Des 28, 2016 12:11 Asia/Jakarta

Kota Aleppo setelah empat tahun lima bulan berada di bawah pendudukan kelompok teroris Takfiri akhirnya berhasil dibebaskan pada 13 Desember 2016. Pembebasan kota ini ternyata direaksi negatif dan penuh kekhawatiran oleh kubu anti pemerintah Suriah.

Aleppo sejak Juli 2012 dibagi menjadi dua wilayah, barat dan timur. Bagian barat Aleppo dikuasai oleh pemerintah Suriah sementara bagian timur berada di bawah pendudukan kelompok teroris. Pembebasan wilayah timur Aleppo dari pendudukan kelompok teroris, kini kota Aleppo sepenuhnya di bawah kontrol pemerintah Damaskus.

 

Posisi strategis Aleppo membuat pembebasan kota ini dinilai oleh mayoritas media sebagai kemenangan terbesar pemerintahan Bashar al-Assad dan kekalahan telak kubu anti Damaskus. Robert Fisk di artikelnya yang dimuat Koran The Independent menulis, media-media dukungan kubu anti Suriah menggunakan jumlah Aleppo Jatuh ke Tangan Militer Suriah ketimbang jumlah Aleppo Direbut dari Kubu Oposisi. Sementara di kasus Palmyra, media ini menggunakan jumlah perebutan kembali oleh Daesh, padahal menurut Fisk, jumlah sebenarnya yang harus dipakai adalah kota Palmyra jatuh ke tangan teroris.

 

Dalam hal ini, petinggi Barat dan Arab juga menunjukkan reaksi negatif atas kemenangan militer Suriah dan sekutunya di Aleppo. Bahkan Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Ban Ki moon di sidang 14 Desember Dewan Keamanan yang digelar atas inisiatif Perancis dan hanya selang sehari dari pembebasan Aleppo, di statemennya yang selaras dengan kebijakan kubu anti Suriah mengatakan, PBB menerima laporan penderitaan mengerikan warga sipil di Aleppo dan semua pihak harus mengerahkan upayanya untuk menghentikan pembantaian di Aleppo.

 

Pertanyaannya di sini adalah apa alasan dari reaksi negatif atas pembebasan Aleppo? Mengapa kubu anti Suriah secara transparan mengungkapkan kekhawatirannya atas pembebasan Aleppo? Prestasi apa yang bakal diraih pemerintah Suriah dan sekutunya dari pembebasan kota Aleppo, sehingga membuat kubu anti Damaskus sedemikian khawatir, khususnya Amerika Serikat?

 

Aleppo termasuk wilayah terpenting di Suriah dan selama perang antara pasukan pemerintah dan kelompok teroris, kota ini menjadi wilayah paling strategis. Aleppo terletak 310 km dari Damaskus dan hanya berjarak 54 km dari Turki. Teroris memanfaatkan wilayah perbatasan Turki untuk mengirim senjata dan pasukan ke Suriah serta meningkatkan aksi-aksi destruktif anti pemerintah Damaskus.

 

Dari sisi ekonomi, Aleppo merupakan jantung perekonomian Suriah dan pusat finansial negara ini. 60 persen pendapatan ekspor Suriah dan anggaran nasional diperoleh dari Aleppo. Oleh karena itu, teroris dan pendukungnya sangat memperhitungkan Aleppo, karena dengan menduduki kota ini, mereka akan mampu meningkatkan represi kepada Damaskus.

 

Sementara dari sisi militer, banyak instalasi dan sekolah militer yang dibangun di Aleppo. Akademi militer penting Suriah seperti Akademi al-Assad juga terletak di Aleppo. Di sisi lain, Aleppo juga menjadi gudang persenjataan Suriah. Poin lain yang tak kalah pentingnya adalah Aleppo merupakan jalur pengiriman senjata dan anasir teroris ke wilayah Suriah.

 

Salah satu instalasi militer yang berada di kota Aleppo adalah pangkalan helikopter Taftanaz di barat daya kota ini. Kamp militer al-Jarrah juga berada di sekitar Aleppo, akademi polisi Suriah terletak di barat Aleppo dan akademi militer menempati wilayah timur Aleppo. Sejatinya Aleppo lokasi pendidikan dan akademi militer Suriah, kecuali untuk angkatan laut.

 

Mengingat posisi penting ini, pembebasan Aleppo dari sisi internal memiliki dampak urgen bagi militer Suriah dan kubu anti Damaskus. Operasi al-Qusyr dan Yabroud di tahun 2013 berhasil menutup rute pengiriman senjata bagi teroris dari Lebanon dan Mediterania yang berujung pada pembebasan al-Qalamoon. Kini pembebasan Aleppo sebagai salah satu rute utama pengiriman senjata ke jantung Suriah dari perbatasan Turki, maka rute tersebut kembali tertutup.

