Aug 14, 2020 14:44 Asia/Jakarta
  • 14 Agustus 2020
    14 Agustus 2020

Hari ini, Jumat 14 Agustus 2020 bertepatan dengan 24 Dzulhijjah 1441 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran tanggal 24 Mordad 1399 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi hari ini.

Rasulullah Bermubahalah Dengan Bani Najran

1331 tahun yang lalu, tanggal 24 Dzulhijjah 10 HQ, Rasulullah Saw beserta putri beliau, Fathimah az-Zahra, menantu beliau, Ali bin Abi Thalib, dan kedua cucu beliau, Hasan dan Husein as, berangkat keluar dari kota Madinah untuk menemui para pembesar kabilah Kristen, Bani Najran melakukan Mubahalah.

Mubahalah

Sebelumnya, para pembesar Bani Najran itu datang menemui Rasulullah untuk mempertanyakan ajaran agama Islam. Namun, apapun jawaban yang diberikan Rasulullah, pembesar kabilah Kristen itu tetap tidak mau menerimanya.

Lalu, Allah menurunkan firman-Nya, surat Ali-Imran ayat 60-61, yang artinya, "Itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. Siapa yang membantahmu tentang kisah 'Isa sesudah datang ilmu , maka katakanlah : "Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la'nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta."

Oleh karena itulah, pada hari yang telah dijanjikan, Rasullah dengan membawa Ahlu Bait atau keluarga suci beliau, datang ke sebuah tempat di luar kota Madinah. Para pembesar Bani Najran, begitu melihat kehadiran Rasullah yang hanya ditemani keempat tokoh mulia itu, yaitu Fathimah, Ali bin Abi Thalib, Hasan, dan Husein as, merasa takut dan pemimpin mereka berkata, "Aku melihat wajah-wajah yang jika mereka bedoa agar gunung terbesar diruntuhkan, maka doa itu akan segera dikabulkan Tuhan. Kita tidak seharusnya bermubahalah dengan orang-orang yang agung ini, karena mungkin saja kita semua akan mati." Oleh karena itu, para pembesar Bani Najran akhirnya mengajak Rasulullah berdamai.

Allamah Mirza Naini Wafat

84 tahun yang lalu, tanggal 24 Mordad 1315 HS, Allamah Mirza Naini meninggal dunia di usia 80 tahun dan dikuburkan di komplek makam suci Imam Ali as.

Allamah Mirza Naini

Haj Mirza Muhammad Husein Naini Najafi yang lebih dikenal dengan sebutan Mirza Naini, seorang faqih, marji taklid dan sastrawan lahir di kota Nain, Iran pada 1239 HS. Di Isfahan beliau belajar ilmu-ilmu agama kepada Mirza Mohammad Baqir Najafi, Hakim Jangair Khan Qashqai dan Abul Maali Kalbasi. Setelah itu beliau pergi ke Irak. Di Samarra beliau belajar kepada Mirza Bozourg Shirazi dan Sayid Mohammad Fesharaki. Dari Samarra beliau pindah ke Karbala dan belajar kepada Sayid Ismail Sadr dan pindah lagi ke Najaf. Di kota ini, selama bertahun-tahun  beliau belajar kepada Akhond Khorasani.

Mirza Naini akhirnya menjadi guru besar di hauzah ilmiah Najaf. Mereka yang mengikuti kuliahnya seperti Ayatullah Sayid Muhsin al-Hakim, Sayid Mahmoud Huseini Shahroudi, Sayid Jamaluddin Golpaigani, Sayid Mohammad Hojjat Kouh Kamareh-i, Sayid Mohammad Hadi Milani, Sheikh Mohammat Taqi Amoli, Sayid Abul Qasim Khu'i, Allamah Thaba'thabai, Mirza Hashem Amoli dan puluhan ulama besar lainnya.

Di masa Mirza Naini, terjadi revolusi rakyat dengan dipimpin ulama di Iran untuk mencegah meluasnya penindasan dan upaya meraih kemandirian yang dikenal dengan Revolusi Konstitusi. Sekaitan dengan hal ini, Mirza Naini bersama Akhond Khorasani memainkan peran penting dalam revolusi ini. Di tengah-tengah revolusi ini, Mirza Naini menulis karya monumentalnya Tanbih al-Ummah yang membahas berbagai bentuk pemerintahan despotik dan kewajiban para ulama dalam menghadapi pemerintahan seperti ini. Buku ini meningkatkan perasaan anti-despotisme di tengah rakyat Iran dan amat berperan dalam menggalang Revolusi Konstitusional Iran pada periode Dinasti Qajar.

Ketika Inggris menjajah Irak, Mirza Naini mengharamkan rakyat memilih pemimpin kafir di negara Irak yang menyebabkan rakyat bangkit melawan penjajah. Melihat kondisi semacam ini, penjajah Irak mempersiapkan rencana untuk mengasingkan para marji Syiah seperti Mirza Naini dan Sayid Abolhossein Isfahani dan beberapa orang lainnya ke Iran. Namun tekanan rakyat dan ulama membuat pemerintah Irak mengurungkan niatnya dan raja Irak waktu itu meminta maaf dan mengembalikan ulama yang diasingkan itu ke Irak secara terhormat.

Pakistan Memisahkan Diri dari India

73 tahun yang lalu, tanggal 14 Agustus tahun  1947, Pakistan memisahkan diri dari India dan mengumumkan kemerdekaannya.

India dan Pakistan

Pada abad ke-8 agama Islam masuk ke anak benua India dan sebagian dari wilayah Pakistan sekarang, selama masa penjajahan Ingrris pada akhir abad ke-18, dulu dikuasai oleh kaum Muslimin. Bersamaan dengan bangkitnya perjuangan rakyat India melawan penjajahan Inggris, pada tahun 1906 terbentuk partai "Liga Muslim" yang diketuai Muhammad Ali Jinah dan bertujuan untuk membentuk sebuah pemerintahan Islami.

Partai ini kemudian secara bertahap mampu menarik kekuatan kaum muslimin dan akhirnya terbentuklah negara Pakistan. Awalnya, Pakistan terdiri dari dua wilayah yang terpisah, yaitu di timur dan barat India. Namun, karena ketidakpuasan rakyat Pakistan Selatan atas pemerintahan pusat, akhirnya di Pakistan Selatan memisahkan diri dan membentuk negara Bangladesh pada tahun 1971.

Pakistan sampai tahun 1970 berbentuk pemerintahan militer dan kemudian berubah bentuk menjadi Republik Islam Pakistan. Pakistan memiliki luas wilayah lebih dari 803 ribu kilometer persegi dan berbatasan dengan Iran, India, Afganistan, dan Cina.

Tags