Sep 12, 2019 13:01 Asia/Jakarta
  • Warga Muslim mengambil bagian dalam demonstrasi Stop Rasisme di London pada 3 April 2018.
    Warga Muslim mengambil bagian dalam demonstrasi Stop Rasisme di London pada 3 April 2018.

Masyarakat Muslim Inggris menghadapi fenomena baru Islamophobia dan sentimen anti-Islam. Mereka dikirimi surat ajakan kekerasan dalam amplop putih dengan prangko murah dan ini telah menimbulkan kekhawatiran di tengah warga Muslim.

Surat anonim itu mengusulkan penetapan tanggal 3 April sebagai “Punish a Muslim Day” atau Hari Menghukum Muslim. Pengirim menawarkan hadiah bagi penyerang yaitu 10 poin untuk serangan verbal terhadap seorang Muslim, 50 poin jika melemparkan air keras kepada seorang Muslim, 1.000 poin jika mengebom sebuah masjid, dan 2.500 poin jika melakukan serangan nuklir ke Mekkah.

Jenis serangan lain yang direkomendasikan dalam surat itu adalah memukul seorang Muslim, menyiksa seorang Muslim dengan menjambret, menyetrum atau mengupas kulitnya, membunuh seorang Muslim dengan pistol, pisau, mobil atau apapun, membakar, dan membom sebuah masjid.

Naz Shah, seorang anggota Parlemen Inggris dari Bradford West, menulis di akun Facebook-nya bahwa orang-orang di daerah konstituennya yang menerima "surat kebencian ini" menyampaikan kekhawatiran mereka. Dia mengaku telah berbicara dengan polisi dan meminta otoritas Inggris untuk menjamin keamanan warga Muslim.

Sajid Javid, seorang politikus Partai Konservatif Inggris di akun Twitter-nya menulis bahwa masyarakat Muslim Inggris harus hidup bukan dalam ketakutan, tetapi dalam kedamaian dan saya akan melakukan semua yang saya bisa untuk mewujudkan ini.

Sebagian warga menyatakan kekhawatiran di tengah meningkatnya kejahatan rasial di Inggris dan tersebarnya video tentang serangan terhadap seorang wanita Muslim di rumah sakit AS.

Tell MAMA Inggris – sebuah organisasi yang memantau kejahatan rasial anti-Muslim – mengatakan kepada BBC bahwa pihaknya telah menyerahkan barang bukti sekitar 20 kasus individu yang menerima surat kebencian itu kepada polisi.

"Kami yakin bahwa komunitas Muslim akan menyikapinya dengan menahan diri," kata Direktur Tell MAMA, Iman Atta.

Ilustrasi Muslim Inggris dan surat Punish a Muslim Day.

Surat “Punish a Muslim Day” mendapat sorotan luas di kalangan Muslim Inggris dan bahkan di luar negeri. Warga Muslim Inggris berbicara di media sosial tentang rasa takut dan kecemasan yang dihadapi keluarga mereka dan orang-orang dekatnya.

Seorang netizen bernama, Hashim menulis tentang keresahannya dan menceritakan bahwa pagi ini adik perempuannya yang berusia tujuh tahun mengatakan kepadanya, "Kita perlu bersembunyi hari ini." Netizen lain yang berprofesi sebagai jurnalis, menyatakan keprihatinannya untuk wanita Muslim, karena mereka lebih mudah untuk diidentifikasi lewat jilbabnya.

Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) – organisasi advokasi hak-hak sipil Muslim terbesar di AS – mendesak komunitas Muslim di negara itu untuk meningkatkan langkah-langkah keamanan setelah munculnya gerakan kampanye ‘Punish a Muslim Day’ di Inggris.

CAIR mencatat bahwa meskipun kampanye ini tampaknya hanya menargetkan Muslim Inggris, tetapi aksi itu mengundang keprihatinan dan pertanyaan dari Muslim Amerika, apakah keluarga dan komunitas mereka mungkin juga menjadi sasaran yang sama. Sebuah sekolah di Vermont menyatakan keprihatinannya tentang hal ini setelah menerima ancaman serupa pada 2016.

Menurut CAIR, ada peningkatan yang belum pernah terjadi sebelumnya terkait fanatisme yang menargetkan Muslim Amerika dan anggota kelompok minoritas lainnya, terutama setelah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden.

