Mar 16, 2020 12:38 Asia/Jakarta
  • Bioterorisme AS
    Bioterorisme AS

Luasnya geografi penyebaran wabah Ebola di Afrika menunjukkan bahwa virus ini menyebar di negara-negara seperti Guinea, Liberia dan Sierra Leone yang meski dikategorikan negara miskin, namun memiliki kekayaan alam yang besar dan telah membangkitkan ketamakan Amerika dari sisi ekonomi.

Selain itu, Amerika juga mencegah pengaruh ekonomi Cina dan Rusia di Afrika barat. Realitanya adalah perlombaan senjata dua kekuatan adidaya dunia, Uni Soviet dan AS selama era perang dingin, para ilmuwan mulai berpikir menggunakan virus dan wabah di senjata.

Namun masalahnya adalah mengapa meski lebih dari tiga dekade dari identifikasi virus ini serta satu dekade uji laboratorium untuk mempersiapkan vaksin melalui kera, di akhir 2013 wabah ini mulai menyebar di Guinea.

Republik Guinea dari satu sisi termasuk negara kaya dan dari sisi lain tercatat sebagai negara miskin di Benua Afrika. Negara ini dengan kepemilikan sepertiga cadangan biji utama aluminium, bauksit, menjadi produsen kedua bahan ini di dunia. Padahal industri aluminium termasuk industri penting dunia dan strategis di setiap negara.

Selain itu, Guinea juga memiliki cadangan emas, berlian dan besi. Bahkan di ibukota dan berbagai wilayah negara ini banyak disaksikan biji besi. Pendapatan terbesar negara Afrika barat ini diperoleh melalui penambangan besi. Dengan demikian diprediksikan akan ada investasi sebesar 50 miliar dolar selama sepuluh tahun di industri ini.

Terkait investasi ini, ada persaingan ketat dan serius antara AS dan Cina. Patut untuk dicatat bahwa Guinea juga memiliki potensi besar di bidang pertanian mengingat kondisi iklim, air dan tanah. Ekspor pertanian terpenting Guinea adalah kopi, biji-bijian, beras, pisang, kacang tanah dan madu. Dengan demikian negara-negara kaya memiliki perhatian khusus kepada negara-negara Afrika khususnya negara selatan sahara Afrika.

Dapat dikatakan bahwa negara-negara seperti Guinea, Liberia, Mali dan Sierra Leone yang menjadi pusat wabah Ebola menjadi tujuan tepat untuk bahan mentah dengan kualitas tinggi termasuk bauksit, tembaga, emas, besi dan lainnya. Liberia dan Sierra Leone termasuk negara kaya tambang bijih besi, berlian dan titanium.

Oleh karena itu, selain AS, Cina selama beberapa tahun terakhir memiliki pandangan khusus ke Benua Afrika. Dengan demikian, volume perdagangan Cina dengan Afrika dari 10 miliar dolar tahun 2000 meningkat menjadi 166 miliar dolar di tahun 2012. Ini membuat Cina menjadi mitra dagang utama Afrika. Kondisi ini membuat AS sangat khawatir.

Pandangan istimewa Beijing ke Afrika khususnya wilayah barat benua ini juga dipicu oleh cadangan 60 miliar barel minyak di kawasan ini. Mengingat eskalasi persaingan minyak, untuk keragaman sumber energi dan menjamin kebutuhan keamanan energi, pemerintah Barat khususnya pemerintah Amerika berusaha sebisa mungkin menjauhkan Cina mengakses kekayaan alam Afrika serta memonopoli kawasan ini. Di proses ini, Amerika menggunakan beragam sarana termasuk virus Ebola.

Mengingat manfaat ekonomi yang dimiliki AS untuk Ebola, tidak mengherankan bahwa selama 2014 dan 2015, pasukan AS bergerak ke Liberia dengan dalih memerangi Ebola atau mengerahkan pangkalan drone di lokasi-lokasi terpencil seperti Niger, Djibouti, Burkina Faso dan Sudan Selatan, dan dukungan intelijen AS untuk pasukan Perancis di Mali. Oleh karena itu, salah satu alasan upaya Washington untuk memperluas pengaruhnya di Afrika Barat adalah untuk mendapatkan akses ke sumber daya mineral yang melimpah dan untuk mencegah kekuatan Cina di wilayah tersebut.

Rencana AS untuk mendominasi Afrika diubah oleh pemerintahan George W. Bush melalui Menteri Luar Negeri Donald Rumsfeld. Saat itulah Cina ditemukan membuka jalan untuk masuk ke Afrika dan menggalang perjanjian perdagangan dan energi baru. Di antara perjanjian itu adalah perjanjian Cina dengan pemimpin Libya Muammar Gaddafi untuk meningkatkan perdagangan yang merupakan ancaman bagi hegemoni Barat di Libya. Pada Oktober 2011, tentu saja, Amerika Serikat mendanai gerilyawan  dan bersamaan dengan serangan NATO  mengakhiri hidup Gaddafi.

