Jan 20, 2020 18:02 Asia/Jakarta

Komandan Pasukan al-Quds Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Letnan Jenderal Qasem Soleimani diteror militer Amerika Serikat di Bandara Baghdad, Irak pada Jumat dini hari, 3 Januari 2020.

Letjen Soleimani dan Wakil Komandan Pasukan Relawan Irak Hashd al-Shaabi Abu Mahdi al-Muhandis gugur syahid dalam serangan udara militer AS yang mendapat perintah langsung dari Presiden Donald Trump.

Empat pasukan IRGC (Pasdaran) yang menyertai Letjen Soleimani dan empat anggota Hashd al-Shaabi yang menyertai Abu Mahdi al-Muhandis juga gugur syahid dalam serangan udara tersebut.

Letjen Soleimani diteror ketika melakukan kunjungan resmi ke Irak. Tindakan AS tidak hanya sebuah kejahatan besar tetapi juga melanggar hukum internasional, di mana seorang pejabat militer sebuah negara dibunuh ketika kunjungan resmi.

Presiden AS mengklaim bahwa dia memerintahkan pasukan Amerika untuk membunuh Letjen Soleimani pada 3 Januari 2020 karena pejabat tinggi militer Iran ini berencana untuk menyerang empat Kedutaan AS.

"Saya dapat mengungkapkan bahwa saya percaya (targetnya) itu ada empat kedutaan," kata Trump kepada Fox News tak lama setelah militer AS meneror Letjen Soleimani di Bandara Internasional Baghdad, ibu kota Irak.

Namun alasan tersebut dibantah sendiri oleh para pejabat tinggi AS. Menteri Pertahanan Mark Esper mengatakan bahwa tidak ditemukan adanya bukti spesifik dari para pejabat intelijen, yang bisa menunjukkan, bahwa Iran memang berencana menyerang empat kedutaan AS.

"Saya tidak melihat satupun (bukti rencana serangan)," kata Esper seperti dikutip CBS, Senin (13/1/2020).

Tuduhan yang dilontarkan Trump tidak sepenuhnya didukung oleh pemerintahannya. Beberapa anggota Partai Demokrat dan Republik di Kongres telah mempertanyakan kebenaran alasan serangan itu. Bahkan mereka menuntut adanya penjelasan yang memadai dan terperinci.

Selain itu, terungkap sejumlah fakta baru tentang pembunuhan terhadap Letjen Soleimani yang berakhir dengan serangan balasan rudal Iran ke pangkalan militer AS di Irak.

Salah satu fakta itu adalah misi pembunuhan terhadap pejabat militer Iran itu ternyata telah direncanakan tujuh bulan sebelumnya.

Menurut Sky News, sebuah sumber yang dirahasiakan namanya mengatakan bahwa rencana itu muncul sejak tujuh bulan, tepatnya Juni 2019.

Letjen Soleimani adalah Komandan Pasukan al-Quds IRGC yang ditugaskan dalam misi-misi tertentu di luar perbatasan Republik Islam Iran.

Sejak kemunculan kelompok teroris Takfiri Daesh (ISIS) buatan AS dan kelompok-kelompok teroris lainnya di Irak dan Suriah, pemerintah kedua negara itu meminta Republik Islam Iran untuk membantu menumpas terorisme. Soleimani ditugaskan untuk misi tersebut hingga akhirnya, Daesh di Irak dan Suriah berhasil ditumpas.

Teror terhadap Komandan Pasukan al-Quds merupakan contoh nyata dari kejahatan perang pemerintah AS dan puncak dari permusuhannya terhadap Republik Islam Iran. Perintah Trump untuk membunuh Letjen Soleimani merupakan bantuan besar Amerika kepada Daesh di Irak.

Selama 40 tahun terakhir, pemerintah AS telah melakukan berbagai kejahatan terhadap Republik Islam Iran, di mana di antara kejahatan-kejahatan itu adalah tekanan ekonomi dan sanksi, operasi militer dan kudeta, perang secara tidak langsung, penciptaan kelompok-kelompok teroris, Iranphobia, perang proksi, dan teror terhadap para ilmuwan dan para pejabat Republik Islam.

Teror terhadap Soleimani kembali menunjukkan bahwa ada hubungan erat antara pemerintah AS dan kelompok-kelompok teroris di kawasan. Sebab, pejabat senior militer Iran ini memiliki peran besar dalam menumpas kelompok-kelompok teroris terutama teroris takfiri Daesh.

Peran besar Soleimani dalam menumpas kelompok-kelompok teroris di Irak dan Suriah tidak bisa dipungkiri. Surat kabar The Guardian menyebutkan bahwa Soleimani masuk ke dalam daftar 10 tokoh di balik layar yang paling berpengaruh di dunia. Surat kabar itu menulis, AS dan Israel telah berulang kali berusaha untuk melenyapkannya.

Majalah Amerika Foreign Policy tahun lalu juga memasukkan Soleimani dalam daftar 10 pemikir terbaik di bidang pertahanan dan keamanan. Tak diragukan lagi bahwa hal itu dikarenakan peran khusus Komandan Pasukan al-Quds IRGC (Pasdaran) dalam menumpas terorisme, terutama di Irak dan Suriah.

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran Mohammad Javad Zarif  menyebut Soleimani sebagai orang yang paling efektif dalam menumpas Daesh, Front al-Nusra, al-Qaeda dan kelompok-kelompok teroris lainnya, sehingga dia menjadi incaran terorisme internasional Amerika.

Soleimani memiliki peran penting dalam membentuk dan memperkuat Poros Muqawama di Asia Barat (Timur Tengah), di mana Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei menyebutnya sebagai "Wajah Internasional Perlawanan".

Poros Muqawama hari ini merupakan pemain yang tidak dapat diingkari di kawasan Asia Barat. Oleh karena itu, Amerika, Arab Saudi, dan Israel tentunya tidak bisa mentolerirnya, sebab, poros ini menentang segala bentuk intervensi asing dan kompromi di kawasan. (RA)

Tags

Komentar