Jun 02, 2020 16:41 Asia/Jakarta

Kota-kota di Amerika Serikat khususnya Minneapolis menyaksikan unjuk rasa anti-rasisme. Ratusan ribu orang turun ke jalan-jalan untuk memprotes kekerasan rasial yang dilakukan polisi AS terhadap warga kulit hitam.

Pekan lalu, George Floyd, seorang pria kulit hitam dibunuh secara sadis oleh polisi Amerika di kota Minneapolis. Kekerasan ini memicu kemarahan warga, tetapi polisi dan aparat keamanan justru menumpas aksi protes ini.

Lebih dari 4.100 orang dilaporkan ditangkap dalam aksi unjuk rasa menentang kekerasan polisi terhadap warga kulit hitam di Amerika.

Menurut The Associated Press, setidaknya 4.100 orang ditangkap selama berhari-hari protes sejak pembunuhan George Floyd dan lima demonstran juga tewas dalam bentrokan dengan polisi.

Aksi unjuk rasa terus meluas ke berbagai kota di Amerika dan pasukan keamanan juga tidak berhenti menangkapi demonstran.

Beberapa media menyebutkan bentrokan hebat antara aparat keamanan dan demonstran terjadi di depan Gedung Putih, di mana polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa.

Presiden Donald Trump sempat dilarikan ke bunker Gedung Putih ketika para demonstran mengepung kantor presiden AS itu.

Seorang demonstran di kota Louisville, negara bagian Kentucky, tewas diterjang peluru aparat keamanan. Polisi kota Louisville menembak korban hingga tewas ketika melakukan aksi protes anti-rasisme.

Wartawan stasiun televisi WLKY yang berafiliasi ke CBS, di akun Twitter resminya menulis, peristiwa penembakan itu terjadi setelah seseorang di tengah kerumunan melepaskan tembakan.

Marvis Herring mengatakan, pasukan garda nasional Amerika, dan departemen kepolisian Louisville, menembak demonstran setelah mereka berkerumun dalam jumlah yang banyak, dan setidaknya satu kali tembakan dilepaskan dari kerumunan tersebut.

Di lokasi lain, unjuk rasa juga berakhir ricuh dan bentrokan antara demonstran dan aparat keamaman tidak dapat dihindari.

Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Stephane Dujarric meminta pemerintah Amerika Serikat untuk menahan diri dalam menghadapi demonstran.

"Pesan Sekjen PBB adalah bahwa suara mereka harus didengar, tetapi itu harus disampaikan secara damai dan pihak berwenang juga harus menahan diri dalam menghadapi demonstran," kata Dujarric. (RA)

Tags

Komentar