May 30, 2021 11:40 Asia/Jakarta
  • Lintasan Sejarah 30 Mei 2021
    Lintasan Sejarah 30 Mei 2021

Ibnu Idris Al-Hilli, Ahli Fiqih Syiah Wafat

844 tahun yang lalu, tanggal 18 Syawal 598 HQ, Ibnu Idris al-Hilli, ahli fiqih Syiah meninggal dunia di usia 55 tahun .
 
Fakhruddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Idris al-Hilli lahir di kota Hillah pada 543 HQ di kota Hillah, Irak. Ibnu Idris sejak kecil telah mempelajari ilmu-ilmu agama, khususnya al-Quran dan di masa mudanya telah menjadi seorang faqih hebat. Beliau meyakini bahwa berpikir merupakan kewajiban setiap manusia untuk memilih jalan yang benar. Barangsiapa yang tidak memanfaatkan nikmat ini, berarti ia telah kufur dan mengingkari nikmat-nikmat Allah Swt.
 
Para ulama sezaman dan setelah Ibnu Idris sangat memuji sikap dan keberanian beliau yang mampu menggerakkan fiqih Islam menuju kesempurnaannya. Satu abad sepeninggal Syaikh Thusi, seluruh ulama dan faqih Syiah menukil pendapat beliau. Bahkan boleh dikata pintu ijtihad tertentu pada tahapan tertentu. Kondisi ini terus berlanjut hingga Ibnu Idris keluar dari lingkaran taklid dan menjadi mujtahid.
 
Ibnu Idris memiliki banyak karya ilmiah yang sangat berharga dan yang paling terkenal adalah buku al-Sarair. Buku ini merupakan karya jenius dan baru di dunia fiqih masa itu dan kekuatan isinya masih terus diperbincangan hingga kini. Selain memuat tema-tema penting fiqih, buku ini juga memuat hadis-hadis pilihan Ibnu Idris dan membuat nilai hadis menjadi penting.
 
Nazem Al-Atebba Wafat
 
97 tahun yang lalu, tanggal 9 Khordad 1303 HS, Nazem al-Atebba meninggal dunia pada di usia 77 tahun.
 
Mirza Ali Akbar Khan Nafisi yang lebih dikenal dengan sebutan Nazem al-Atebba Kermani lahir di kota Kerman sekitar tahun 1336 HS. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, ia kemudian mempelajari filsafat dan belajar kedokteran di madrasah Dar al-Funun di Tehran.
 
Setelah menyelesaikan pendidikannya, Nazem al-Atebba mendirikan rumah sakit modern pertama di Iran dan didukung oleh para dokter terkenal. Ia pada 1261 HS kembali membangun rumah sakit modern di kota Mashad dan menjadi dokter pribadi Naser ad-Din Shah dan Mozaffaruddin Shah Qajar.
 
Ali Akbar Nafisi selain melakukan pengobatan, ia juga menulis buku. Karya kedokterannya mencakup kumpulan buku penting dan bermanfaat yang disusunya setelah menerjemahkannya dari bahasa asing. Nazem al-Atebba juga punya andil dalam mengumpulkan kosa kata bahasa Persia dan menuliskannya dalam Kamus Nafisi dalam 5 jilid yang disusunnya selama 25 tahun.
 
mantan Presiden Bangladesh Ziaur Rahman

 

Pembunuhan Presiden Bangladesh
 
40 tahun yang lalu, tanggal 30 Mei 1981, rakyat Bangladesh berduka.
 
Presiden mereka, Ziaur Rahman, menjadi korban pembunuhan di kota Chittagong setelah sekelompok perwira militer yang memberontak menyerbu wisma pemerintah tempat dia menginap.
 
Rahman dibunuh oleh berondongan senjata mesin saat dia membuka pintu kamar untuk melihat kegaduhan di luar. Selain Rahman, tujuh orang juga tewas dalam insiden penembakan itu.
 
Mereka diantaranya, seorang petugas keamanan wisma, seorang staf pasukan keamanan presiden, dan salah seorang penyerang. Pembunuhan itu merupakan bagian dari pemberontakan di tubuh angkatan darat. Namun, pasukan pemerintah berhasil mengambil kendali keamanan di Chittagong setelah pemimpin pemberontak, Mayor Jenderal Manzur Ahmed, melarikan diri.
 
Manzur kabarnya berupaya melakukan kudeta karena karena setelah dimutasi ke posisi yang tak penting di kota Dhaka. Setelah mengetahui tewasnya presiden berusia 45 tahun itu, kelompok pemberontak menyatakan pembentukan komite revolusioner. Namun kalangan diplomat mengungkapkan bahwa mereka gagal mendapat dukungan dari para kolega di Angkatan Darat dari kota-kota lain di Bangladesh.
 
Sebanyak 13 perwira militer, setelah menjalani sidang pengadilan darurat, dieksekusi hukuman gantung karena terlibat pembunuhan Presiden Zia. Selain itu 19 perwira dikeluarkan dari kesatuan karena dinilai tidak mampu mengendalikan keamanan, terutama tidak mampu mencegah pembunuhan itu.[]

Tags