Sep 02, 2019 17:19 Asia/Jakarta
  • Pembangkangan Sahabat terhadap Perintah Rasul

Rasulullah Saw membentuk pasukan di bawah komando Usamah bin Zaid untuk menghadapi tentara Imperium Romawi. Namun, pasukan ini tidak bergerak karena adanya pembangkangan dari beberapa sahabat besar dengan berbagai alasan.

Benih-benih pembangkangan terhadap perintah Nabi Saw mulai tumbuh. Rasul sangat kesal dengan kejadian ini dan beberapa hari kemudian ia terbaring sakit di tempat tidur. Para istri, keluarga dekat, dan sahabat berkumpul di kamar Nabi ketika sakitnya semakin parah dan mendekati ajal.

Saat itu Rasul Saw meminta pena dan kertas untuk menuliskan sebuah wasiat yang akan mencegah umat Islam dari kesesatan sepeninggalnya. Namun, permintaan ini terbentur dengan penolakan dan penentangan salah seorang sahabat yang hadir di hadapannya dan wasiat Nabi akhirnya tidak tersampaikan. Sahabat besar itu berkata, "Nabi sedang mengigau dan kita cukup dengan kitab Allah."

Ucapan ini menimbulkan perselisihan dan perdebatan di antara para sahabat. Nabi Saw dengan menyaksikan pemandangan itu, meminta mereka untuk pergi dari hadapannya. Rasul berkata, "Keluarlah kalian semua, tidak pantas kalian ribut di hadapan Nabi." (Al-Ghadir, jilid 1, hal 40)

Pertama, permintaan Nabi Saw yaitu "Bawakan aku sebuah pena beserta tintanya dan kertas agar aku dapat menuliskan sesuatu untuk kalian supaya kalian tidak akan tersesat setelahku" menunjukkan kekhawatiran beliau tentang masa depan umat Islam yang bisa tersesat di tengah jalan.

Penolakan beberapa sahabat sama sekali tidak bisa dibenarkan, karena permintaan itu berkaitan dengan masa depan umat Islam dan Rasul Saw sangat merisaukan masalah ini.

Kedua, apa makna dari ucapan "Nabi sedang mengigau"? Apakah Nabi tidak mengetahui apa yang diucapkan? Padahal al-Quran berkata, "Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)."

Ketiga, Nabi Saw – atas perintah Allah – berulang kali berkata bahwa al-Quran dan 'Itrah-nya tidak akan pernah berpisah sampai mendatanginya di telaga Kautsar. Dengan kata lain, keterikatan keduanya adalah sebuah kebersamaan yang abadi dan tak tergoyahkan.

Ilustrasi peristiwa pengangkatan Imam Ali as sebagai khalifah oleh Rasulullah Saw di Ghadir Khum.

Lalu dengan alasan apa sehingga beberapa sahabat berkata, "Kita cukup dengan kitab Allah." (Shahih al-Bukhari, jilid 1, hal 3-22)

Al-Quran jelas-jelas berkata, "Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata." (QS. Al-Ahzab: 36)

Dan keempat, Rasul Saw sangat kesal dengan keributan yang terjadi di antara para sahabatnya sehingga berkata, "Keluarlah kalian semua, tidak pantas kalian ribut di hadapan Nabi."

Jelas bahwa sebuah perselisihan dan perdebatan sangat mungkin terjadi dalam masalah sosial dan politik, dan kadang juga berkenaan dengan masa depan umat Islam. Jika ini terjadi, apa yang harus dilakukan? Apakah perdebatan dan perselisihan itu harus diperuncing atau bertindak sesuai dengan perintah al-Quran yaitu, "…jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS. An-Nisa: 59)

Jika Allah Swt dan Rasul Saw telah menjelaskan pandangannya dalam satu perkara, maka tidak perlu diperdebatkan lagi dan ia wajib dipatuhi secara mutlak. Sikap ini adalah tanda-tanda dari iman yang tulus kepada Allah dan Rasul-Nya.

Perselisihan yang terjadi di tengah umat juga harus diselesaikan dengan bersandar pada firman Allah atau merujuk kepada Rasulullah, di mana ucapannya tiada lain hanyalah wahyu.

Orang yang memiliki iman yang kuat kepada Tuhan dan hari kiamat, tentu saja tidak akan menentang dan membangkang perintah Nabi Saw. Jadi, sikap beberapa sahabat yang menolak perintah Nabi sama sekali tidak sesuai dengan ajaran agama dan tidak bisa dibenarkan.

