Jan 05, 2021 19:33 Asia/Jakarta
  • Covid-19
    Covid-19

Pandemi global virus Corona telah menciptakan krisis terbesar sejak beberapa dekade terakhir, dan menimbulkan banyak permasalahan di bidang ekonomi dan sosial di tengah masyarakat dunia. Tak ada yang dikecualikan, seluruh negara dunia secara bersamaan menghadapi dampak destruktif Covid-19.

Benua Amerika, disusul Eropa saat ini menjadi wilayah dunia yang paling parah terpapar wabah Covid-19. Amerika merupakan negara pertama dunia dengan jumlah tertular dan meninggal terbanyak akibat virus Corona. Hal ini memicu protes keras terhadap Presiden Donald Trump dan pemerintahan yang dipimpinnya karena dinilai lemah dan gagal mengontrol penyebaran wabah ini. Hingga akhir Desember 2020, jumlah warga Amerika yang terinfeksi Covid-19 mencapai sekitar 200 juta orang, sementara yang meninggal akibat virus ini menembus angka 350.000 orang.

 

Kelompok oposisi pemerintah Trump percaya bencana yang terjadi di Amerika saat ini disebabkan oleh kebijakan keliru, kelemahan pemerintah Gedung Putih dan sikap Trump sendiri yang meremehkan virus Corona sejak awal kemunculannya di Amerika. Trump tidak pernah melakukan tindakan yang realistis dan berpikiran jauh dalam menangani wabah Covid-19, ia justru menganggap remeh dan langkah penanganan yang dilakukannya terlambat. Ketua DPR Amerika, Nancy Pelosi awal Desember 2020 mengumumkan, korban jiwa akibat pandemi global Corona lebih besar bahkan dari korban Perang Dunia. Dampak yang ditimbulkan wabah Covid-19 mengguncang seluruh fondasi masyarakat Amerika.


Wabah virus Corona juga mengguncang perekonomian Amerika dan menyebabkan hilangnya sejumlah banyak lapangan pekerjaan di negara ini. Ekonomi Amerika memasuki sebuah krisis yang tidak pernah terjadi sebelumnya yang dianggap oleh para ekonom lebih buruk ketimbang krisis tahun 1930. Di bidang ekonomi, Amerika sekarang tengah berhadapan dengan krisis dan resesi ekonomi terbesar sepanjang sejarah negara itu, dan berbagai indikator ekonomi seperti tingkat pengangguran, penutupan tempat kerja, penurunan aktivitas produksi perusahaan dan yang lainnya, memberikan kerugian besar pada ekonomi Amerika.


Realitasnya, anjloknya perekonomian Amerika saat ini merupakan yang terburuk sejak PD II. Bank Dunia dalam salah satu laporannya di akhir Desember 2020 mengumumkan pertumbuhan ekonomi Amerika di tahun 2020 diprediksikan minus 6,1 persen. Pertumbuhan ekonomi minus besar semacam ini pernah dialami Amerika pada tahun 1946 pasca berakhirnya PD II, saat itu pertumbuhan ekonomi Amerika minus 11,6 persen. Di sisi lain media-media Amerika mengabarkan pada Desember 2020 tingkat pengangguran di negara yang dianggap memiliki ekonomi terkuat di dunia ini, dalam beberapa bulan terakhir mencapai lebih dari 40 juta orang.

 

Kondisi perekonomian yang terpuruk akibat wabah Covid-19 dan pengelolaan pemerintah Trump sekarang bahkan diperkirakan lebih buruk dari bulan-bulan sebelumnya. Di tahun 2020 mata uang dolar juga babak belur diterpa derasnya dampak wabah virus Corona, sehingga Bank Sentral Amerika, Federal Reserve atau The Fed terpaksa mencetak dolar di bawah tekanan. Nilai tukar dolar di hadapan mata uang lain di tahun 2020 rata-rata menurun 6 persen, sehingga tahun ini menjadi salah satu terburuk bagi dolar.

 

bursa saham Amerika

 

Sejak awal penyebaran wabah virus Corona di Amerika, angka kemiskinan dan jumlah tuna wisma di Amerika naik tajam. Surat kabar The Washington Post pada Desember 2020 mengutip hasil sensus baru menulis, dengan diputusnya paket bantuan finansial untuk orang miskin di tengah wabah Corona, angka kemiskinan dalam 6 bulan ke belakang di Amerika mengalami peningkatan, dan sejak bulan Juni 2020 sekitar 7,8 juta warga Amerika mengalami kemiskinan.