Setelah berita tentang wabah Ebola di Afrika Barat menjadi prioritas utama media, negara-negara di seluruh dunia mulai berpikir mengumpulkan dana untuk membuat vaksin. Negara-negara anggota Uni Eropa membayar 1,3 miliar dolar, pemerintah AS lebih dari 100 juta dolar, Australia 18 juta dolar, Inggris 80 juta Pound, dan perusahaan Microsoft 100 juta dolar kepada pusat-pusat penelitian medis AS seperti Massachusetts.

Hasilnya adalah Jurnal Medis Lancet di edisi 31 Juli 2015, mengutip Organisasi Kesehatan Dunia (WHO menkonfirmasi organisasi kesehatan Kanada telah berhasil mengembangkan vaksin Ebola. Menurut jurnal medis Lancet, vaksin telah diuji di negara yang terkena wabah Ebola di Guinea dan telah diuji pada sejumlah pasien dan hasilnya 100% berhasil mengendalikan wabah.

Dengan demikina, para pakar meyakini bahwa bahkan jika ada asumsi bahwa vaksin produksi perusahaan AS dan Kanada tidak sukses 100 persen menghilangkan Ebola, mengingat luasnya wabah ini di Afrika, pengumuman akan penemuan vaksin tersebut telah menciptakan pasar yang sangat menguntungkan bagi dua negara barat tersebut. Karena dari satu sisi, perusahaan AS dan Kanada mendapat bantuan internasional untuk memproduksi vaksi dan juga di sisi lain, mereka berhasil mengumpulkan sumber finansial besar dari lokasi penjualan vaksin.

Penyebaran Ebola telah membawa manfaat militer ke Amerika Serikat di samping manfaat ekonomi. Amerika Serikat juga telah mengerahkan pasukan untuk membantu mencegah wabah Ebola, menjaga perdamaian dan melindungi tim medis di Afrika Barat serta eksploitasi komersial Ebola. Faktanya, Amerika Serikat berusaha untuk mengeksploitasi krisis ini untuk menciptakan posisi yang kuat di benua Afrika untuk mengarahkan dan mengelola AFRICEM AS (AFRICEM), yang dibentuk pada 2008 untuk mengawasi operasi AS di sana.

Menggingat rencana AS untuk mengontrol Ebola (Operation United Assistance) dikontrol oleh pusat komando ini, wabah Ebola memberikan alasan yang baik untuk penempatan permanen ribuan tentara AS di negara seperti Liberia. Mantan Presiden AS Barack Obama mengumumkan pada 16 September 2014 bahwa sebuah Staf Gabungan akan dikerahkan di Liberia untuk mengoordinasikan dan mengawasi operasi bantuan AS. Tak lama kemudian, hal ini terealissi tanpa menimbulkan sensitivitas serius di opini publik. Faktanya, Liberia adalah negara terakhir dalam barisan panjang negara-negara Afrika di mana Amerika Serikat telah mengirim personil dan peralatan militer selama dekade terakhir.

Di tengah meningkatnya ancaman virus Ebola, Amerika Serikat mengumumkan pengerahan 4.000 personel militer ke wilayah tersebut dengan dalih memerangi Ebola dan membantu mempercepat bantuan di Afrika Barat. Pada musim gugur 2014, Obama mengirim empat ribu personel militer ke Afrika Barat dengan dalih membangun pusat medis. Kongres AS pada Desember 2014 juga menyetujui dana 5,48 miliar dolar (lima miliar empat ratus delapan puluh juta) untuk memerangi wabah Ebola di dalam dan di luar Amerika Serikat.

Dalam pidatonya, Obama menyebut pengerahan 4.000 tentara ke Afrika Barat "respons internasional paling penting dalam sejarah pendirian Pusat Pengendalian Penyakit Menular Amerika". Tetapi tidak secara eksplisit menyatakan secara persis misi apa yang mereka kirimkan ke Afrika Barat. Pengerahan itu terjadi pada saat yang menurut beberapa ahli, militer AS tidak memiliki pelatihan dalam bantuan medis, apalagi 4.000! Karenanya, sangat tidak mungkin bahwa militer akan dapat memerangi virus Ebola dan mengobati mereka yang terinfeksi. Sejatinya jika pemerintah AS ingin membantu meningkatkan Ebola, pemerintah harus mengirim empat ribu tenaga medis, kesehatan, dan medis ke Afrika Barat alih-alih empat ribu militer.