Rasulullah Saw pada akhirnya wafat dan pada hari duka itu, sudah sepantasnya prosesi pemakaman beliau dilakukan dengan megah untuk menghormati kerja kerasnya dalam membimbing dan mengajarkan umat, memajukan pemikiran dan budaya mereka, menghidupkan nilai-nilai luhur akhlak dan kemanusiaan, memerangi penyimpangan dan kesesatan, membebaskan masyarakat dari kehinaan dan pertikaian, serta membangun sebuah umat yang besar.

Namun penghormatan seperti itu tidak pernah terjadi dan bahkan beberapa sahabat meninggalkan jenazah Rasulullah Saw begitu saja, mereka tidak mengikuti prosesi pengkafanan dan upacara pemakaman.

Yang lebih mengejutkan adalah sebuah riwayat dari Aisyah, istri Rasulullah Saw yang bercerita, "Karena Nabi wafat, Mughirah bersama salah seorang sahabat pergi ke kamar persemanyaman jenazah Nabi dan membuka kain penutup wajahnya. Sahabat itu kemudian berkata, Nabi sedang pingsan dan pingsannya cukup parah. Kedunya kemudian keluar dari kamar itu dan Mughirah berkata kepada sahabat tersebut, 'Demi Allah, Nabi telah wafat.' Namun, sahabat itu tetap bersikeras, 'Engkau dusta, Nabi tidak wafat, engkau ingin menyulut fitnah."

Pada hari itu, Abu Bakar bergegas kembali ke Madinah setelah mengetahui Rasul wafat. Abu Bakar yang menyaksikan pengingkaran sebagian masyarakat atas wafatnya Rasul, naik ke mimbar dan berpidato. Setelah membaca hamdalah, ia mengutip beberapa ayat al-Quran dalam pidatonya antara lain, "Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)" (QS. Az-Zumar: 30) dan "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)" (QS. Ali Imran: 144)

Saqifah Bani Sa'idah.

Kemudian orang-orang yang telah mengingkari kematian Rasulullah, berkata kepada Abu Bakar, "Apakah ayat-ayat tersebut ada dalam al-Quran?" Abu Bakar menjawab, "Iya."

Ada sebuah pertanyaan penting mengenai sikap para sahabat yang mengingkari kematian Rasulullah, karena sebelumnya mereka justru berkata, "Kita cukup dengan kitab Allah" sebagai upaya untuk menyingkirkan Ahlul Bait dari posisi khalifah.

Jika mereka berkata, "Kami tidak tahu jika seorang Rasul bisa wafat." Lalu, mengapa mereka menganggap kitab Allah cukup untuk mengatur urusan umat Islam sepeninggal Rasul dan menolak peran Ahlul Bait Nabi. Namun, jika mereka berkata, "Kami tahu tentang itu," lalu mengapa mereka mengingkari kematian Nabi?

Bisa dikatakan bahwa sikap tersebut bermotif politik yang kemudian diwujudkan di Saqifah Bani Sa'idah.

Sebagian sahabat berkumpul di Saqifah ketika Imam Ali as dan beberapa orang lain sedang memandikan jenazah Rasulullah Saw, mengkafani, dan menyiapkan pemakaman. Mereka berkumpul dengan alasan untuk mencegah perpecahan umat dan menjaga pencapaian yang ditorehkan oleh Rasul. Lalu, bukankah Rasul telah mengangkat Sayidina Ali as sebagai khalifah dan pemimpin umat Islam pada hari Ghadir Khum?

Peristiwa Ghadir Khum dibenarkan oleh 110 sahabat, 84 tabi'in, serta 360 ulama dan perawi dari Syiah dan Sunni. Para ulama Syiah dan Sunni telah menukil peristiwa tersebut dalam buku-bukunya.

Bukankah para sahabat yang berkumpul di Saqifah telah memberikan baiat dan ucapan selamat kepada Imam Ali di Ghadir Khum? Lalu, mengapa mereka melupakan semua peristiwa itu dalam rentang waktu 70 hari dan bertindak seakan-akan Rasul tidak pernah memikirkan masa depan umatnya.

Bagaimana mungkin Allah Swt – yang menurunkan al-Quran sebagai kitab terakhir dan Muhammad sebagai khatam al-Anbiya – tidak memberikan perintah apapun tentang pengangkatan khalifah? Jelas para tokoh Saqifah tidak berkumpul dengan motivasi agama, sebab mereka tidak mengantongi perintah dari Allah untuk melakukan itu, dan Rasul Saw juga tidak berbuat lalai dalam menentukan pemimpin setelahnya. (RM)

Tags

Komentar