Sep 18, 2019 09:40 Asia/Jakarta
  • 18 September 2019
    18 September 2019

Hari ini, Rabu 18 September 2019 bertepatan dengan 87 Muharam 1441 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 27 Shahrivar 1398 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari ini di masa lampau.

Kelahiran Abu Manshur Tsa’alibi

1091 tahun yang lalu, tanggal 18 Muharam 350 HQ, Abu Manshur Tsa’alibi, sastrawan Islam abad keempat lahir ke dunia.

Sejarah

Abu Manshur Abdul Malik bin Muhammad bin Ismail Tsa’alibi seorang sastrawan dan ahli bahasa terkenal abad keempat dan kelima Hijriah. Ia lahir di kota Neishabur, Iran. Karya-karya Tsa’alibi sangat dikenal di kalangan sastrawan dan ahli bahasa, sehingga ia dikenal dengan nama “Imam al-Mushannifin dan Ra’s al-Muallifin”. Buku Makarim al-Akhlak dan al-Amtsal merupakan sebagian dari karyanya.

Abu Manshur Tsa’alibi meninggal dunia pada tahun 429 Hijriah dalam usia 79 tahun.

Pesan Imam Khomeini ra Menyusul Gempa Bumi Tabas

41 tahun yang lalu, tanggal 27 Shahrivar 1357 HS, Imam Khomeini ra mengirim pesan menyusul gempa bumi Tabas.

Imam Khomeini ra

Pasca terjadinya gempa bumi besar di kota Tabas pada 25 Shahrivar 1357 HS, rezim Pahlevi berusaha meraih simpati rakyat Iran dengan mengumumkan hari berkabung nasional. Melihat upaya rezim Pahlevi, Imam Khomeini ra dari Najaf, Irak mengeluarkan pesan belasungkawa pada 27 Shahrivar 1357 HS dan menyampaikan solidaritasnya dengan keluarga korban gempa, sekaligus mengungkap niat buruk rezim Shah.

Sekaitan dengan pernyataan berkabung nasional yang disampaikan oleh rezim Pahlevi, Imam Khomeini ra mengatakan, "Mereka yang membantai ribuan orang terbaik dari putra-putri kita (pada 17 Shahrivar 1357) secara bengis, kini berusaha untuk menyimpangkan opini umum dengan mengucapkan belasungkawa. Mereka menitikkan air mata buaya."

Dalam pesannya, Imam Khomeini ra meminta seluruh umat Islam untuk langsung memberikan bantuan kepada korban gempa.

Sekjen PBB Dag Hammarskjold Tewas

58 tahun yang lalu, tanggal 18 September 1961, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Dag Hammarskjold, tewas dalam kecelakaan pesawat di kota Ndola, Rhodesia Utara.

PBB

Hammarskjold saat itu tengah berupaya mengatasi konflik bersenjata.  Kunjungannya ke Ndola saat itu dalam rangka menghadiri suatu perundingan damai, setelah terjadi pertempuran antara pasukan perdamaian PBB dan pasukan Katanga, wilayah di Kongo yang ingin memerdekakan diri.

Dag Hammarskjöld lahir 29 Juli 1905 di Swedia. Ayahnya pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Swedia (1914-1917). Dia belajar di Universitas Uppsala dan lulus dengan gelar master di bidang ekonomi politik dan sarjana di bidang hukum. Kemudian, dia pindah ke Stockholm.

Usai menyelesaikan studi doktoralnya, Hammarskjöld sukses meniti karier di Swedia. Dia pernah menjadi Gubernur Riksbank (bank sentral Swedia) dan Sekretaris Negara untuk urusan luar negeri.

Hammarskjöld diangkat sebagai Sekjen PBB yang kedua sejak April 1953. Selama menjabat, dia sangat berperan aktif untuk menyelesaikan konflik-konflik yang sedang berlangsung. Komitmennya ini mendapat penghargaan yang baik dari banyak negara.

Hammarskjöld dinobatkan sebagai pemenang Nobel Perdamaian tahun 1961 setelah kematiannya yang tragis.

Tags