Aug 31, 2019 17:35 Asia/Jakarta
  • Ilustrasi kafilah Imam Husein as menuju Karbala.
    Ilustrasi kafilah Imam Husein as menuju Karbala.

Bulan Muharram selalu mengingatkan kita pada perjuangan Imam Husein as dan para sahabatnya untuk menegakkan kebenaran dan melawan kebatilan.

Revolusi Asyura selalu dikenang dan diperingati meski telah berlalu selama berabad-abad. Nama Imam Husein as dan para sahabatnya selalu dikenang di dunia dan sampai sekarang banyak karya ditulis tentang kebangkitan ini oleh para pemikir Syiah dan Sunni serta ilmuwan Timur dan Barat.

Mereka mengupas faktor-faktor yang menyebabkan kebangkitan Imam Husein, pesan-pesan, pelajaran, dan aspek-aspek lain dari peristiwa ini. Namun tetap masih menyisakan pertanyaan yaitu mengapa setelah wafatnya Rasulullah Saw, para penguasa Bani Umayyah dan pendukungnya dapat menciptakan sebuah tragedi besar Asyura serta menuding Imam Husein dan pengikutnya telah keluar dari Islam, dan menawan keluarga sucinya?

Penguasa Umayyah kemudian menggiring keluarga Nabi Saw yang ditawan ke berbagai kota, pasukan Umayyah menyerang kota Madinah dan Makam Rasul, melakukan pembantaian massal, merampas kehormatan kaum wanita Madinah, dan kemudian melanjutkan serangan ke Mekkah dan membakar Ka'bah.

Tentu tidak mengherankan jika tragedi itu dilakukan oleh imperium dan poros kekuatan kala itu yaitu Iran dan Romawi, atau oleh para pengikut agama lain. Namun, tragedi Karbala dilakukan oleh sebuah kelompok yang mengatasnamakan Islam dan dengan dukungan banyak orang Muslim, mereka membunuh anggota keluarga Rasul Saw dan para sahabatnya dengan cara yang paling keji.

Untuk itu, sangat penting untuk mengkaji akar tragedi ini, bagaimana ia bisa terjadi, dan siapa saja yang memolopori peristiwa yang menjadi noktah hitam dalam sejarah Islam ini?

Di dunia ini, manusia selalu menghadapi berbagai bencana alam, sosial, politik, budaya, ekonomi, dan sejarah. Semua peristiwa ini terjadi berdasarkan sistem penciptaan yaitu hukum sebab-akibat. Apa yang tampak di hadapan kita adalah akibat dan apa yang tersembunyi di balik itu adalah sebab.

Para intelektual dan pemikir yang bijak dan visioner, tidak pernah puas dengan hanya melihat dimensi lahiriyah dari sebuah peristiwa, tetapi dengan melihat akibat, mereka berusaha untuk mencari sebab dan menguak tabirnya. Mereka kemudian mencapai hakikat sesuatu yang tidak pernah terbayang oleh masyarakat awam. Misalnya dengan jatuhnya buah apel dari pohonnya, muncul pertanyaan bagi Isaac Newton, mengapa apel ini jatuhnya ke bawah?

Newton mulai mencari sebab di balik peristiwa itu dan melalui sebuah penelitian, ia menemukan teori gravitasi bumi.

Ilustrasi shalat zuhur terakhir Imam Husein as dan para sahabatnya di Karbala.

Al-Quran menyeru orang-orang yang bijak dan berakal untuk mencari akar dan sebab dari peristiwa yang terjadi di alam ini sehingga menyingkap rahasianya. Para pemikir diajak untuk menyelami hakikat sesuatu dan dengan pemahaman yang dalam ini, mereka bisa memberikan makna dan tujuan untuk kehidupan di alam ini.

Pemahaman seperti ini membantu mereka menyingkirkan keraguan dalam menghadapi setiap peristiwa dan tidak pernah berputus asa atas jalan yang sudah dipilihnya.

Salah satu perkara yang menjadi perhatian serius al-Quran adalah masalah nasib bangsa-bangsa lampau dan pelajaran yang dapat diambil dari mereka. Al-Quran mengisahkan sejarah bangsa-bangsa terdahulu dan sebab-sebab kejatuhan atau kedigdayaan mereka. Misi al-Quran tentu saja bukan hanya menyampaikan cerita, tetapi mengajak pembacanya untuk melakukan analisa yang rasional dan penelitian serta mengkaji titik kekuatan dan kelemahan sehingga bisa mencegah terulangnya peristiwa pahit dalam sejarah.

