Mar 03, 2020 17:20 Asia/Jakarta
  • Konflik Air
    Konflik Air

Salah satu dampak penting dari kekeringan dan krisis air adalah perang air (water war). Kekeringan dan kelangkaan air kini menjadi fenomena global. Kondisi ini diperparah dengan perusakan lingkungan sehingga memicu perubahan iklim.

Perang adalah fenomena merusak yang menarget sendi-sendi kehidupan manusia dan melumpuhkannya. Dunia sampai saat ini menyaksikan beragam bentuk perang mulai dari perang konvensional, perang dingin, perang lunak, perang gerilya dan perang rahasia serta perang lainnya yang menimbulkan kerusakan parah terhadap umat manusia. Kerusakan yang tidak dapat dikompensasi.

Kekerasan yang terkait dengan air telah meningkat dalam dekade terakhir. Menurut database komprehensif konflik terkait dengan sumber daya vital menunjukan ketegangan terjadi akibat berkurangnya pasokan air bersih di banyak bagian dunia.

Wisata Air Panas Padusan Pacet Mojokerto Ditutup Sementara Dua Wisatawan Hilang Terseret Arus di Air Terjun Coban Cinde Bendung Gerak Tingkatkan Pasokan Air Baku ke Ibu Kota

"Ketika air menjadi semakin langka, karena ini merupakan sumber daya yang kritis, orang akan melakukan apa pun yang dapat mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka," kata Presiden pendiri Institut Pasifik dan otoritas terkemuka dalam masalah air Peter Gleick.

Tercatat insiden kekerasan terkait air meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 10 tahun terakhir dibandingkan dengan dekade sebelumnya. Kondisi itu sebagai akibat dari pertumbuhan populasi, pengelolaan sumber daya yang buruk, dan peristiwa cuaca ekstrem yang terkait dengan krisis iklim.

Statistik yang dilakukan oleh lembaga Pacific Institute yang berbasis di Kalifornia, Amerika Serikat, mendokumentasikan kasus-kasus di mana air menjadi pemicu pertempuran. Air pun sangat mudah digunakan sebagai senjata atau dapat terganggu oleh konflik.

Salah satu kasus adalah penembakan pada Juni 2019 di dekat pipa air di Horlivka, Ukraina. Peristiwa itu menyebabkan 3 juta orang di kedua sisi garis depan tanpa pasokan air yang dapat diandalkan.

Kasus penembakan lima petani pada Juni 2017 memprotes air dan masalah lainnya di negara yang dilanda kekeringan. Ada pula sebuah serangan senjata pada konvoi tanker air di provinsi Papua Barat Indonesia pada 2012.

Gleick mengakui, peningkatan pelaporan kasus berkat kemajuan konektivitas dalam mengabarkan. Namun, database mengungkapkan penurunan kecil dalam insiden yang dilaporkan antara 2000 dan 2010, menunjukkan peningkatan teknologi komunikasi tidak sepenuhnya menjelaskan tren.

"Buktinya jelas ada kekerasan yang tumbuh terkait dengan sumber daya air tawar, baik konflik atas akses ke air dan terutama serangan terhadap sistem air sipil," kata Gleick.

Dikutip dari The Guardian, bersamaan dengan kelangkaan air tawar dan memperburuk, ada keinginan yang meningkat oleh pasukan tempur untuk mempersenjatai pasokan air. Cara itu dilakukan terutama dalam konflik Timur Tengah baru-baru ini.

"Telah ada sejumlah besar serangan dalam beberapa tahun terakhir di Yaman tetapi juga di Suriah dan Irak, di mana jelas dalam pelanggaran langsung terhadap hukum internasional, infrastruktur air sipil telah sengaja ditargetkan, tanpa henti," ujar Gleick.

Di satu kota di Suriah, Aleppo, basis data mencakup entri seperti serangan pada 2012 pada pipa yang membuat kota berpenduduk 3 juta orang itu kekurangan air parah. Dua tahun kemudian, pemerintah Suriah dituduh membom stasiun pompa dan jaringan distribusi air di daerah-daerah yang dikuasai oposisi.

Pada 2014, ISIS dituduh meracuni persediaan air ke kota. Setahun kemudian, milisi Jabhat al-Nusra membom pipa air utama, yang menyebabkan keracunan lebih dari 100 penduduk Aleppo.

Sedangkan, laporan Unicef, pilot Rusia menghantam sebuah fasilitas pengolahan air, memotong pasokan ke lebih dari 3 juta orang. Ketika tentara Suriah bergerak di Aleppo timur pada 2017, ISIS dilaporkan membanjiri desa-desa untuk mencoba memperlambat serangan.

World Resources Institute mengatakan pada Agustus, 17 negara yang merupakan rumah bagi seperempat populasi dunia menghadapi tekanan air sangat tinggi. Sebanyak 12 negara di antaranya di Timur Tengah.

Qatar ditemukan sebagai yang paling tertekan. Artinya pertanian, industri, dan kota menggunakan hingga 80 persen dari permukaan dan air tanah yang tersedia dalam satu tahun rata-rata, membuat pasokan sangat rentan terhadap kekurangan. Kondisi serupa pun terjadi di Israel, Libanon, Iran, dan Yordania.

