May 05, 2020 15:20 Asia/Jakarta
  • Hubungan dan komunikasi sosial
    Hubungan dan komunikasi sosial

Manusia menyukai kejujuran secara fitrah. Bila manusia tidak menjauhi fitrah ilahi dan menjaga hatinya agar tetap bersih dari keburukan, ia tidak akan terjebak dalam kebohongan.

Salah satu faktor kunci dalam memiliki kehidupan yang lebih baik adalah hubungan sosial yang sehat. Komunikasi sosial yang baik memiliki banyak manfaat, terutama dalam kesehatan mental. Keterampilan komunikasi yang efektif memberi seseorang kemampuan untuk mengekspresikan pendapat, kepercayaan, keinginan, kebutuhan dan emosi mereka dan untuk meminta bantuan dan bimbingan dari orang lain ketika dibutuhkan. Salah satu komponen dasar dari hubungan sosial yang sehat adalah kejujuran dan kebenaran.

Imam Ali as mengatakan, "Orang yang jujur berada di ambang keselamatan dan kebesaran, sementara pembohong berada di ujung jurang dan kehinaan."

Salah satu kesamaan umum dari ajakan para nabi ilahi adalah panggilan untuk kejujuran dan menghindari ketidakjujuran dan kebohongan. Kejujuran adalah permata murni yang menarik kepercayaan orang-orang di sekitar Anda, dan kepercayaan itu seperti harta karun bagi orang yang jujur. Orang yang jujur tampak hebat dan terpuji di mata orang lain, dan orang-orang di sekitarnya jatuh cinta padanya. Kejujuran meningkatkan martabat seseorang dan menjadikan kepribadiannya populer dan dicintai.

Manusia secara naluriah jujur. Jika manusia tidak berpaling dari kodrat ilahinya dan membersihkan hati murni mereka dari kejahatan, mereka tidak akan terjebak dalam kebohongan. Dalam hal ini, kami merujuk pada pepatah terkenal yang mengatakan, "Dengarkan kejujuran dari ucapan anak." Anak-anak tidak tahu kebohongan karena mereka memiliki perilaku bawaan dengan kemurnian jiwa dan hati mereka, dan mereka hanya mengatakan yang sebenarnya. Karena kodrat manusia didasarkan pada kebenaran, pencarian kebenaran, dan kejujuran.

Kejujuran dalam analisis psikologis mengacu pada ucapan dan perilaku di mana seseorang tidak memiliki motivasi atau niat untuk berbicara atau berperilaku berbeda. Artinya, kejujuran bukan hanya tentang mengatakan hal yang benar, tetapi tentang mengadaptasi tindakan dan ucapan seseorang setiap saat. Pentingnya kejujuran adalah karena seseorang yang tidak jujur tidak mengenal dirinya sendiri atau orang lain, dan pada saat yang sama telah menipu dirinya sendiri dan orang lain, dan ini merupakan hambatan untuk mencapai kesempurnaan moral.

Menurut para psikolog, fondasi pertama penjelasan dan akar kejujuran diletakkan dalam keluarga. Kejujuran harus didahulukan dalam lingkungan keluarga, sebagai komunitas pertama dan terpenting di mana seseorang tumbuh dan mulai belajar. Orang tua adalah teladan pertama yang dapat mengajarkan kejujuran kepada anak-anak mereka melalui perilaku dan ucapan mereka. Kemudian, dalam lingkungan pendidikan, anak-anak menjadi lebih akrab dengan konsep kejujuran, dan dalam pertemuan keluarga, mereka mengukur kejujuran orang-orang di sekitar mereka. Anak-anak mengikuti contoh orang dewasa.

Dr. Sahel Hemmati, seorang staf ahli di Universitas Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Rehabilitasi di Tehran dan seorang ahli saraf, mengatakan, "Jujur dengan seorang anak mungkin tampak sulit bagi beberapa orang tua. Jujur sebenarnya berarti menciptakan hubungan antara anak dan realita. Ketika kita menunjukkan realita kepada anak, berarti kita jujur padanya."

Bersikap jujurlah pada anak

Sementara itu, sebagian besar anak yang dipelajari dalam penelitian ini menderita perilaku ganda orang tua. Apa yang membuat mereka lebih dekat dengan kebenaran adalah tindakan orang tua, bukan kata-kata mereka. Misalnya, frasa "Aku akan membelimu besok" adalah frasa yang akrab bagi anak-anak dan berarti bahwa keinginan mereka akan terpenuhi di masa depan, tetapi bagi sebagian besar dari mereka, "Aku akan membeli untukmu" berarti "Aku tidak akan membeli."

"Daripada membuat cerita yang tidak pantas untuk anak-anak dan membuat janji yang tidak bisa kita lakukan, lebih baik menjelaskan tujuan segalanya kepada mereka dan jujur dengan mereka," kata Dr. Hemmati.

