Nov 09, 2020 19:50 Asia/Jakarta

Serangan teror terjadi di Gereja Notre Dame, kota Nice, Prancis pada tanggal 29 Oktober 2020 sekitar pukul 09.00 pagi waktu setempat.

Serangan dengan menggunakan pisau ini telah mengakibatkan tiga orang meninggal dan beberapa lainnya terluka. Salah satu korbannya adalah seorang wanita yang kepalanya dipenggal. Seorang pria tewas di dalam gereja, dan wanita lain dengan luka tusuk yang melarikan diri ke bar terdekat juga tewas tak lama kemudian.

Pembunuhan brutal ini terjadi dua minggu setelah seorang guru di Prancis dipenggal di luar sekolahnya di utara Paris. Pelakunya adalah remaja asal Chechnya berusia 18 tahun, dengan motif karena sang guru menunjukkan kartun Nabi Muhammad SAW saat mengajar di kelas tentang kebebasan berbicara.

Penyerang di Gereja Notre Dame ditembak polisi yang datang ke lokasi kejadian dengan cepat, dan langsung ditangkap, lalu dibawa ke rumah sakit.

Umat Islam mengecam keras pembunuhan keji tersebut dan menolak upaya pihak-pihak tertentu yang mengaitkan Islam dengan terorisme. Dewan Muslim di Prancis, CNFM, mengutuk serangan mematikan di gereja tersebut.

"Sebagai tanda duka dan solidaritas bagi para korban dan keluarga mereka, saya menyerukan kepada semua Muslim Prancis untuk membatalkan semua perayaan Maulid," ujar Presiden CNFM Mohammed Moussaoui melalui akun Twitter-nya, seperti dikutip The Telegraph.

Para pejabat Republik Islam Iran juga mengeluarkan kecaman keras terhadap serangan dan pembunuhan brutal di Prancis.  (RA)

Tags