) terus berusaha meningkatkan sentimen anti-Muslim di negara itu.

Semangat anti-Islam sedang mengakar di antara pemerintah-pemerintah Eropa. Di sini, kita tidak boleh melupakan peran lobi Zionis di Amerika dan Eropa dalam meningkatkan sentimen anti-Islam di AS dan Eropa.

Arnoud Van Doorn – politisi Belanda pembuat film Fitna – akhirnya memilih masuk Islam dan ia menyingkap saran-saran yang ia terima dari lobi Amerika-Israel untuk memproduksi film dengan tujuan menyebarkan Islamophobia.

Van Doorn adalah politisi Belanda dari kubu ekstrem kanan dan mantan anggota parlemen negara itu. Ia memutuskan masuk Islam setelah memproduksi film yang melecehkan kesucian al-Quran dan Rasulullah Saw dengan judul “Fitna.”

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar al-Rai Kuwait, Van Doorn menyampaikan penyesalan atas produksi film tersebut dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di balik layar.

“Setelah produksi film itu, saya mulai mengerti bahwa banyak masyarakat tidak suka dan perasaan mereka terluka secara mendalam. Saya sekarang ingin berbuat sesuatu meskipun kecil untuk menebus kesalahan yang salah lakukan dengan membuat film tersebut,” ujarnya.

Mengenai kisahnya menjadi muallaf, Van Doorn menuturkan, “Kejadian ini tidak terjadi tiba-tiba dan sekitar 1,5 tahun setelah pembuatan film itu, saya mempelajari dan meneliti agama Islam, tetapi saya tidak punya motivasi untuk menjadi seorang Muslim.

Setelah melakukan penelitian saya menyadari bahwa Islam adalah agama yang baik dan punya jawaban untuk setiap pertanyaan, dan saya merasa inilah waktunya bagi saya untuk menjadi seorang Muslim.

Setelah itu, saya membaca kisah sulitnya mengajak masyarakat kepada tauhid dan penderitaan yang diderita Rasulullah Saw di jalan dakwah. Setelah saya menjadi Muslim, banyak teman-teman meninggalkan saya dan saya juga kehilangan pekerjaan,” ungkapnya. (RM)

Tags