Okt 13, 2021 19:34 Asia/Jakarta
  • Serangan teror ke Masjid Syiah di Kunduz
    Serangan teror ke Masjid Syiah di Kunduz

Jumat (8/10/2021) berita serangan teror di Afghanistan menempati halaman pertama berbagai media internasional.

Setelah berkuasanya Taliban di Afghanistan dan keluarnya pasukan asing dari negara ini, berbagai pihak mulai beranggapan tidak akan ada lagi aksi saling bunuh di antara saudara dan penderitaan rakyat di negara ini akan berakhir dengan keluarnya pasukan asing, tapi tiba-tiba terdengar berita menyayat hati terkait serangan teror ke Masjid Sayid Abad  di Bandar Khan Abad, negara bagian Kunduz yang menewaskan dan menciderai ratusan jamaah shalat.

Ini bukan pertama kalinya peristiwa pahit seperti ini terjadi, sebelumnya kita juga menyaksikan srangan terhadap Muslim di Afghanistan, dan sepertinya penderitaan rakyat negara ini dan khususnya warga Syiah yang tertindas  belum juga berakhir. Beberapa waktu lalu, tepatnya 8 Mei 2021, di bulan Ramadan, terdengar sejumlah ledakan bom mengerikan di barat Kabul di daerah Syiah. Kabul tertutup debu dan jalan-jalan dipenuhi tubuh-tubuh bocah perempuan tak bernyawa yang berusia 9-14 tahun. Selain itu, juga terjadi serangan serupa di Kabul dan Mazar Sharif serta daerah lain dan Daesh (ISIS) mengaku bertanggung jawab atas tindakan keji tersebut.

Sementara bangsa Muslim dan pejuang Afghanistan, baik Syiah dan Sunni, selalu hidup berdampingan secara damai, sejarah telah menunjukkan bahwa perpecahan agama di antara bangsa Muslim Afghanistan tidak pernah ada dan keduanya selalu menjadi saudara yang tidak terpisahkan. Namun demikian selama beberapa tahun terakhir dan khususnya di pemerintahan Ashraf Ghani di Afghanistan, "tradisi perpecahan dan pembunuhan saudara" telah muncul, dan puluhan dan ratusan Muslim yang tertindas di Afghanistan, kebanyakan Syiah, telah menjadi martir. Rakyat Afganistan berharap peristiwa seperti ini akan berakhir dengan munculnya pemerintahan baru di Afganistan, namun ternyata musuh negara ini tidak ingin rakyat Afganistan bahagia.

Daesh telah mengklaim bertanggung jawab atas sebagian besar serangan ini, terutama serangan baru-baru ini di Kunduz. Selain siapa kelompok Daesh yang tidak dikenal di Afghanistan dan dari mana asalnya, pertanyaan yang lebih penting adalah apa konsekuensi dari insiden tersebut bagi Taliban, yang mati-matian mencari legitimasi dan membangun keamanan di Afghanistan sebagai pencapaian penting serta komunitas multinasional Afghanistan.

Serangan teror terhadap siswi di Kabul

Tak diragukan lagi saat ini ketika bayang-banyang penjajah telah hilang dari langit Afghanistan, tidak boleh lengah bahwa segala sesuatunya telah berjalan dengan benar. Karena jika pemerintah baru di negara ini tidak mengambil pelajaran dari masa lalu maka mereka akan lalai dari konspirasi musuh internal dan asing, serta mereka mengabaikan rekomendasi penting maka Afghanistan akan menghadapi periswita baru. Ini juga pesan yang disinggung Rahbar, Ayatullah Khamenei dalam peasnnya bertepatan dengan penarikan pasukan asing dari Afghanistan dan peringatannya kepada bangsa Afghanistan terkait konspirasi kekuatan besar global yang diusir dari negara ini dengan rasa malu.

Di peristiwa terakhir, keinginan rakyat Afghanistan dari Taliban adalah memperhatikan konspirasi dalam dan luar negeri, serta menjamin keamanan warga. Seperti yang disebutkan Ayatullah Khamenei di pesannya bertepatan dengan insiden Kunduz juga mengisyaratkan hal ini. Rahbar mengatakan, "Pejabat pemerintah tetangga dan saudara kita dari Afghanistan diharapkan dengan serius menghukum pelaku kejahatan besar ini dan mencegah terulangnya peristiwa seperti ini dengan mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan."

