Jun 14, 2021 09:34 Asia/Jakarta
  • Lintasan Sejarah 14 Juni 2021
    Lintasan Sejarah 14 Juni 2021

Ibnu Munir Terlahir

822 tahun yang lalu, tanggal 3 Dzulqadah 620 Hijriah, Ibnu Munir, seorang ahli fiqih dan tafsir dari Mesir terlahir di Iskandaria.
 
Ibnu Munir belajar ilmu-ilmu dasar dari ayahnya sendiri sebelum kemudian menimba dan menekuni ilmu agama dalam berbagai bidangnya, termasuk fikih, ulumul Quran, dan sastera Arab dari guru-guru kesohor pada zamannya.
 
Dalam hidupnya, Ibnu Munir memegang berbagai jabatan, termasuk sebagai Qadhi. Dia wafat di Iskandaria pada usia ke 63 dan dimakamkan di area sebuah masjid yang belakangan tenar dengan nama Masjid Jami' Al-Munir.
 
Ulama ini meninggal berbagai karya tulis di bidang tafsir Al-Quran dan beberapa bidang ilmu keislaman lainnya. Sebagian dari karyanya berkali-kali dicetak ulang di Kairo, ibu kota Mesir.
 
Bani Sadr

 

Surat 120 Anggota Parlemen Minta Dibahas Ketidaklayakan Politik Bani Sadr
 
40 tahun yang lalu, tanggal 24 Khordad 1360 HS, 120 anggota parlemen Iran mengirim surat agar dibahas ketidaklayakan politik Bani Sadr.
 
Rakyat Iran dengan gagah berani melakukan perlawanan yang luas atas agresi militer rezim Saddam. Tapi front perang yang semakin luas tanpa ada dukungan yang seharusnya dari Bani Sadr sebagai Panglima Tertinggi seluruh jajaran Angkatan Bersenjata Iran, membuat friksi antara presiden Iran ini dengan parlemen, Mahkamah Agung dan lembaga-lembaga revolusioner lainnya semakin mencapai puncaknya.
 
Sementara nasihat Imam Khomeini ra agar dicapai kesepahaman tidak juga berhasil, maka pada sidang tanggal 24 Khordad 1360 Hs, surat dari 120 anggota parlemen akhirnya dibacakan yang isinya meminta penindaklanjutan kelayakan politik Bani Sadr. Surat 120 anggota parlemen itu juga mencantumkan harus segera dibahas.
 
Para pendukung Bani Sadr di parlemen menolak usulan ini dan menilai sidang ini tidak resmi yang berujung pada aksi keluar dari ruang sidang. Menurut mereka, Bani Sadr tetap masih berada di puncak kekuasaan.
 
Tapi para wakil parlemen yang revolusioner akhirnya meratifikasi usulan ini pada 31 Khordad 1360 Hs dan praktis unsur pengkhianat negara tengah memasuki tahap dilengserkan dari kekuasaannya.
 
Pasca disepakati ketidaklayakan politik Bani Sadr di Majlis Iran, Imam Khomeini ra berdasarkan keputusan itu memberhentikannya dari posisi presiden. Dengan pemberhentian itu, sekalipun akar utama pengkhianatan dan perselisihan yang ada di Iran telah dicabut, tapi sejak saat itu, Bani Sadr dan pendukungnya mulai memasuki tahapan baru melakukan aksi-aksi kekerasan menentang negara. Mereka meneror para pejabat negara dan rakyat biasa. Tapi berkat kesigapan rakyat dan militer disertai tuntunan Imam Khomeini ra, aksi-aksi ini dapat dipadamkan.
 
TWA Flight 847 Dibajak
 
36 tahun yang lalu, tanggal 14 Juli 1985, pesawat TWA Flight 847 dari Athena menuju Roma dibajak dua teroris berkebangsaan Lebanon yang bersenjatakan granat dan pistol 9 mm.
 
Pembajak tersebut memaksa pesawat untuk mendarat di Beirut, Libanon. Saat sudah berada di darat, mereka mencari penumpang dengan paspor Israel.
 
Namun, mereka tak menemukan satu pun. Mereka kemudian membunuh anggota angkatan laut Amerika Serikat Robert Stethem dan melemparkan tubuhnya keluar. Pegawai TWA Uli Derickson berhasil menyelamatkan beberapa penumpang Yahudi dengan menolak mengenali mereka.
 
Pada 30 Juni, setelah negosiasi dilakukan dengan berhati-hati, para sandera berhasil dibebaskan.
 
Mohammed Ali Hamadi, yang dicari karena perannya dalam penyerangan TWA Flight 847 itu, ditangkap dua tahun kemudian di sebuah bandara di Frankfurt, Jerman, bersama dengan bahan peledak.
 
Hamadi dinyatakan bersalah dan dipenjarakan dengan penalti maksimal di bawah hukum Jerman.
 
Ia baru dinyatakan bebas setelah menjalani hukuman selama 19 tahun.[]

Tags