Mengingat kondisi dunia saat ini, kini muncul peluang baru bagi konfrontasi yang menurut pengamat disebut konflik air (water war). Indikasi konflik ini sejak kini dapat disaksikan di berbagai wilayah dunia. Sepuluh tahun lalu, para pakar memprediksikan dunia akan mengalami krisis air. Menurut prediksi pakar, hingga tahun 2015 puluhan juta orang di dunia akan mengalami krisis air dan dua pertiga populasi dunia tidak dapat mengakses air bersih.

Peringatan ini menyatakan bahwa menurunya air dapat berujung pada penurunan bahan makanan dan energi. Oleh karena itu, konflik air bukan sebuah halusinasi untuk waktu dekat, tapi sebuah isu sangat serius di mana sejak saat ini kita telah menyaksikan indikasi dan berbagai konflik oleh sejumlah negara yang mulai mengalami krisis air. Sama seperti friksi antara Mesir dan Ethopia selama beberapa tahun terakhir yang hampir berakhir dengan perang.

Koran The Christian Science Monitor beberapa waktu lalu di laporannya yang patut untuk direnungkan mengisyaratkan perang air di dunia dan menulis, para pakar mengatakan bahwa laju populasi dunia dan menurunnya air yang layak dikonsumsi akan mendorong permintaan global akan air dalam beberapa dekade kedepan meningkat tajam.

Lembaga riset World Resources Institute (WRI), mengkaji potensi meletusnya konflik air di 167 negara dunia hingga tahun 2020, 2030 dan 2040 serta menurut temuan lembaga ini 33 negara hingga tahun 2040 akan menghadapi konflik air paling besar. Menurut lembaga ini, level tertinggi konflik air akan terjadi di 14 negara Asia Barat dan Afrika utara.

Menurut para peneliti, Timur Tengah adalah wilayah yang memiliki air minimal karena menggunakan banyak air tanah, menawarkan air laut dan menghadapi banyak tantangan air di masa mendatang.

World Resources Institute percaya bahwa dengan tekanan air saat ini, sektor pertanian, ekonomi dan masyarakat di negara-negara ini mungkin lebih terpengaruh daripada sekarang. “Permintaan global akan air kemungkinan akan meningkat dalam beberapa dekade mendatang seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan permintaan, mendorong lebih banyak penduduk pedesaan ke kota-kota,” menurut para peneliti dari World Resources Institute. Fenomena ini memberi banyak tekanan pada kelas menengah komunitas ini untuk mengakses makanan dan listrik.

Para peneliti percaya bahwa dampak penuh dari perubahan iklim yang dapat menyebabkan kekeringan atau kelangkaan air di seluruh dunia belum ditentukan, tetapi bukti menunjukkan bahwa sebagian Eropa akan menghadapi kekeringan terburuk. Beberapa bagian Cina, India, dan Amerika Serikat, terutama bagian barat daya negara itu, akan menghadapi tekanan air pada tahun 2020. Beberapa negara di dunia, termasuk Chili, Namibia dan Botswana, sudah mengalami tekanan air yang parah akibat kekeringan, menurut World Resources Institute.

Poin unik dari laporan ini adalah isyarat perang di Suriah dan pendekatan Daesh (ISIS). Menurut pengamat, kelangkaan air sebab utama meletusnya perang saudara di Suriah tahun 2011 dan kelangkaan air di negara ini telah membantu instabilitas serta menyeret negara ini ke perang saudara!!!

Konflik air biasanya dimulai dalam skala kecil dan lokal, namun seiring dengan kelangkaan sumber kehidupan ini, protes masyarakat kecil dapat meluas dengan cepat. Misalnya kerusuhan yang memicu perang multi etnis dan terbentuknya kelompok teroris Daesh dimulai dengan protes air. Tensi dan meletusnya perang di Suriah dimulai ketika sejumlah pemuda di kota Daraa di selatan Suriah tengah menulis protes pembagian air oleh gubernur di atas tembok-tembok dan kemudian mereka ditangkap. Penangakapan dan perlakuan yang tak tepat terhadap pemuda tersebut, telah membuat marah kabilah mereka.

Daesh yang dibentuk dengan dukungan Amerika Serikat, Israel dan para pangeran Arab, di strateginya sangat mementingkan air dan mereka menyadari akan terjadinya konflik air di masa mendatang. Oleh karena itu, kota Raqqa yang termasuk pangkalan utama Daesh hanya berjarak 40 km dari sumber utama air yakni sepanjang sungai Furat (Danau Asad). Ekonomi Raqaq sejak lama bertumpu pada penanaman kapas dan sangat bergantung pada danau ini. Danau ini terbentuk pada tahun 1973 berkat pembangunan Bendungan Tabaqa dan dirancang untuk memasok 2.500 mil persegi air bagi lahan pertanian.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa selama lima puluh tahun terakhir telah terjadi lebih dari 37 kasus konflik air antar negara, yang mengarah pada konflik militer. Lebih dari 30 di antaranya terkait dengan konflik Israel terkait sumber daya air bersama dengan tetangga di wilayah pendudukan. Sebagian besar konflik ini terjadi pada 1950-an dan 1960-an antara rezim Zionis dan negara-negara Suriah dan Yordania mengenai transfer air ke sungai Jordan dan sungai Yarmouk.

Penelitian yang ada terkait konflik sumber air bersama selama 50 tahun terakhir menunjukkan bahwa terjadi 1831 peristiwa di dunia di mana 1228 di antaranya berkaitan dengan partisipasi dan kerja sama antara negara serta 507 terkait dengan tensi utama.

 

 

 

 

Tags

Komentar