Salah satu kisah yang sering disebut al-Quran adalah nasib Bani Israil. Apakah pengulangan kisah mereka terjadi tanpa sebab? Apakah kita memperoleh pelajaran dan menyingkap rahasia dari kisah-kisah itu jika tanpa meneliti sebab-sebabnya?

Rasulullah Saw memberikan jawaban atas pertanyaan mendasar ini ketika menyinggung tentang masyarakat Muslim di permulaan Islam. Beliau bersabda, "Sesunguhnya kalian akan mengikuti kebiasaan umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sedepa demi sedepa, sehingga seandainya mereka masuk lubang dhab (sejenis kadal), niscaya akan kalian ikuti.” Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, (maksudmu) orang-orang Yahudi dan Nasrani?" Beliau menjawab, "Lalu siapa lagi? Kalian akan mematahkan pegangan Islam satu demi satu. Hal pertama yang kalian rusak adalah amanah dan yang terakhir shalat."

Benar, salah satu tabiat Ahlul Kitab adalah berulang kali melanggar janji-janji Allah Swt, dan sebagian orang Muslim di permulaan Islam melakukan taklid buta kepada mereka. Rasulullah bersabda, "Kalian juga akan mematahkan pegangan Islam satu demi satu."

Menariknya, Rasul Saw berkata bahwa hal pertama yang dipatahkan oleh mereka adalah amanah yaitu sebuah fakta pahit yang disinggung oleh al-Quran,

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui." (QS: al-Anfal, ayat 27)

Ada beberapa poin yang perlu diperhatikan dalam ayat ini yaitu: ayat tersebut tidak ditujukan untuk orang-orang kafir dan musyrik, jika ini untuk mereka, tentu kita tidak perlu heran. Karena hakikat mereka sudah jelas dan wajar bagi mereka untuk mengkhianati Allah dan Rasul-Nya. Hal yang mengejutkan di sini adalah bahwa Allah berbicara kepada orang-orang yang secara lahiriyah beriman dan pada saat yang sama mengkhianati Allah dan Rasul-Nya.

Hadis Tsaqalain.

Dari beberapa ayat lain dapat disimpulkan bahwa maksud Tuhan adalah orang-orang munafik yang mengaku beriman, tetapi imannya tidak tulus. Allah Swt berfirman, "Di antara manusia ada yang mengatakan, Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,' padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman." (QS: al-Baqarah, ayat 8)

Pada dasarnya, orang yang beriman secara jujur dan ikhlas mustahil akan mengkhianati Allah dan Rasul-Nya.

Poin lain dalam ayat tersebut adalah bahwa Allah berfirman, "… kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui." Artinya, pengkhianatan ini bukan karena ketidaktahuan dan kebodohan, tetapi berkhianat dengan pengetahuan dan kesadaran. Poin terakhir adalah mengenai larangan berkhianat terhadap "amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu."

Lalu, apa yang dimaksud dengan amanah-amanah yang dipercayakan itu? Para ulama tafsir mengutip berbagai contoh dari amanah tersebut seperti rahasia militer, politik, ilmiah, dan sirah Rasulullah Saw, tetapi maksud yang paling tepat dari kata amanat dalam ayat itu adalah sabda Rasul sendiri yang disampaikan kepada para sahabatnya.

"Aku akan mendahului kalian di al-haudh (telaga) Kautsar dan kalian (jika mendapatkan kelayakan) juga akan bersamaku di samping telaga itu. Aku meninggalkan dua pusaka berharga sebagai amanah di tengah kalian, maka lihat dan perhatikan bagaimana kalian memperlakukan kedua (amanah) ini setelahku."

Kemudian seorang sahabat bangkit bertanya, "Wahai Rasulullah, manakah dua amanah yang berharga itu?" Beliau menjawab, "Pertama Tsiql Akbar yaitu kitab Allah, maka berpegang teguhlah kepadanya agar kalian tidak sesat dan satu lagi adalah Tsqil Asghar yaitu Ahlul Bait dari keturunanku ('Itrahku), dan Allah telah memberitahu kepadaku bahwa sesungguhnya keduanya tidak akan terpisah sampai mendatangiku di telaga Kautsar. Janganlah kalian mendahului dan meninggalkan mereka, maka kalian akan bisana." (RM)

Tags

Komentar