Nov 10, 2020 16:39 Asia/Jakarta

Universitas Kabul, Afghanistan, bersamaan dengan pembukaan pameran buku Iran-Afghanistan, pada 12 Aban 1399 Hijriah Syamsiah atau 2 November 2020, menjadi sasaran serangan bersenjata.

Dewasa ini, di tengah semua penandatanganan kesepakatan negara-negara dunia terkait hak asasi manusia, namun sungguh disayangkan apa yang terjadi di lapangan adalah pemusnahan hak paling dasar manusia di berbagai belahan dunia. Hak hidup merupakan yang terpenting, dan terutama dari hak asasi manusia. Hidup adalah anugerah yang diberikan Tuhan kepada semua manusia, dan tidak ada seoranpun yang berhak mengambilnya.
 
Pasal 3 Deklarasi Universal HAM mengatakan, setiap orang berhak atas kehidupan, kebebasan, dan keselamatan sebagai individu. Pada Pasal 22 ditekankan tentang keamanan sosial. Meski keamanan merupakan hak, tapi kita mendengar pemberitaan media dipenuhi kabar perang, dan ketidakamanan di berbagai sudut dunia. Dewasa ini kawasan Timur Tengah yang merupakan wajah penindasan paling kentara, dan pelanggaran HAM paling parah, menyaksikan serangan teror ke Universitas Kabul di Afghanistan.
 
Pukul 11 pagi hari Senin, 2 November 2020 di tengah pembukaan pameran buku bersama antara Afghanistan dan Iran di Universitas Kabul, yang rencananya dihadiri oleh pejabat kedua negara, tiga penyerang bersenjata masuk ke kampus tepatnya di Fakultas Hukum, Universitas Kabul, dan memberondong para dosen dan mahasiswa yang tengah berada di sekitar kelas.
 
Akibat serangan teror itu, berdasarkan sejumlah laporan, 22 orang tewas, dan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani menyebut serangan teror ini sebagai kejahatan perang, dan ia mengumumkan hari Selasa (3/11/2020) sebagai hari berkabung nasional. Sebuah kelompok yang menamakan diri Khorasan, afiliasi Daesh mengaku bertanggung jawab atas serangan berdarah tersebut.

Syeikh Ahmad Sighani, mahasiswa jurusan ilmu sosial-arkeologi di Universitas Kabul mengatakan, pukul 11 pagi, kampus sedang dipenuhi orang. Beberapa mahasiswa sedang belajar di kelas, dan sebagian yang lain berada di halaman kampus. Tiba-tiba terdengar suara tembakan yang mengejutkan semua orang. Suara itu berasal dari arah utara kampus. Fakultas Hukum ada di sana.

 
Kami keluar kampus, tapi kami mendengar dari teman kami di Fakultas Hukum, tiga orang berseragam aparat keamanan masuk kampus. Mereka menuju lantai pertama, dan masuk ke kelas pertama yang ditemui. Saya tidak tahu berapa orang mahasiswa ada di dalam kelas itu. Mereka menembaki semua yang di kelas secara membabi buta. Tujuh mahasiswa gugur di kelas itu. Banyak yang mendengar suara tembakan dan lari keluar kelas.
 
Kemudian para penyerang menuju lantai dua, dan menyandera beberapa mahasiswa. Banyak mahasiswa yang lompat dari jendela, dan beberapa di antaranya meninggal dunia. Penyerang bersenjata akhirnya membunuh mahasiswa sandera, dan sama sekali tidak berbelas kasih kepada siapapun. Dalam serangan teror ini 22 mahasiswa gugur, dan 40 lainnya terluka.
 
Mahasiswa Universitas Kabul ini menambahkan, saya tidak mengenal dekat para mahasiswa ini. Hanya Muhammad Rahid yang saya kenal, ia aktif dalam politik kampus. Ia sangat berharap terhadap perubahan. Ia ingin Afghanistan sejahtera, dan maju. Cita-citanya Afghanistan damai, dan tenang.
 
Semua mahasiswa Afghanistan berharap negaranya damai, sejahtera, dan tenang, tapi kami belajar di kampus dengan segudang permasalahan untuk menyejahterakan negara kami. Nasib buruk apa yang menimpa kami. Daesh atau Taliban bagaimana mungkin memperbolehkan dirinya masuk ke sebuah lingkungan pendidikan, dan membunuh orang yang belajar di dalamnya.
 
Serangan Daesh ke Universitas Kabul merupakan peristiwa getir, dan menyedihkan bagaikan reruntuhan yang menimpa masyarakat yang selama bertahun-tahun memimpikan perdamaian. Para pengguna media sosial menyebarkan hastag Sayang ayah, dimanakah engkau ?, Universitas Kabul, dan Iran bersedih karena Afghanistan.
 
Salah satu netizen menulis, saya melihat layar telepon genggam mahasiswi tetangga saya, dan menyaksikan pesan ayahnya yang menelepon hingga 142 kali, dan di ujung pesan tertulis, sayang ayah, dimana engkau ? dengan berat saya katakan, untuk semua harapan besar ayah ini, dan ayah-ayah lain yang harapannya berubah menjadi darah di Universitas Kabul.
 
