Aug 28, 2020 16:27 Asia/Jakarta
  • 28 Agustus 2020
    28 Agustus 2020

Hari ini, Jumat 28 Agustus 2020 bertepatan dengan 8 Muharam 1441 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran tanggal 7 Shahrivar 1399 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi hari ini.

Pertemuan Imam Husein as dengan Umar bin Saad

1381 tahun yang lalu, tanggal 8 Muharam 61 HQ, Imam Husein as melakukan pertemuan dengan Umar bin Saad.

Peristiwa Karbala

Imam Husein berkata, "Wahai anak Saad! Apakah engkau datang menemuiku dan tidak memiliki keluhan pada-Nya?"

Ibnu Saad mengatakan, "Jika aku memisahkan diri dari kelompok ini, maka rumahku akan rusak, kekayaanku akan dirampas, dan aku mengkhawatirkan anggota keluargaku dari kemarahan Ibnu Ziyad."

Imam Husein berkata, "Bagaimana dengan dirimu sendiri? Allah akan segera mengambil jiwamu dan engkau tidak akan terampuni di Hari Kiamat ... Apakah engkau mengira akan sampai pada pemerintahan Rey dan Gorgan? Demi Allah! Tidaklah demikian, karena engkau tidak akan pernah sampai pada keinginanmu."

Ubaidillah dalam surat selanjutnya mengancam Umar bin Saad bahwa ia akan memecatnya dari tugasnya seraya berkata, "Jika engkau mempermainkan dan tidak mentaati perintahku, maka aku akan menyerahkan tanggung jawab pasukan ini pada Syimr bin Dzil Jausyan."

Penggalan dari pidato Imam Husein as kepada para sahabatnya, "Wahai para keturunan besar dan agung! Bersabarlah, karena kematian hanyalah sebuah jembatan tempat kalian akan melewati segala kesulitan dan penderitaan dan mengantarkan kalian ke surga yang luas dengan segala nikmatnya yang kekal."

Leo Tolstoy Lahir

192 tahun yang lalu, tanggal 28 Agustus 1828, Leo Tolstoy, penulis dan sastrawan Rusia terlahir ke dunia.

Awalnya, Tolstoy bergabung dalam Angkatan Bersenjata Kaukasus dan buku pertamanya yang berjudul "Anak" ditulisnya dalam periode ini. Beberapa lama kemudian, Tolstoy keluar dari militer lalu menghabiskan waktunya untuk melakukan penelitian dan penulisan.

Di antara karya-karya Tolstoy yang terpenting adalah "Perang dan Damai", "Orang-Orang Kazak", dan "haji Murad". Penulis Rusia ini meninggal pada tahun 1910.

Ayatullah Marashi Najafi Wafat

30 tahun yang lalu, tanggal 7 Shahrivar 1369 HS, Ayatullah Marashi Najafi meninggal dunia di usia 96 tahun dan dikuburkan di jalan masuk perpustakaan yang dibangunnya.

Ayatullah Marashi Najafi

Ayatullah Sayid Shihab ad-Din bin Sayid Mahmoud bin Sayid al-Hukama Tabrizi Marashi Najafi lahir di kota suci Najaf, Irak pada 1276 HS. Ayahnya adalah seorang ahli hukum dihormati yang mengajar di hauzah Najaf, dan itu di bawah bimbingan ayahnya, beliau mulai pendidikan agamanya. Dia kemudian pergi ke Samarra dan Kazhimiah untuk pendidikan tinggi.

Setelah itu beliau pindah ke Mashad, sehingga akhirnya beliau memutuskan untuk pindah ke kota Qom dan menyelesaikan pendidikan agama tingkat mujtahid di bawah bimbingan Ayatullah Sheikh Abdolkareem Hairi Yazdi. Selain teologi dan fiqih, beliau juga belajar matematika, astronomi, dan obat-obatan dari berbagai macam ahli.

Di Qom, beliau menjadi ulama terkemuka dan mulai memberikan kuliah-kuliah agama dan diakui sebagai marji dari sejumlah ulama besar lainnya. Beliau mengabdikan usianya selama 70 tahun untuk mengajar dan mendidik ulama besar lainnya seperti Syahid Murtadha Muthahhari, Ayatullah Ibrahim Amini, Sheikh Hossein Mazhahiri, Sayid Ali Qazi Thathabai, dan Sayid Murtadha Askari.

Beliau juga meninggalkan sebuah perpustakaan besar di kota Qom yang memiliki khazanah kitab yang cukup besar. Perpustakaan ini termasuk ketiga terbesar di Dunia Islam dan saat ini memiliki sekitar 250 ribu kitab dan 2500 manuskrip.

Terkait alasan beliau mengumpulkan kitab dan pendirian perpustakaan tersebut, Ayatullah Marashi mengatakan, "Aku melintasi pasar di kota Najaf dan menyaksikan para santri kerap memasuki sebuah toko buku. Kemudian aku bertanya, apa sebenarnya yang tengah terjadi. Mereka mengatakan, ulama yang telah meninggal dunia, karya-karyanya diobral di toko ini. Aku masuk ke toko tersebut dan aku saksikan sekelompok orang berkumpul serta terdapat seseorang yang menjajakan buku dengan cara diobral. Kemudian orang-orang di sekitarnya mulai menawar harga, dari mulai yang terendah hingga tertinggi. Siapa yang mampu menawar dengan harga tertinggi maka ia akan memiliki buku tersebut.

Di majlis tersebut, terdapat seorang Arab yang duduk di pojok, di tangannya tergenggam kantong uang dan ia yang senantiasa memberikan tawaran tertinggi dan tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk membeli kitab. Kemudian aku menyadari bahwa orang tersebut bernama Kazim dan orang suruhan konsulat Inggris di Baghdad. Selama sepekan Kazim sibuk membeli buku dan di hari Jumat ia mengangkut buku tersebut ke Baghdad dan menyerahkannya ke Inggris.

Setelah menyaksikan peristiwa tersebut, Ayatullah Marashi berusaha mencegah dibawa kaburnya buku dan kitab karya ulama Islam ke Barat, khususnya yang masih berbentuk manuskrip. Oleh karena itu, selanjutnya Ayatullah Marashi bertekad untuk mengumpulkan kitab dan mendirikan perpustakaan. Beliau rela bekerja keras usai mengajar dan belajar serta menerima shalat dan puasa ijarah demi melaksanakan cita-citanya tersebut. Pengorbanan beliau tidak hanya sampai di sini, ulama besar ini pun rela mengurangi jatah makanannya hanya untuk membeli buku.

Selain itu, mengingat penghasilannya yang tidak mencukupi kehidupan beliau, Ayatullah Marashi tidak sempat menunaikan ibadah haji selama hidupnya. Namun demikian beliau berhasil menulis 148 kitab dan makalah ilmiah selama hidupnya.

Tags