Sep 15, 2020 18:01 Asia/Jakarta

Amerika Serikat akan menggelar pemilu presiden 2020 pada hari Selasa, 3 November 2020. Pilpres tahun ini akan menjadi pilpres empat tahunan ke-59.

Pemilu akan diadakan di tengah meningkatnya ketegangan politik di AS. Kebrutalan polisi terhadap warga kulit hitam telah memicu tingkat kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya di seluruh AS.

Presiden AS Donald Trump berjuang mati-matian untuk bisa terpilih kembali. Jajak pendapat menunjukkan dukungan terhadap penantangnya dari Partai Demokrat, Joe Biden.

Trump telah mengkritik legitimasi pemungutan suara melalui surat. Dia juga menolak berkomitmen untuk menerima hasil pemilu November. Sikap menantang Trump telah membuat pendukung sayap kanannya berani.

Mereka telah mengangkat senjata untuk menghadapi lawan "sayap kiri" mereka. Dikhawatirkan Amerika yang terpecah bisa jatuh ke dalam kekacauan jika Trump menolak untuk mengakui hasil pemilu.

Profesor Allan Lichmant, yang terkenal dengan prediksinya yang tajam, juga telah menyampaikan ramalan politiknya bahwa Biden akan mengalahkan Trump. Allan Lichmant memprediksi hasil Pilpres AS 2020 menggunakan sebuah sistem ciptaannya, dengan "13 kunci" untuk menentukan pemenang Gedung Putih. 

Seperti dilansir Republika, Allan Lichmant adalah profesor dari American University, yang secara tepat memprediksi hasil pemilu presiden Amerika Serikat, sejak 1984 sampai dengan 2016. Empat tahun lalu, dia memprediksi Trump bakal menang mengalahkan Hillary Clinton, tapi Trump bakal di-impeachment. Semua prediksinya itu terbukti.

Meski telah meramalkan Trump bakal kalah, tapi Lichmant mengingatkan hasil itu masih mungkin berubah karena Biden hanya menang tipis. Dari "13 kunci", Biden unggul di tujuh kunci, sedangkan Trump unggul di enam kunci. Alhasil, “Ini akan menjadi pertarungan yang ketat,” katanya dalam video yang dirilis The New York Times, Rabu pekan lalu.

Apa saja ke-13 kunci yang menjadi pisau analisis Lichmant? Antara lain faktor petahana, skandal, karisma kandidat, dan lain-lain. Dalam hal kharisma, Trump disebutnya tak terkalahkan di internal Partai Republik. Dan, Biden yang merupakan lawannya, adalah penantang yang kurang berkharisma.

Namun, ekonomi Amerika yang kolaps, pandemi COVID-19 yang menghantam negara itu, gerakan protes secara nasional yang memprotes kebrutalan polisi dan rasisme sistematis di Amerika, disebutnya menguntungkan Biden. “Keunggulan Biden lainnya, karena dalam pemilu sela 2018 lalu, Partai Demokrat berhasil memenangkan banyak kursi DPR,” katanya.

Hampir semua lembaga survei dari dalam dan di luar Amerika memperkirakan Biden bakal mengalahkan Trump. Survei terakhir yang digelar Reuters bekerja sama dengan Ipsos, yang diumumkan 3 Agustus lalu, mendapati Biden unggul sepuluh poin terhadap Trump. Biden mendapat 48 persen, sedangkan Trump hanya 38 persen.

Survei Reuters/Ipsos ini menarik, karena digelar lembaga di luar Amerika. Reuters adalah kantor berita yang bermarkas di Inggris. Sedangkan, Ipsos adalah sebuah lembaga riset pasar yang bermarkas di Prancis.

Lembaga-lembaga di Amerika, bahkan mencatatkan selisih lebih besar. CNN, misalnya, mendapati jarak Trump-Biden sampai 12 poin, dalam survei yang diumumkan 19 Juli lalu. Menurut CNN, Trump hanya dapat 40 persen, sedangkan Biden melejit sampai 52 persen.

Hasil analisis data yang dilakukan The Economist juga mendapati Biden tetap jauh mengungguli Trump. Sampai dengan 11 Agustus, The Economist mencatat popular vote yang mungkin diraih Biden mencapai 54,7 persen, sedangkan Trump hanya 45,3 persen. Adapun potensi electoral vote Biden mencapai 352, sedangkan electoral vote Trump hanya 186.

Tak seperti data berbagai lembaga yang melakukan survei secara snapshot, data The Economist merupakan hasil analisis terhadap polling di seantero Amerika, baik level negara bagian maupun nasional/federal. Data tersebut kemudian dipadukan dengan analisis data demografi dan indikator ekonomi. Data tersebut, secara real time dapat dilihat pada artikel bertajuk Forecasting the US elections di laman The Economist. (RA)

Tags