Sementara itu, Direktur Diyanet Center of America, Fatih Kanca menuturkan, "Pengiriman surat anonim ini terhadap Muslim, tidak dapat diterima. Sebagai pemeluk agama Islam, agama perdamaian dan kesejahteraan, kami juga prihatin dengan berita-berita tentang menghukum Muslim di Amerika. Kampanye yang tidak dapat diterima ini yang diluncurkan di Inggris, dengan cepat menyebar ke negara lain dan sekarang menargetkan Muslim Amerika."

Namun, reaksi atas pengiriman surat tersebut di Inggris tidak terbatas pada pernyataan keprihatinan, beberapa pihak merespon dengan cara berbeda yaitu meluncurkan kampanye Love a Muslim Day.

Masyarakat Muslim Inggris memiliki pesan bagi para ekstremis yang menyerukan Hari Menghukum Muslim dan mereka berkata, "Cukup sudah. Kami tidak ke mana-mana."

Dari Edinburgh ke Manchester, Bradford, dan melintasi London, masyarakat Muslim menentang kampanye kebencian yang menyerukan hari kekerasan. Sebaliknya, mereka mengubah 3 April menjadi "Love a Muslim Day" serta menyebarkan pesan toleransi dan kedamaian.

Asosiasi Wanita Muslim Edinburgh mendorong kota untuk terlibat dengan kampanye "Love a Muslim Day." Juru bicara asosiasi tersebut mengatakan, "Kami meminta para pendukung untuk mengirim pesan positif kepada umat Islam di media sosial sepanjang hari pada hari Selasa, 3 April 2018."

Shahab Adris, seorang aktivis dari Leeds, mengajak warga dari agama lain untuk mengirim pesan cinta kepada Muslim sebagai upaya untuk melawan kampanye kebencian. Surat “Love A Muslim” gagasan Adris ini meniru format kampanye “Punish a Muslim.” Tapi alih-alih menyerukan aksi kekerasan, surat ini mendorong aksi kebaikan. Misalnya, surat tersebut memberikan 10 poin untuk tersenyum pada Muslim, 25 poin untuk membeli kopi Muslim dengan kue, 500 poin untuk puasa dengan Muslim selama Ramadhan, dan 1.000 poin untuk mengumpulkan dana untuk membantu penduduk miskin Irak atau Suriah.

Adris menuturkan kepada surat kabar HuffPost bahwa “Ada begitu banyak yang dapat kita pelajari satu sama lain dan bersama-sama kita dapat membuat komunitas kita menjadi lebih ramah dan bebas dari ketegangan.”

Terlepas dari semua upaya yang dilakukan umat Islam dan penentang rasisme dan ekstremisme untuk melawan penyebaran kebencian terhadap Muslim di Inggris dan tempat lain di Eropa, namun fenomena serangan terhadap Muslim Inggris terus meningkat, bahkan anak-anak Muslim tidak luput dari serangan ini.

Surat kabar The Guardian melaporkan bahwa orang tua Muslim di Inggris telah memaksa anak-anaknya untuk belajar di rumah. Hasil penelitian di Inggris menunjukkan siswa Muslim di negara itu terpaksa meninggalkan sekolah dan belajar di rumah karena bullying rasis di sekolah.

Berdasarkan penelitian Birmingham University, rasisme adalah alasan paling penting bagi orang tua Muslim untuk mengeluarkan anak-anak mereka dari sekolah. Dalam beberapa dekade terakhir, kelompok-kelompok ekstremis sayap kanan di Inggris telah menciptakan ketakutan dan kecemasan seperti itu bagi warga Muslim.

Pada saat yang sama, polisi tidak mampu melacak dan menindak orang-orang yang secara resmi dan terbuka meluncurkan kampanye Hari Menghukum Muslim dan menawarkan poin kepada orang-orang yang menyerang dan menyakiti warga Muslim.

Ajakan kekerasan secara terbuka di Inggris dan negara-negara lain Eropa, dapat dianggap sebagai dampak dari kampanye miring media-media Eropa dan pemerintahan mereka. Dalam beberapa tahun terakhir, media dan pemerintah Eropa berusaha memperkenalkan Islam sebagai agama pendukung kekerasan kepada publik Barat.

Lewat propaganda anti-Islam ini, pemerintah Barat berusaha untuk membenarkan intervensi mereka di negara-negara Muslim dan melepaskan tanggung jawabnya dalam menyebarkan terorisme serta mendukung kelompok-kelompok ekstremis, yang melakukan kejahatan atas nama Islam. (RM)

Tags

Komentar