Mar 02, 2021 01:32 Asia/Jakarta
  • Genosida Muslim Rohingya di Myanmar (8)

Ada berbagai pendapat mengenai mengepa militer dan milisi ekstrim Budha serta para biksu Myanmar melakukan genosida dan pembantaian massal terhadap Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine. Namun demikian motif tersebut bisa kita simpulkan dalam bentuk tiga kategori. Alasan ekonomi, politik dan agama.

Di luar sepertinya konflik agama antara Muslim Rohingya dan mayoritas penduduk Myanmar yang menganut agama Budha menjadi faktor penting di pembantaian dan pengusiran paksa etnis Rohingya, tapi faktanya adalah faktor ekonomi dan politik lebih dominan.

Selain faktor politik, ekonomi dan agama, ada satu faktor penting lain yakni rencana militer. Militer Myanmar mulai melakukan perampasan tanah Muslim Rohingya dengan menjadikan Negara Bagian Rakhine wilayah militer dengan alasan keberadaan anasir radikal seperti Daesh (ISIS) dan al-Qaeda. 

Berdasarkan strategi ini, militer Myanmar tengah memperluas kehadiran militer dan membangun pangkalan serta instalasi militer yang tentunya membutuhkan tanah. Dan tanah ini diambil dengan merampas tanah milik Muslim Rohingya dan mengusir mereka.

Rumah warga Rohingya yang dibakar tahun 2017

Faktanya adalah di balik militerilisasi dan pengadaan fasilitas militer ada tujuan tersembunyi yang pada akhirnya berujung pada genosida etnis Muslim Rohingya. Bahkan pada akhirnya bisa dikatakan tujuan final dari seluruh rencana adalah menghapus etnis Rohingya. Di sisi lain, ada tujuan lain yang dikejar yakni menyatukan rakyat Myanmar dengan membentuk sebuah pemerintahan satu bahasa, satu agama dan satu budaya.

Perampasan tanah Muslim Rohingya mulai marak sejak tahun 1994 dan kerap diwarnai dengan kekerasan, pembunuhan, pemerkosaan dan pengusiaran warga desa-desa Rohingya. Akibat pendekatan militer Myanmar bukan terbatas perampasan tanah, tapi juga berujung pada pengusiran mereka ke Bangladesh atau relokasi penduduk di dalam Negara Bagian Rakhine. Dengan demikian Muslim Rohingya terusir dari wilayah subur ke wilayah pegunungan yang tidak dapat dijadikan lahan pertanian.

Militer Myanmar merampas lahan pertanian dan tempat tinggal Muslim Rohingya serta memulai proyek desa percontohan. Proyek Desa Percontohan sejatinya ditujukan untuk melucuti tanah warga Rohingya dan kemudian diserahkan kepada kaum Budha dan milisi yang membantu militer membantai dan mengusir Muslim Rohingya. Tujuan di balik layar adalah merusak susunan demografi dan penduduk serta mengubah mayoritas Muslim Rohingya menjadi minoritas untuk merealisasikan tujuan integrasi etnis-agama di Myanmar.

Sejatinya dapat dikatakan bahwa di proyek Desa Percontohan ketika lahan Muslim Rohingya diambil secara paksa, komposisi penduduk juga akan menguntungan kaum Budha serta rencana genosida terealisasi. Proyek Desa Percontohan dilakukan bersamaan dengan pemusnahan etnis Muslim Rohingya dan penempatan kaum Budha serta kekerasan militer serta militeralisasi Negara Bagian Rakhine.

Arus pengungsian Muslim Rohingya

Dengan demikian terlihat ada tujuan rumit politik, ekonomi, agama dan militer di mana tujuan finalnya adalah genosida Muslim Rohingya. Hal ini juga diisyaratkan oleh pakar berbagai organisasi internasional. William Schabas mengatakan, Ketika saya melihat langkah-langkah yang diambil untuk mencegah kelahiran, identitas budaya dan agama masyarakat diingkari, dan hak untuk hidup orang-orang Rohingya di tempat tinggal mereka diabaikan, yaitu genosida dan pembersihan etnis terjadi.

Andrew Gilmour, wakil Sekretaris Jenderal Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (OHCHR)  yang meninjau dari dekat kondisi kamp-kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh mengatakan, militer Myanmar dengan bersandar pada terorisme dan kelaparan sistematis berusaha memaksa Muslim Rohingya melarikan diri ke Bangladesh. Ia menambahkan, selama proses genosida Muslim Rohingya, militer memainkan peran sentral, sementara pemerintah menjadi provokator.

Masalah penting lainnya yang membuktikan motif politik dan ekonomi di balik pembunuhan dan pengusiran Rohingya dari desa dan tempat tinggal mereka adalah proyek pembangunan. Proyek ini memiliki dimensi yang luas dan sepertinya dirancang untuk pembangunan seluruh negeri. Namun apa yang dilakukan di Negara Bagian Arakan adalah bahwa pembangunan dilakukan tanpa memperhatikan kepentingan orang-orang Muslim Rohingya, yang mengarah pada perampasan dan pengusiran mereka dari desa mereka. Terdapat indikasi bahwa kekerasan dan pengusiran Rohingya telah diikuti oleh proyek modernisasi dan pembangunan berupa pertambangan dan fasilitas terkait, atau pelaksanaan proyek terkait pariwisata tanpa partisipasi Muslim Rohingya.

Di sisi lain, militer Myanmar yang tidak ingin dicap sebagai pelaku pembantaian massal Muslim Rohingya, memilih metode lain dengan mendukung milisi ekstrim anti Rohingya seperti Kelompok 969 yang terdiri dari para pemuda paling fanatik. Melalui ini militer Myanmar memajukan tujuan anti Rohingya mereka.

Kelompok 969 merupakan kelompok paling sadis karena mereka mendapat dikte dari para biksu Budha untuk melakukan aksi-aksi tak manusiawi mereka terhadap Muslim Rohingya. Sejumlah data menunjukkan kelompok ini untuk menebar ketakutan, mereka memperkosa perempuan Muslim di depan suaminya, membunuhnya atau menyembelih anak-anak Muslim. Aksi sadis Kelompok 969 ini berhasil menebar ketakutan di tengah masyarakat Rohingya dan mereka terpaksa meninggalkan rumah serta tanahnya. 

Lembaga Chatham House di London November 2020 di sebuah laporannya menulis, Muslim Rohingya tidak akan kembali ke rumah mereka di Myanmar. Dan potensi dari hasil krisis ini adalah penempatan ratusan ribu dari mereka secara permanen di perbatasan Bangladesh dan Myanmar. Insiden mengerikan dan menyayat hati pelarian manusia dari pengeboman manusia di perbatasan Myanmar dan Bangladesh telah memicu simpati masyarakat dunia. 

Sedikitnya setengah juta manusia diusir dari rumahnya dengan sadis dan ditempatkan di kamp-kamp dari tanah serta di tengah badai dan hujan. Pengusiran Muslim Rohingya hasil dari beberapa dekade kebijakan diskriminatif pemimpin militer di Myanmar sejak tahun 1962 hingga sekarang. Asia Tenggara kini menjadi ajang konfrontasi antara Cina dan rivalnya serta AS, India dan Jepang berada di posisi terdepan. Mereka semuanya dalam kondisi perang senyap untuk menguasai kawasan.

Tags