Jan 28, 2020 17:39 Asia/Jakarta

Presiden Amerika Serikat Donald Trump membela diri atas keputusannya membunuh Komandan Pasukan al-Quds Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Letnan Jenderal Qassem Soleimani di Bandara Baghdad, Irak pada Jumat dini hari, 3 Januari 2020, bahkan dia berujar bahwa tindakan tersebut seharusnya sudah lama dilakukan AS.

Trump menyebut Soleimani sebagai teroris nomor satu di Dunia. "Militer AS melakukan serangan presisi tanpa cacat yang menewaskan teroris nomor satu di dunia, Qassem Soleimani. Apa yang dilakukan AS kemarin seharusnya sudah dilakukan sejak lama. Banyak nyawa akan diselamatkan," kata Trump usai serangan teror yang dilakukan militer AS terhadap Komandan al-Quds IRGC (Pasdaran).

Klaim Trump bahwa Letjen Soleimani adalah teroris bertentangan dengan fakta di Asia Barat (Timur Tengah) dan pengakuan para pejabat tinggi Irak dan Suriah. Peran pejabat tinggi militer Iran itu dalam menumpas terorisme di kawasan juga tidak bisa dipungkiri oleh semua pihak,  meski negara-negara Eropa sekalipun. Sebab, jika kelompok teroris takfiri Daesh (ISIS) tidak ditumpas, tentunya saat ini kita akan menyaksikan aksi dan kekejaman mereka menyebar ke Eropa.

Letjen Soleimani adalah Komandan Pasukan al-Quds IRGC yang ditugaskan dalam misi-misi tertentu di luar perbatasan Republik Islam Iran. Sejak kemunculan teroris Daesh buatan AS dan kelompok-kelompok teroris lainnya di Irak dan Suriah, pemerintah kedua negara itu secara resmi meminta Republik Islam Iran untuk membantu menumpas terorisme.

Letjen Soleimani ditugaskan untuk misi tersebut hingga akhirnya, Daesh di Irak dan Suriah berhasil ditumpas dan berbagai wilayah kedua negara itu yang diduduki oleh kelompok teroris paling berbahaya ini bisa dibebaskan.

Teror terhadap Letjen Soleimani merupakan contoh nyata dari kejahatan perang pemerintah AS dan puncak dari permusuhannya terhadap Republik Islam Iran. Pada dasarnya, perintah langsung Trump untuk membunuh Letjen Soleimani adalah bantuan besar Amerika kepada teroris Daesh di Irak dan Suriah.

Yang pasti, teror terhadap Letjen Soleimani kembali menunjukkan bahwa ada hubungan erat antara pemerintah AS dan kelompok-kelompok teroris di kawasan Asia Barat yang telah ditumpas oleh pejabat tinggi militer Iran itu.

Peran besar Letjen Soleimani dalam menumpas kelompok-kelompok teroris di Irak dan Suriah tidak bisa dipungkiri. Surat kabar The Guardian menyebutkan bahwa Soleimani masuk ke dalam daftar 10 tokoh di balik layar yang paling berpengaruh di dunia. Surat kabar itu menulis, AS dan Israel telah berulang kali berusaha untuk melenyapkannya.

Majalah Amerika Foreign Policy tahun lalu juga memasukkan Soleimani dalam daftar 10 pemikir terbaik di bidang pertahanan dan keamanan. Tak diragukan lagi bahwa hal itu dikarenakan peran khusus Komandan Pasukan al-Quds IRGC dalam menumpas terorisme di Irak dan Suriah.

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran Mohammad Javad Zarif menyebut Letjen Soleimani sebagai orang yang paling efektif dalam menumpas Daesh, Front al-Nusra, al-Qaeda dan kelompok-kelompok teroris lainnya, sehingga dia menjadi incaran terorisme internasional Amerika.

Letjen Soleimani diteror bersama Wakil Komandan Pasukan Relawan Irak Hashd al-Shaabi Abu Mahdi al-Muhandis. Empat pasukan IRGC yang menyertai Letjen Soleimani dan empat anggota Hashd al-Shaabi yang menyertai Abu Mahdi al-Muhandis juga gugur syahid dalam serangan udara itu.

Letjen Soleimani diteror ketika melakukan kunjungan resmi ke Irak. Tindakan AS tidak hanya sebuah kejahatan besar tetapi juga melanggar hukum internasional, di mana seorang pejabat militer sebuah negara dibunuh ketika kunjungan resmi.

Tak puas dengan aksi jahat yang dilakukan secara pengecut tersebut, Amerika juga mengancam akan membunuh pengganti Letjen Soleimani. Wakil Khusus AS untuk Iran Brian Hook telah mengancam akan membunuh penerus Letjen Soleimani jika dia mengikuti jejak  pendahulunya.

"Jika (Ismail) Qa'ani mengikuti jalan yang sama untuk membunuh orang Amerika maka dia akan menemui nasib yang sama," kata Brian Hook menyinggung penunjukkan Brigadir Jenderal Qa'ani  sebagai Komandan baru Pasukan al-Quds IRGC, seperti dilansir Press TV, Kamis (23/1/2020).

Brian Hook  melontarkan ancaman dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Arab Saudi Asharq al-Awsat di sela-sela Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss.

"Ini bukan ancaman baru. Presiden (AS Donald Trump), selalu mengatakan bahwa dia akan selalu merespon dengan tegas untuk melindungi kepentingan Amerika," pungkasnya.

Brigjen Qa'ani ditunjuk oleh  Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei sebagai Komandan baru Pasukan al-Quds IRGC setelah militer AS meneror Letnan Jenderal Qassem Soleimani. Upacara pengangkatannya digelar pada  Senin 20 Januari 2020. (RA)

Tags

Komentar