 

Departemen Perdagangan Amerika pertengahan bulan Desember 2020 mengumumkan tingkat usaha retail di Amerika pada November 2020 menurun sebanyak 1,1 persen dan karena Covid-19, pendapatan keluarga-keluarga Amerika juga menurun. Penurunan usaha retail dan menurunnya pendapatan keluarga Amerika menjadi indikasi pemulihan ekonomi negara ini berjalan lambat.


Senator independen Amerika, Bernie Sanders di akun Twitternya menulis, ekonomi Amerika korup, dan seiring dengan meningkatnya kemiskinan mayoritas masyarakat negara ini, kondisi kelas kaya di Amerika setiap hari semakin baik. Selain itu jumlah warga yang tidak bisa mendapatkan makanan cukup juga mengalami peningkatan. Biro Sensus Amerika melaporkan, 26 juta warga Amerika tidak bisa mendapatkan makanan yang cukup, dan di antara mereka jumlah warga kulit hitam yang kelaparan, dua kali lipat dibandingkan keluarga warga kulit putih. Dari setiap 6 keluarga Amerika yang memiliki anak, salah satu dari mereka tidak mampu mendapatkan makanan yang cukup.

 

Hingga kini bantuan-bantuan pemerintah tidak berhasil memenuhi seluruh kebutuhan kelas masyarakat miskin Amerika ini. Wakil Presiden Pusat Prioritas Kebijakan dan Anggaran, untuk Kebijakan Bantuan Pangan Amerika, Stacy Dean mengatakan, kesulitan ini mengalami perluasan yang signifikan. Sejumlah banyak warga Amerika mengaku tidak bisa memenuhi kebutuhan makanan keluarga mereka.


Ketua Komisi Informasi DPR Amerika, Adam Schiff mengabarkan peningkatan jumlah warga Amerika yang mengajukan permohanan mendapatkan makanan gratis pada tahun 2020, dan ia memprotes Ketua partai mayoritas di Senat, Mitch McConnell karena tidak membantu orang-orang itu. Di akun Twitternya Adam Shiff menulis, hari bersyukur tahun ini, puluhan ribu warga Amerika berdiri di antrian panjang bank-bank makanan di setiap daerah yang memakan waktu lama.

antrian warga Amerika di bank makanan

 

Menurut data yang diunggah situs oganisasi non-profit Feeding America, bank-bank makanan di seluruh Amerika sejak awal Maret hingga akhir Oktober 2020 membagikan 4,2 miliar paket makanan. Bernie Sanders berulangkali menyinggung kelaparan di Amerika, dan memprotes sikap Trump yang sama sekali tidak menganggap penting masalah tersebut.


Benua Eropa di tahun 2020 mengalami dampak yang sangat besar akibat wabah Covid-19. Munculnya varian baru virus Corona di Inggris yang tingkat penyebarannya 9 kali lipat lebih cepat dari Covid-19, menunjukkan sepertinya kondisi saat ini masih akan berlanjut. Uni Eropa akan membagikan vaksin Corona ke seluruh negara anggotanya, dengan harapan bisa mengatasi wabah Covid-19 di tahun 2021.


Uni Eropa sudah membeli 2 miliar dosis vaksin Corona dan hingga tahun 2021, seluruh warga dewasa di benua ini akan divaksinasi. Di antara negara Eropa ada lima negara dengan angka kematian tertinggi akibat Covid-19 secara berurutan Inggris, Italia, Prancis, Spanyol dan Rusia. Data resmi menunjukkan jumlah warga yang terinfeksi virus Corona di Eropa mencapai lebih dari 25 juta orang, sementara korban jiwa melewati angka setengah juta orang. Namun dengan memperhatikan penyebaran Covid-19 di Inggris, nampaknya jumlah korban jiwa akibat virus ini di Eropa akan terus bertambah.

 

Pemerintah negara-negara Eropa berharap bisa menekan tingkat penyebaran virus Corona dengan menerapkan pembatasan ketat dan melakukan vaksinasi di seluruh Eropa, namun seiring ditemukannya varian baru virus Corona di Inggris, dan penyebarannya ke seluruh Eropa, situasi kembali memburuk. Hal ini begitu membuat pemerintah Eropa cemas sehingga mendorongnya kembali menutup perbatasan Schengen, meski melanggar konstitusi Eropa dan tanpa kesepakatan apapun.
Wabah virus Corona di Uni Eropa telah menyebabkan kesenjangan di antara negara-negara Eropa meningkat tajam.

 

Pejabat Uni Eropa menyadari urgensi permasalahan akibat pandemi global Corona, dan berusaha mengatasinya. Kanselir Jerman, Angela Merkel menganggap wabah virus Corona sebagai masalaj terbesar yang dihadapi Uni Eropa sejak berdirinya. Realitas pahit yang harus dihadapai oleh sebagian besar negara di tengah pandemi adalah masing-masing negara anggota berjala sendiri-sendiri tanpa memperhatikan langkah bersama Uni Eropa untuk menangani Covid-19.