Berbohong menabur benih ketidakpercayaan di lingkungan keluarga dan menyebabkan kerusakan psikologis dan moral. Ayatullah Khamenei mengatakan kepada pasangan suami dan istri tentang pentingnya kejujuran, "Jika seorang wanita merasa bahwa suaminya berbohong kepadanya atau seorang pria merasa bahwa istrinya berbohong kepadanya dan masing-masing dari mereka merasa bahwa yang lain tidak tulus dalam mengungkapkan cinta, hal ini akan membuat dasar fondasi akan melemah. Jika kamu ingin cinta bertahan, tetap menjaga kepercayaan dan jika kamu menginginkan kehidupan yang berkelanjutan, harus mempertahankan cinta."

Kejujuran antara pria dan wanita, yang juga menjadi panutan bagi anak-anak mereka, bahkan sangat penting. Tidak ada yang lebih buruk daripada tidak bisa mempercayai orang terdekat dalam hidup, yaitu pasangannya. Tentu saja, hidup dengan pasangan yang berbohong tidak menyenangkan bagi siapa pun, dan itu menghancurkan kedamaian hidup. Untuk hidup lebih baik, kita harus membuat kejujuran hubungan kita.

Untuk hidup lebih baik kita harus meletakkan kejujuran dalam hubungan

Mungkin dalam hidup bersama, kali pertama berbohong, Anda tidak melihat reaksi khusus dari pasangan Anda, tetapi setelah beberapa saat, dia akan menjadi semakin tidak percaya pada Anda atau menjawab dengan kasar dan yang lebih buruk adalah mungkin saja ia tidak lagi mencintai anda.

Ada banyak orang yang, ketika pasangan mereka terus-menerus berbohong kepadanya, merasa bahwa mereka tidak lagi memiliki respek dalam pikiran mereka dan bahkan tidak mencintai mereka!

Tidak adanya kejujuran pada suami atau istri menyebabkan ketidakpercayaan dan pesimisme di lingkungan keluarga dan menciptakan dasar bagi perselisihan.

Dalam pandangan Islam, sangat penting untuk memenuhi kewajiban kita untuk setengah dari keberadaan kita (pasangan) dan anak-anak. Diriwayatkan bahwa, "Ada empat sifat di mana keberadaannya pada seseorang akan membuat imannya lengkap, dosa-dosanya diampuni dan dia bertemu Tuhannya sementara Dia rela dengannya; orang yang memenuhi kewajibannya kepada orang-orang, lisannya jujur dengan orang lain, ia malu dengan keburukan di depan Allah dan masyarakat dan memiliki perilaku yang baik bersama keluarganya."

Lalu, mengapa sebagian orang berbohong?

Berbohong biasanya dimulai pada usia dini sebagai anak, bahkan anak berusia 2 tahun dapat dengan mudah berbohong. Tetapi ketika ketika anak menyadari pentingnya kata dan frasa serta memahami bagaimana kata-kata tertentu dapat memiliki efek yang luar biasa, secara sadar ia mulai berbohong. Akar penyebab sifat tidak baik ini harus dicari dalam keluarga. Ketika orang tua dengan mudah mengucapkan pernyataan bohong, anak-anak menjadikannya sebagai dasar etikanya dan mulai belajar bicara yang kontradiksi. Namun, setelah memasuki masyarakat, ketika mereka tidak mencapai hasil yang diinginkan, mereka membiarkan diri mereka untuk menyembunyikan kebenaran dan melakukan tindakan tidak senonoh ini.

Berbohong bukan hanya kebobrokan moral, tetapi mencegah manusia mencapai kesempurnaan spiritual. Berbohong adalah tanda kepribadian manusia yang goyah, itulah sebabnya kejujuran adalah salah satu ciri utama kepahlawanan. Rasulullah Saw berkata, "Seorang pembohong tidak berbohong kecuali karena merasa dirinya hina."

Imam Ali as juga mengatakan, "Hindari pertemanan dengan pembohong karena ia seperti fatamorgana, membuat yang jauh jadi dekat dan yang dekat jadi jauh."

Ketika seseorang dapat mempraktekkan kejujuran dan kebenaran, saat ia telah mengambil langkah yang melampaui pendidikan masa kecilnya. Bahkan jika dia belajar berbohong sebagai seorang anak dan menjalani hidupnya dengan sebuah kebohongan, dia bisa menjadi orang yang jujur. Kejujuran membutuhkan latihan dan upaya, dan harus berusaha. Seseorang terbebas dari kebohongan ketika dia mengenali keburukan dan kekurangan kepribadiannya lalu berusaha menghilangkan kekurangannya dan mencapai aktualisasi diri.

Dalam hal ini, tidak ada perbedaan antara agama Ibrahim atau agama non-Ibrahim. Semua agama sama-sama menghargai kejujuran dan menganggap kebohongan dan ketidakjujuran sebagai hambatan bagi kesempurnaan dan kejahatan moral. Jika seseorang mengikuti jalan kejujuran dan mengatakan yang sebenarnya, banyak kekhawatiran dan kecemasan yang disebabkan oleh kemunafikan dan kebohongan akan dihilangkan darinya, dan kemudian ia akan mendapatkan ketenangan pikiran.

Tags

Komentar