Mar 03, 2020 17:13 Asia/Jakarta
  • perkembangan iptek di Iran
    perkembangan iptek di Iran

Para peneliti di sebuah perusahaan berbasis sains di Pusat Pengembangan Bioteknologi, Universitas Ilmu Kedokteran Qazvin, Iran berhasil memproduksi sabuk untuk mengatasi gangguan pencernaan termasuk sembelit khususnya pada para penderita diabetes, dan obesitas.

Menurut direktur perusahaan ini, produk tersebut dibuat berdasarkan pergerakan usus besar sehingga menyebabkan zat yang menempel di dinding perut terguncang, dan masalah pencernaan bisa diatasi. Gerakan anatomi usus ini dilakukan dalam 20 kali pertemuan sampai masalah pencernaan teratasi.
 
Pelaksana penelitian mengatakan, kebanyakan penderita diabetes mengalami sindrom usus malas, dan menderita akibat efek sampingya, orang-orang semacam ini dan mereka yang mengalami masalah obesitas dapat memanfaatkan sabuk tersebut. 
 
Dalam uji coba yang dilakukan, 95 persen masalah pencernaan dapat diatasi dengan sabuk ini. Sabuk yang diuji di bawah pengawasan 9 dokter subspesialis pencernaan ini, belum pernah dibuat sebelumnya, dan sekarang sudah mendapatkan hak paten, rencananya akan mendapat hak paten internasional.
 
Direktur perusahaan menjelaskan, sabuk ini sudah mendapat pengakuan dari tim medis Universitas Ilmu Kedokteran Qazvin, dan mendapat izin berbasis sains. Sabuk yang dipercaya bisa mengatasi gangguan pencernaan ini merupakan kombinasi dari pengetahuan modern dan tradisional, ia juga dapat menjadi alternatif pengganti obat. 
 
Pada kenyataannya sabuk ini bekerja untuk memulihkan kinerja usus. Selain itu dapat membantu mengatasi sembelit, perut kembung, muntah darah, sakit perut akut, dan yang lainnya. 
 
Orang lanjut usia, anak-anak, pekerja yang sedikit bergerak, pegawai kantor, disabilitas, pasien yang dirawat di rumah sakit, penderita diabetes, dan Hipotiroidisme, Parkinson, MS, dan pengguna obat sembelit dapat menggunakan sabuk ini untuk mengatasi masalahnya.
 
----
 
Para peneliti di sebuah perusahaan berbasis sains lainnya, berhasil memproduksi sebuah kapsul yang bisa memperpanjang umur, dan menguatkan tubuh secara umum. 
 
Tanaman liar Pegagan atau Centella Asiatica adalah sebuah tanaman kecil dengan batang kecil, dan daun berbentuk hati. Tanaman ini di India dianggap sebagai obat herbal, dan dikenal dengan tanaman “usia muda”. Semua bagian tanaman ini mulai dari akar, daun, buah hingga batangnya, berkhasiat sebagai obat. 
 
Tanaman ini bermanfaat untuk meningkatkan daya ingat anak keterbelakangan mental, mengobati Psoriasis, menyembuhkan luka sifilis, dermatitis, menambah kekuatan jasmani, memulihkan neuron-neuron yang cedera, berfungsi sebagai antioksidan tinggi, menggerakkan sintesis kolagen dalam jaringan yang cedera, dan memulihkan aliran darah, dan mengobati penyakit eksim, serta memulihkan kesegaran tubuh, peremajaan tubuh, meningkatkan ingatan, meningkatkan kecerdasan, memperpanjang umur, kegembiraan dan kesehatan.
 
Perusahaan berbasis sains ini dengan dukungan Dana Inovasi dan Pengembangan Iran, menciptakan sebuah kapsul dari tanaman ini. Kapsul herbal CENTELLA TST mengandung ekstrak dan serbuk daun tanaman Centella Asiatica yang dalam waktu cepat bisa menambah kekuatan tubuh secara umum, menciptakan rasa gembira, kekuatan usia muda dan meningkatkan efisiensi kerja. 
 