Alireza Ghazve, penyair, dan penulis Iran mengungkapkan kesedihannya sebagai berikut,
 
Apa salahmu sayang ? jujur, transparan dan benar ? Wahai engkau yang tidak menginginkan siapapun kecuali Tuhanmu
Demi tawa luka, dan hati yang hancur, syukur kepada Tuhan karena masih tenang, dan gembira
Kabul aku terluka ! tidak ada waktu untuk menangis, menangis dengan senyuman, lenyap dalam Tuhanmu
Kabul aku lelah ! pundak kami adalah pelindungmu, mata dan bahasa Farsi, cahaya dua mata kami
Kabul apa yang kau rasakan ? karena ulah anak-anak haram, Kabulku yang tanpa perlindungan, kiblat cinta, dan kebenaran
Anak perempuan syair Farsi, Kabulku, apa yang kau lakukan ? katakanlah sesuatu sayangku, sayang ayah, dimana engkau ?
 
Kelompok teroris Takfiri Daesh merupakan salah satu kelompok teroris yang paling tidak berpikir logis, paling kejam, dan paling patuh pada tuannya yang pernah ada di dunia sampai saat ini. Kejahatan yang biasanya dilakukan Daesh dalam perang untuk melakukan genosida, dan pembantaian etnis. Mungkin tidak ada tindak kekerasan paling rumit, bengis, dan luas seperti yang dilakukan Daesh atas nama Islam, agama yang merupakan manifestasi kasih sayang bahkan dalam berhadapan dengan non-Muslim.
 
Teroris Daesh yang mengambil ajaran menyimpang dari Islam, menunjukkan wajah bengis, dan ekstrem dari Islam kepada masyarakat dunia. Sumber berpikir Daesh yang berbeda dengan kelompok teroris lain, operasi teror anti-kemanusiaan, dan dukungan mazhab, politik dan militer beberapa negara Barat, dan Arab, membuat Daesh menjadi kelompok teroris kuat di satu atau dua dekade terakhir.  

Kelompok teroris ini lahir dengan dalih untuk mengembalikan kejayaan Islam, dan menerapkan pemerintahan dan khilafah Islam, namun kejahatan mereka sama sekali tidak sesuai dengan ajaran Islam. Mereka memenggal secara keji orang-orang yang menyakini keesaan Tuhan, Al Quran, dan kenabian Muhammad Saw, dan shalat ke arah kiblat umat Islam. Daesh dengan mudah menghilangkan nyawa orang, dan membantai Sunni dan Syiah secara berkelompok, padahal tidak ada satupun perkataan, tindakan dan Sunnah Nabi Muhammad Saw yang disebut Tuhan sebagai rahmat bagi seluruh alam, yang sesuai dengan tindakan mereka.

 
Teroris Daesh dengan membunuh, dan memenggal kepala orang-orang tak bersalah bermain dengan baik untuk kepentingan Zionis, penjajah Islam, dan musuh bebuyutan Islam, dan memanaskan tungku Islamfobia bagi musuh Islam dan Muslim. Kejahatan Daesh di Suriah, dan Irak sedemikian banyak, eksekusi 600 tahanan di Mosul, dan pembunuhan massal lebih dari 200 anggota suku Sunni di Provinsi Al Anbar, Irak, termasuk di antara kejahatan Daesh, dan sekarang serangan terhadap para pemuda yang sedang belajar di Universitas Kabul, Afghanistan, menjadi bukti lain kebodohan, dan pemikiran buta serta tertutup Daesh. 
 
Serangan ke pusat pendidikan, foto-foto perempuan dan laki-laki yang tenggelam dalam darah di dalam kelas, sekolah dan universitas, sama sekali sudah biasa bagi rakyat Afghanistan. Benar mereka berhadapan dengan serangan teror di tempat-tempat umum, jalan, pos polisi, kantor pemerintah, parkir kendaraan, tapi penumpahan darah di pusat pendidikan, tempat berkumpulnya para pemuda tanpa tendensi politik, tidak mendukung sayap politik, pemerintah atau non-pemerintah, teroris atau bukan teroris, mereka hanya belajar, jelas rakyat akan sangat terluka menyaksikan peristiwa semacam ini, sehingga kemarahan serta kebencian mereka terhadap teroris baik Taliban maupun Daesh, semakin besar.
 
Serangan teror ini pada hakikatnya menunjukkan kebencian para teroris, dan tuan-tuannya kepada kesadaran, dan pengetahuan. Universitas adalah tempat tumbuh dan berkembang. Dapat dikatakan serangan ke universitas realitasnya dilakukan untuk menghentikan proses pertumbuhan, dan perkembangan Afghanistan.
 
Terutama karena serangan teror ini dilakukan di saat digelarnya pameran buku. Serangan ini hakikatnya adalah balas dendam terhadap buku, pena, dan kertas yang menjadi media tulisan. Akan tetapi jelas bahwa mahasiswa Universitas Kabul tidak akan takut, dan mereka akan terus belajar untuk memajukan Afghanistan, dan meraih masa depan lebih cerah bagi generasi berikutnya, dan mereka akan menghancurkan sisa-sisa kelompok teroris binaan kubu imperialis dunia ini. (HS)

Tags