Taliban mengklaim memiliki kemampuan melawan Daesh secara independen dan tidak akan bekerja sama dengan Amerika di bidang ini. Wakil Taliban di PBB, Suhail Shaheen saat diwawancarai Associated Press (AP) mengatakan, Taliban secara independen akan memerangi kubu radikal termasuk Daesh di Afghanistan dan tidak berencana bekerja sama dengan Amerika Serikat di bidang ini. Ia menegaskan Taliban memiliki kemampuan secara independen untuk melawan dan memusnahkan Daesh di Afghanistan.

Posisi Taliban ini dianggap oleh para ahli di kawasan sebagai posisi yang bijaksana yang dapat mencegah lebih banyak konspirasi asing di Afghanistan, tetapi secara umum, para ahli percaya bahwa Taliban akan menghadapi kondisi dan tantangan yang lebih sulit di masa depan untuk memastikan keamanan warga Afghanistan. Tantangan-tantangan ini dapat diajukan baik oleh kelompok seperti Daesh atau oleh kelompok lain terhadap milisi ini, karena penentang milisi ini terdiri dari agen intelijen pemerintahan Mohammad Ashraf Ghani, juga dapat bertujuan untuk menyerang posisi Taliban dalam urusan pemerintahan dan menunjukkan ketidakmampuan pemerintah baru ini dalam menjamin keamanan dengan melakukan aksi-aksi ledakan berdarah.

Tamim Bahis, parar politik meyakini , "Para penentang rakyat Afghanistan yang  melakukan aksi-aksi teror tidak menginginkan rakyat negara ini hidup tenang. Kelompok ini mendapat berbagai dukungan ditingkat regional dan internasional, serta melancarkan aksi peledakan bom di pusat-pusat keagamaan dengan tujuan mengobarkan kekerasan antar-mazhab."

Malavi Naim Ul Haq Haqani, pengamat Afghanistan meyakini, "Kelompok teroris Daesh sebuah fenomena asing yang aktif untuk menimbulkan kesulitan bagi rakyat Afghanistan, dan kelompok ini menebar fitnah untuk menciptakan perpecahan di antara rakyat Afghanistan."

Meskipun Zabihullah Mujahid, jubir Taliban dan deputi Kementerian Kebudayaan menekankan bahwa operasi melawan Daesh telah dimulai dan kelompok teroris ini akan segera dimusnahkan, tapi milisi yang berkuasa di Afghanistan ini menghadapi tanggung jawab besar untuk menjamin keamanan warga khususnya kelompok minoritas agama dan mazhab. Mereka juga tidak seharusnya mengevaluasi orang-orang Afghanistan dari perspektif kelompok militan, tapi harus menganggap musuh setiap kelompok yang mengobarkan instabilitas bagi rakyat negara ini.

Serangan teror ke Masjid di Kunduz

Jika Taliban tidak mampu melawan kelomopok teroris dan menjamin keamanan rakyat Afghanistan, maka di masa depan mereka akan menghadapi beragam kesulitan dan dampak yang lebih besar. Selain itu, masyarakat internasional tidak akan mengakui Taliban sebagai kelompok yang bertanggung jawab di hadapan rakyat Afghanistan. Khususnya ketika Taliban menganggap jaminan keamanan di Afghanistan sebagai prestasi pentingnya serta berbicara mengenai pembentukan pemerintahan inklusif dan memberi hak kepada seluruh lapisan masyarakat Afghanistan.

Milisi ini juga harus waspada bahwa berlanjutnya serangan terhadap mazhab atau kelompok mazhab dari satu sisi dapat melemahkan kedaulatan mereka dan memperlambat pengakuan resmi milisi ini oleh dunia khususnya negara tetangga, serta dari sisi lain merusak atmosfer persaudaraan dan ukhuwah Islamiyah serta nasional rakyat negara ini. Jika hal ini terjadi, kendali kekuasaan di Afghanistan akan lepas dari Taliban dan negara ini akan mengalami kekacauan internal serta pada akhirnya legalitas dalam negeri Taliban juga akan dipertanyakan. (MF)

 

Tags