Feb 10, 2020 15:37 Asia/Jakarta
  • Aksi pawai merayakan kemenangan Revolusi Islam di Bundaran Azadi Tehran.
    Aksi pawai merayakan kemenangan Revolusi Islam di Bundaran Azadi Tehran.

Revolusi Islam Iran mencapai kemenangannya pada 22 Bahman 1357 Hijriah Syamsiah atau Februari 1979. Revolusi ini merupakan sebuah peristiwa besar yang muncul ketika dunia berada di bawah dominasi dua kutub besar, blok Timur dan Barat.

Sebelum revolusi, Iran berstatus sebagai boneka Amerika Serikat di bawah pimpinan Mohammad Reza Pahlavi. AS menancapkan hegemoninya dengan tujuan menjarah sumber-sumber kekayaan dan memanfaatkan posisi geopolitik Iran di Asia Barat.

Sumber minyak Iran dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing. Kedutaan Besar AS di Tehran digunakan sebagai markas untuk melakukan kegiatan spionase. Presiden AS waktu itu, Jimmy Carter menyebut Iran sebagai pulau yang stabil di wilayah Timur Tengah yang bergolak.

Kemenangan Revolusi Islam dalam situasi seperti itu menjadi titik awal bagi sebuah transformasi global. Revolusi ini dengan ide-ide baru dan pengaruh globalnya, menantang kebijakan hegemonik kekuatan arogan terhadap bangsa-bangsa lemah dan mematahkan sistem monopoli di kancah internasional.

Sistem Republik Islam yang dilandasi oleh nilai-nilai agama dan penolakan terhadap unilateralisme kekuatan dunia, telah menjadi sebuah model baru bagi bangsa-bangsa lain dalam berjuang menentukan nasib mereka sendiri.

Seorang pengamat politik, Hamid al-Khalifah mengatakan, "… kemenangan Revolusi Islam di Iran merupakan salah satu peristiwa terbesar pada paruh kedua abad 20. Revolusi Islam Iran mempengaruhi banyak negara dan bangsa-bangsa serta membuka kesempatan baru bagi faksi-faksi perlawanan yang berjuang untuk kebebasan dan kemerdekaan."

Realitas ini telah mendorong arogansi global bangkit melawan Republik Islam Iran. Pernyataan para pejabat AS dari masa lalu hingga sekarang adalah sebuah bukti nyata dalam hal ini. Misalnya saja, mantan Wakil Menlu AS untuk Urusan Timur Tengah, Martin Indyk pernah berkata, "Revolusi Islam harus diberi hukuman berat sehingga menjadi pelajaran bagi negara-negara yang ingin bergerak independen dan melepaskan diri dari hegemoni AS."

Namun terlepas dari semua permusuhan ini, Revolusi Islam tetap menang dan kerkibar. Revolusi ini menghadirkan independensi bagi Iran dan menghidupkan semangat kemerdekaan untuk dihadiahkan kepada dunia. Revolusi Islam memberikan sebuah keteladanan untuk hidup mandiri bagi bangsa-bangsa tertindas.

Secara teoritis, Revolusi Islam Iran memiliki tiga keunggulan utama yaitu: pertama, pengaruh nilai-nilai Revolusi Islam tetap hidup. Kedua, menjaga independensi nyata tanpa bergantung pada dukungan kekuatan global. Dan ketiga, melanjutkan gerakan progresif sesuai jalur revolusi.

Revolusi Islam – berbeda dengan revolusi lain di dunia – tidak meninggalkan nilai-nilai dan cita-cita awalnya seiring perjalanan waktu. Dengan melanjutkan gerakan evolusi, ia telah menjadi sebuah simbol gerakan menuntut hak di kancah kehidupan politik dan sosial.

Dengan melihat fakta ini, AS mengambil tindakan besar-besaran dan sekarang juga menyusun skenario baru untuk merongrong Iran. Gedung Putih dalam konteks perang lunak, bermimpi untuk menyeret Iran dalam sebuah kekacauan. Mereka berharap Iran akan menghadapi sebuah krisis besar sekaligus di tingkat internal dan regional.