Selain kepentingan ekonomi dan militer, Gedung Putih juga mengejar kepentingan politik di Afrika. Oleh karena itu, AS berusaha untuk melemahkan dan menghilangkan para pesaingnya seperti Cina dalam kompetisi internasional. Sama seperti wabah SARS di Cina, sementara Barat berada dalam resesi, memperlambat pertumbuhan ekonomi, wabah Ebola juga mengurangi investor Cina dan menggantinya dengan perusahaan-perusahaan AS di Afrika.

Manfaat politik lain dari wabah virus Ebola untuk mesin kapitalis AS adalah penciptaan citra kemanusiaan negara di media global. AS telah mengerahkan tim medis terbatas bersamaan dengan publikasi luas di media internasional setelah Organisasi Kesehatan Dunia mengumumkan keadaan darurat dan krisis di Afrika. Pada saat yang sama, media Barat merilis berita tentang pengabaian Cina atas wabah Ebola di Afrika, mendorong Kementerian Luar Negeri Cina untuk menyangkal berita tersebut.

Tujuan penting lain diplomasi global Gedung Putih adalah meningkatnya popularitas AS di mata publik dunia termasuk Afrika, karena Washington menyadari bahwa legalitas dari diplomasi umum ini dapat merealisasikan ambisinya di dunia dengan harga murah. Sejatinya pemerintah Barack Obama dengan kedok misi kemanusiaan untuk melawan wabah Ebola berupaya untuk menciptakan posisi politik dan militer yang kuat di benua Afrika.

Sama seperti AS dan Kanada juga melakukan hal ini melalui vaksi Ebola. Kedua negara ini menolak menyerahkan vaksin buatannya kepada sejumlah negara yang tidak mengekor kebijakan mereka. Biaya penempatan pasukan AS di Afrika barat dengan dalih melawan Ebola tidak seberapa jika di banding dengan keuntungan politik, militer dan ekonomi Washington di Afrika. Wabah Ebola menyebabkan peningkatan pengaruh AS di transformasi negara-negara Afrika barat khususnya Guinea, Liberia dan Sierra Leone.

Menariknya, setelah kemunculan wabah Ebola di Texas, otoritas AS memerintahkan tim medis untuk memerangi virus di seluruh Amerika Serikat agar sepenuhnya waspada, tetapi hanya dalam menghadapi kematian beberapa ribu orang Afrika akibat Ebola, mereka fokus mengirim pasukan ke daerah itu. Washington tampaknya berupaya meningkatkan kehadiran militer, politik, dan ekonominya di Guinea, Liberia, dan Sierra Leone, dan untuk mencegah kehadiran Cina yang lebih luas di pertambangan dan memperluas perdagangan dengan negara-negara kaya Afrika.

Prosesnya bukan hanya tentang akses ke tambang, tetapi tentang investasi dalam infrastruktur, jalur kereta api, jalan, mengekspor mesin industri dan pertanian, menciptakan pertanian mekanis, mengambil alih perdagangan produk pertanian negara-negara ini telah membuka ufuk baru ekonomi Amerika.  Sejatinya dari sudut pandang strategi Amerika, penciptaan dan pemeliharaan pangkalan militer di daerah-daerah kaya di Afrika pada saat kampanye untuk pengembangan wilayah, dan fenomena kolonialisme dan protektorat, telah kehilangan legitimasi mereka di bawah tekanan opini publik dunia, melalui pembenaran kemanusiaan menanggulangi penyebaran penyakit menular hal ini dapat diwujudkan.

Sejatinya dapat dikatakan bahwa Barack Obama dengan dalih memerangi Ebola hanya mengerahkan militer Amerika ke Afrika, padahal yang dibutuhkan rakyat negara-negara yang dililit virus Ebola adalah tim medis yang ahli dan profesional. Dengan demikian analisa berbagai pakar independen termasuk Carig Hulet terkait rencana AS berkenaan hubungan Ebola dan Afrika adalah hal ini dimaksudkan untuk menguasai sektor ekonomi dan militer.

Dengan demikian ribuan pasukan Amerika telah diinstruksikan untuk menuju Afrika barat guna berpartisipasi di perang fiktif ini. Namun kita harus mengetahui bahwa senjata tidak mampu memberantas virus, tapi justru dokter dan tim medis, obat-obatan dan lembaga kesehatan Cina yang melakukannya. Media Afrika selama penyebaran Ebola dan sesudahnya mulai menyadari peran Amerika di pembuatan dan penyebaran virus mematikan Ebola untuk meraih ambisi kotornya mengurangi populasi Afrika.

Koran dan berbagai media Guinea selama penyebaran wabah Ebola meminta pemerintah dan pejabat negara menghalangi masuknya tentara Amerika ke negara mereka dengan dalih memerangi Ebola.

 

Tags

Komentar