 

Salah satu dampak pandemi ini adalah semakin jelasnya kelemahan Uni Eropa terutama dalam menghadapi krisis-krisis tak terduga semacam ini. Pada kenyataannya, hal ini membuktikan bahwa di hadapan krisis parah dan tak terduga, aturan Uni Eropa juga runtuh. Sekarang jelas jargon Uni Eropa yaitu “bersatu di tengah perbedaan” dan “bekerjasama mewujudkan perdamaian dan kesejahteraan”, akan tetap dipegang selama keamanan nasional dan perekonomian masing-masing negara anggota tidak terganggu.


Berlanjutnya krisis Corona di Eropa, dan meningkatnya kekhawatiran akibat dampak wabah ini terhadap ekonomi dan politik, berhentinya akitivitas perusahaan dan produksi, resesi ekonomi, meningkatnya angka pengangguran, juga prediksi krisis ekonomi besar dan urgensi pengambilan kebijakan serta perencanaan untuk menghadapi krisis, telah memperlebar jurang perbedaan di antara pejabat Eropa. Ekonomi adalah masalah utama dalam krisis Corona, dan negara-negara Eropa mencemaskan masa depan mereka. Krisis ini menyebabkan pengangguran pada puluhan juta warga Eropa. Di bulan Juni 2020 lebih dari 15 juta orang di seluruh Eropa kehilangan pekerjaan.


Sebelumnya diperkirakan bahwa Uni Eropa akan menghadapi krisis identitas pasca keluarnya Inggris atau Brexit, namun wabah virus Corona yang telah merusak konstelasi, membuat Uni Eropa harus berhadapan dengan lebih banyak masalah yang dampaknya sampai sekarang masih belum bisa diketahui. Sebagai contoh, wabah Covid-19 di pertengahan awal tahun 2020 menyebabkan industri otomotif Eropa mengalami kerugian hingga 90 miliar euro.

Covid-19 di Eropa

 

Kantor Statistik Federal Jerman mengumumkan dalam kuartal kedua tahun 2020, ekonomi Jerman mengecil hingga lebih dari 10 persen. Industri pariwisata Eropa yang memberikan sumbangan 10 persen ke Produk Domestik Bruto, PDB, dan membuka 15 persen lapangan pekerjaan bagi negara-negara anggota Uni Eropa, dikarenakan wabah virus Corona, mengalami kerugian besar, dan sedikitnya 75 juta lapangan kerja hilang. 

 
Lebih dari itu, kekhawatiran tentang masa depan Eropa semakin besar. Kekhawatiran terbesar adalah bantuan ekonomi, estimasi kerugian ekonomi pasca Corona dan tidak adanya solidaritas negara-negara Eropa pasca pandemi. Hal ini semakin menggoyahkan fondasi Uni Eropa yang sebelumnya sudah rapuh karena isu multilateralisme dan kebijakan terpusat, serta kerja sama dan solidaritas semua anggota.

 

Sejumlah negara anggota Uni Eropa beranggapan bahwa kebijakan negara-negara kuat semacam Jerman dan Prancis telah memperlebar kesempatan bagi kelompok kanan ekstrem untuk beraktivitas, dan memperluas propaganda ide pemisahan diri negara-negara Eropa seperti Italia, dan Spanyol dari Uni Eopa. Hal ini menjadi ancaman potensial bagi Eropa dalam beberapa tahun terakhir.


Mantan Menteri Luar Negeri Jerman, Joschka Fischer dan Sigmar Gabriel telah memperingatkan bahaya keruntuhan Uni Eropa akibat wabah virus Corona, dan penyalahgunaan yang dilakukan kelompok sayap kanan ekstrem untuk mencapai ambisinya. Pandemi global Covid-19 diprediksi akan mempercepat keruntuhan demokrasi Barat di Eropa yang sebelumnya memang sudah dianggap sangat rentan.

 

Dalam beberapa tahun terakhir Eropa dilanda berbagai permasalahan seperti krisis imigran, pertumbuhan gerakan, partai politik, dan politikus sayap kanan, bertambahnya penduduk berusia tua, dan krisis ekonomi, semua masalah ini menggoyahkan fondasi Uni Eropa. Ketidakmampuan Uni Eropa menangani secara efektif wabah virus Corona, membuka kemungkinan pecahnya kekacauan di benua ini dan awal hancurnya konvergensi Eropa. (HS)

Tags