 

Di sisi lain, dengan kemenangan militer Suriah di Aleppo, langkah berikutnya pasukan pemerintah adalah membebaskan wilayah-wilayah di sekitar Aleppo dan Damaskus serta pembebasan Idlib. Pembebasan Aleppo membuat teroris di Aleppo semakin terjepit. Robert Ford, dubes terakhir Amerika di Suriah meyakini bahwa pembebasan Aleppo memberikan kekuatan kepada militer Suriah membebaskan Idlib satu tahun kedepan.

 

Isu lain adalah pembebasan Aleppo juga sama halnya dengan meningkatnya legalitas dan popularitas Bashar al-Assad di Suriah dan kemampuan Assad dalam mengelola negara diakui serta perang kontra terorisme. Oleh karena itu, kemenangan perang di Aleppo juga menafikan prakarsa pemakzulan Bashar al-Assad. Selain itu, ambisi kubu oposisi memecah belah Suriah dan menjadikan Aleppo sebagai Benghazi kedua dengan sendirinya gagal. Dengan kemenangan di Aleppo, peluang mempertahankan kedaulatan dan keutuhan Suriah semakin besar.

 

Kemenangan di Aleppo juga memberikan dampak positif bagi warga di distrik Fuah dan Kafarya. Warga di dua distrik tersebut sejak dua tahun lalu hingga kini berada di bawah blokade teroris dan kondisi kemanusiaan di wilayah ini sangat mengenaskan. Pasca pembebasan Aleppo, pemerintah Suriah mencapai kesepakatan dengan teroris bahwa 5000 teroris di timur Aleppo yang dikepung militer dijinkan keluar dari wilayah ini hanya dengan membawa senjata pribadi dan meninggalkan senjata berat mereka. Sebaliknya kelompok teroris juga mengijinkan 1200 warga sipil Fuah dan Kafarya yang menderita sakit dan terluka keluar dari dua distrik tersebut. Kesepakatan ini juga terhitung sebagai kemenangan lain militer Suriah dan meningkatkan kepercayaan warga kepada mereka.

 

Salah satu dampak penting internal lainnya dari kemenangan militer Suriah di Aleppo adalah pengaruh positif kemenangan ini bagi militer, sekutu mereka serta warga negara ini. Sejatinya kemenangan militer Suriah di Aleppo dan operasi pembebasan Mosul di Irak ada hubungan dan kemenangan ini selain meningkatkan optimisme militer Suriah dan Irak menumpas teroris juga memperlebar friksi di front teroris. Kondisi ini kian mendekatkan kekalahan mereka baik di Irak maupun Suriah.

 

Sementara itu, untuk kawasan, pembebasan Aleppo juga mengindikaskan peningkatan kemampuan front muqawama dan kekahalan kubu pimpinan Arab Saudi yang cenderung berdamai dengan rezim Zionis Israel. Motode dan reaksi media Arab khususnya media Arab Saudi dan Qatar terkait kemenangan militer Suriah di perang Aleppo yang jelas-jelas menggunakan ibarat Aleppo Jatuh ke Tangan Pasukan Pemerintah menunjukkan bahwa negara tersebut mengakui kemenangan di Aleppo sebagai kemenangan front muqawama yang dipimpin Republik Islam Iran.

 

Selain itu, pengaruh kemenangan perang di Aleppo untuk tingkat trans-regional sama halnya dengan kemenangan Rusia terhadap Amerika Serikat. Rusia yang bersedia memberikan dukungan udara kepada militer Suriah di perang melawan teroris, pengaruhnya di tingkat global semakin tebal dengan kemenangan perang ini. Rusia selain memainkan peran signifikan di lapangan melalui dukungan udara kepada militer Suriah, di sektor politik dan khususnya di Dewan Keamanan PBB telah menveto lima kali resolusi anti Suriah selama lima tahun krisis Damaskus serta mencegah represi internasional dan mengikat Barat kepada pemerintah Suriah.

 

Ketika pembebasan Aleppo menjadi kemenangan besar bagi Rusia, di sisi lain, kondisi ini juga menjadi kekalahan strategis terbesar Amerika. Robert Fisk dalam hal ini menulis, Amerika berencana mengijinkan teroris Daesh meninggalkan kota Mosul menuju Suriah dan kembali menyerang pos-pos pasukan muqawama. Peristiwa beberapa hari lalu dan Daesh mampu kembali menduduki Palmyra. Bahkan seorang jenderal Amerika mengungkapkan kekhawatirannya ketika pasukan relawan rakyat al-Hashd al-Shaabi mampu mencegah keluarnya teroris dari Irak dan menuju Suriah.

 

Secara global, pembebasan Aleppo di tingkat dalam negeri akan mengubah konstelasi kekuatan dan menguntungkan pemerintah Suriah. Militer Suriah akan semakin kuat, dan sebaliknya teroris kian lemah. Kondisi ini juga dapat dicermati sebagai titik awal kehancuran fenomena buruk terorisme di Suriah. Namun kondisi ini sangat bertentangan dengan kepentingan dan strategi kekuatan regional seperti Arab Saudi dan kekuatan trans-regional.

Tags