Produk ini dibuat dalam bentuk kapsul 275 miligram dengan khasiat suplemen dan membantu memperpanjang umur. Hingga kini konsumsi kapsul ini tidak menimbulkan efek samping. Kapsul ini bisa dibeli dengan resep dokter.
 
----
 
CENTELLA TST

Para peneliti Universitas Shahid Bahonar Kerman, menciptakan Heavy metal bio-adsorbent dari kulit kacang pistachio yang mampu memurnikan logam berat pada limbah pabrik. Para peneliti untuk mengatasi masalah ini, menyiapkan biokomposit berbasis karbon dari kulit kacang pistachio sebagai adsorbent ion-ion logam berat, dan polutan organik dari larutan cair serta limbah industri. 

 
Menurut keterangan para peneliti, di awal proyek kulit kacang pistachio setelah dicuci, dan dikeringkan dihancurkan hingga seukuran 1-2 milimeter, dan ditempatkan pada suhu Pirolisis. Selain itu untuk mengaktifkan karbon, ia diletakkan di atas tungku uap, sehingga berubah menjadi karbon aktif. 
 
Setelah itu partikel nano logam diletakkan di atas permukaan karbon aktif sampai terlihat khasiat magnetisme. Bio-adsorbent logam berat ini dilakukan pada media air.
 
Menurut para peneliti, karbon aktif karena memiliki permukaan yang luas, pori-pori yang sangat kecil, bisa diaktifkan ulang sebagai salah satu adsorbent permukaan yang paling banyak digunakan dalam industri minyak dan petrokimia, militer, pangan, obat, kimia dan pemurnian air, serta udara dan pembersihan lingkungan. 
 
Produksi karbon aktif dengan bahan dasar kulit kacang pistachio yang terkenal keras, kacang almond, kacang walnut, limbah kapas, kulit beras, biji kurma, dapat menyebabkan penurunan biaya produksi, dan mengatasi permasalahan ketersediaannya. 
 
Daya serap yang tinggi, dan berbiaya murah memberikan bantuan besar bagi perdagangan adsorbent ini dalam sistem pemurnian limbah industri. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah memproduksi adsorbent dari karbon aktif dengan daya serap tinggi, dan menggunakan bahan dasar kulit kacang pistachio yang keras.
 
----
 
Para ilmuwan untuk pertama kalinya menemukan spesies Tumbuhan Pemakan Serangga di Kanada yang tidak memakan serangga dan laba-laba, tapi hewan bertulang belakang atau Vertebrata. Tumbuhan ini pada kenyataannya menelan kadal muda.
 
Tumbuhan pemakan serangga termasuk jenis hewan karnivora yang menjebak mangsanya di lubang tubuhnya. Lubang mirip kendi itu dipenuhi cairan. 
 
Tumbuhan pemakan serangga ini biasanya memangsa serangga dan laba-laba, dan biasanya hewan vertebrata bukanlah makanan mereka.
 
Para peneliti di Algonquin Park, Kanada menemukan spesies tumbuhan pemakan serangga yang hidup di rawa-rawa. Para peneliti mengamati banyak kasus yang menunjukkan tumbuhan pemakan serangga ini memangsa kadal muda.
 
Pakar ilmu hewan atau zoology di Universitas Guelph mengatakan, penemuan ini menunjukkan tumbuhan aneh dan langka yang mungkin saja tumbuh di belakang rumah, dan memangsa kadal. 
 
Puluhan tahun para ilmuwan di Algonquin Park, mengamati perilaku tumbuhan pemakan serangga, namun sampai saat ini tidak pernah menemukan kasus semacam ini. 
 
Kadal muda yang dimangsa tumbuhan tersebut ukurannya lebih kecil dari jari manusia, dan yang menarik adalah beberapa tumbuhan memangsa kadal dalam waktu bersamaan.[]

Tags

Komentar