May 30, 2020 10:13 Asia/Jakarta
  • 30 Mei 2020
    30 Mei 2020

Hari ini, Sabtu tanggal 30 Mei 2020 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 7 Syawal 1441 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 10 Khordad 1399 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.

Berlangsungnya Perang Uhud

1438 tahun yang lalu, tanggal 7 Syawal 3 HQ, terjadilah perang Uhud antara kaum Muslimin dengan kaum Musyrikin di gunung Uhud, sebuah kawasan di utara kota Madinah.

Kaum Musyrikin Quraisy setelah kekalahan besar mereka di perang sebelumnya, yaitu perang Badar, berusaha membalas dendam dengan membawa 3000 pasukannya yang bersenjata lengkap.

Sebaliknya, kekuatan kaum Muslimin saat itu hanya 700 orang. Awalnya, kaum Muslimin meraih kemenangan. Namun, sebagian pasukan Muslimin tidak mematuhi perintah Rasul untuk tetap bertahan dan bersiaga di atas gunung. Mereka malah turun gunung untuk mengambil barang-barang rampasan perang yang ditinggalkan kaum Musyrikin.

Di saat itulah kaum Musyrikin kembali menyerang kaum Muslimin dan meraih kemenangan. Akibatnya, sekitar 70 orang dari pasukan Muslim gugur syahid, di antaranya Hamzah, paman Rasulullah. Rasulullah sendiri mengalami luka parah dalam perang tersebut.

Image Caption

Pembunuhan Presiden Banglades

39 tahun yang lalu, tanggal 30 Mei 1981, rakyat Banglades berduka.

Presiden mereka, Ziaur Rahman, menjadi korban pembunuhan di kota Chittagong setelah sekelompok perwira militer yang memberontak menyerbu wisma pemerintah tempat dia menginap.

Rahman dibunuh oleh berondongan senjata mesin saat dia membuka pintu kamar untuk melihat kegaduhan di luar. Selain Rahman, tujuh orang juga tewas dalam insiden penembakan itu.

Ziaur Rahman

Mereka diantaranya, seorang petugas keamanan wisma, seorang staf pasukan keamanan presiden, dan salah seorang penyerang. Pembunuhan itu merupakan bagian dari pemberontakan di tubuh angkatan darat. Namun, pasukan pemerintah berhasil mengambil kendali keamanan di Chittagong setelah pemimpin pemberontak, Mayor Jenderal Manzur Ahmed, melarikan diri.
 
Manzur kabarnya berupaya melakukan kudeta karena karena setelah dimutasi ke posisi yang tak penting di kota Dhaka. Setelah mengetahui tewasnya presiden berusia 45 tahun itu, kelompok pemberontak menyatakan pembentukan komite revolusioner. Namun kalangan diplomat mengungkapkan bahwa mereka gagal mendapat dukungan dari para kolega di Angkatan Darat dari kota-kota lain di Bangladesh.

Sebanyak 13 perwira militer, setelah menjalani sidang pengadilan darurat, dieksekusi hukuman gantung karena terlibat pembunuhan Presiden Zia. Selain itu 19 perwira dikeluarkan dari kesatuan karena dinilai tidak mampu mengendalikan keamanan, terutama tidak mampu mencegah pembunuhan itu.

Ayatullah Azizullah Khosravi Zanjani Wafat

25 tahun yang  lalu, tanggal 10 Khordad 1374 HS, Ayatullah Azizullah Khosravi Zanjani meninggal dunia di usia 87 tahun dan dikuburkan di Pemakaman Syuhada Takab, Azerbaijan Barat.

Ayatullah Haj Sheikh  Azizullah Khosravi Zanjani lahir pada 1287 HS di salah satu kota di Zanjan, Iran. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, beliau belajar ilmu-ilmu agama di hauzah ilmiah Zanjan. Beliau setelah belajar selama 10 tahun akhirnya pindah ke Qom dan selama 12 tahun mengikuti kuliah fiqih dan ushul fiqih untuk tingkat mujtahid kepada para guru besar seperti Ayatullah Sayid Sadruddin Sad, Mohammad Feiz Qommi, Sayid Mohammad Hojjat Kouh Kamareh-i, Sayid Hossein Boroujerdi dan Imam Khomeini ra.

Ayatullah Zanjani pada 1334 HS dikirim oleh Ayatullah al-Udzma Boroujerdi ke daerah-daerah terpencil di provinsi Azerbaijan Barat dan hingga akhir hayatnya selama 40 tahun beliau membaktikan dirinya untuk mengajar, menulis dan menuntun masyarakat di sana. Sekalipun kondisi hidup di sana sangat berat, tapi beliau sangat berperan dalam penyebaran ajaran Ahlul Bait dan memperkokoh akidah Syiah.

Ayatullah Azizullah Zanjani dalam proses kebangkitan rakyat Iran yang dipimpin oleh Imam Khomeini ra tampil menjadi seorang ulama penentang rezim Shah Pahlevi di Azerbaijan Barat. Beliau membuktikan tidak pernah berdamai dengan rezim Shah. Pasca kebangkitan 15 Khordad 1342 HS, beliau mendapat ancaman saat berpidato di hadapan rakyat, namun dengan penuh keberanian, beliau tetap tampil dan berpidato.

 

Tags

Komentar