Surat kabar The New York Times dalam sebuah artikelnya mengulas dukungan Presiden Donald Trump terhadap para perusuh di Iran dan menulis, rakyat Iran punya beragam pandangan mengenai pemerintahannya, tapi mereka tidak ingin Trump ikut campur dalam aksi protes ini.

Bukti dan dokumen menunjukkan bahwa antek-antek asing yang menerima perintah dari AS dan beberapa negara Eropa, memimpin aksi kerusuhan di Iran. Ratusan ribu warga Iran di beberapa kota kemudian turun ke jalan-jalan untuk mengecam para perusuh dan pendukungnya, yang telah membuat keonaran dengan merusak dan membakar properti publik.

Jutaan warga Iran juga turun ke jalan-jalan untuk mengikuti upacara tasyi' jenazah Komandan Pasukan Quds, Letnan Jenderal Qassem Soleimani yang gugur syahid dalam serangan pasukan teroris AS pada 3 Januari 2020. Dengan kearifan dan kedewasaannya, rakyat Iran menciptakan momen-momen yang akan selalu dikenang dalam sejarah Revolusi Islam.

Menurut pencetus sosiologi modern asal Prancis, Emile Durkheim, syarat keutuhan sebuah masyarakat adalah adanya rasa solidaritas di antara anggotanya.

Durkheim percaya bahwa tidak ada masyarakat yang tidak memandang perlu untuk menampilkan solidaritas dan cita-cita kolektif secara berkala, karena mereka adalah elemen pembentuk persatuan dan karakter sebuah komunitas.

Bangsa Iran – sejak awal kemenangan Revolusi Islam sampai sekarang – bangkit menghadang semua fitnah dan konspirasi musuh, dan membuktikan bahwa mereka kebal terhadap infiltrasi musuh.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei mengatakan, "Ketangguhan bangsa ini bisa disaksikan dari kemenangan rakyat Iran dalam Revolusi Islam dan Perang Pertahanan Suci, serta dari perlawanan mereka terhadap konspirasi musuh selama 40 tahun terakhir, karena bangsa ini tidak pernah merasa lemah dan tunduk dalam menghadapi berbagai konspirasi dan serangan musuh."

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei.

Seorang peneliti ilmu politik, Sayid Abdollah Motevalian menuturkan, "Sejarah upaya penggulingan sistem Republik Islam Iran melalui perang lunak kembali ke tahun-tahun terakhir perang yang dipaksakan. Upaya ini dilakukan oleh Setan Besar dengan bantuan sukutunya terutama negara-negara Eropa."

Menurutnya, ketahanan bangsa Iran dalam melawan konspirasi seperti perang, teror, dan sanksi ekonomi telah mendorong Amerika untuk memikirkan pergantian sistem di Iran. Hasil studi yang dilakukan oleh pusat-pusat riset AS tentang Iran, merekomendasikan proyek penggulingan sistem.

Dalam hal ini, AS mencoba melemahkan sistem Republik Islam melalui sanksi sistematis dan tindakan-tindakan destruktif lainnya. Musuh-musuh Islam berkesimpulan bahwa mereka perlu menciptakan perpecahan untuk merusak persatuan dan kekuatan bangsa Iran. Musuh menargetkan sistem Republik Islam dan cita-cita revolusi dengan menyebarkan virus keputusasaan di tengah masyarakat.

Namun, bangsa Iran dengan bekal persatuan dan pengenalannya tentang musuh, selalu membuat musuh gagal dalam mencapai tujuannya.

Ayatullah Khamenei mengatakan, "Biaya besar dan skenario rumit AS untuk menciptakan perpecahan politik, mazhab, etnis, dan bahasa di Iran akan sia-sia dan gagal. Pertumbuhan dan kemajuan Iran tentu saja akan berlanjut di periode presiden AS saat ini. Dengan izin Allah Swt, bangsa Iran dan Republik Islam akan mengecewakan AS di semua bidang."

"Kekesalan (karena gagal) dalam menumbangkan atau melemahkan Republik Islam akan selalu membara di hati mereka," ujarnya. (RM)

Tags

Komentar